Category Archives: Saya, Saya, dan Saya

Cukup Satu Perih

Sekitar sebulan sekian yang lalu, Biyan jatuh dan kemudian bagian lututnya perlu dijahit sekitar 9 jahitan. Lumayan panik waktu itu karena darahnya ke mana-mana banget, dan kejadiannya di tempat ngopi di Lembang, yang mana pas long weekend macetnya lagi gila-gilaan. Sempat khawatir nggak bisa cepat sampai rumah sakit atau klinik, untungnya berjarak 7 menitan saja ada klinik dengan IGD jadi bisa langsung tindakan saat itu juga.

IMG_1928

(ini ilustrasi waktu dia jatuh, katanya digambar karena bosan menjelaskan sama orang “gimana jatuhnya, Biyan?”)

Sebetulnya Biyan itu anaknya emang agak (terlalu) sering jatuh karena pada dasarnya nggak bisa diem dan agak clumsy. Jatuh, nabrak orang, nabrak meja, kesenggol segala macam sih udah biasa. Yang kemarin itu bikin panik karena baru sekali ini sampai harus dijahit (semoga ini terakhir kali!), dan liat sendiri kulitnya lepas dan udah mulai keliatan bagian di balik kulitnya. Hadeh.

Pendek cerita, setelah dijahit (pake sedikit drama teriak histeris pas disuntik), pulang ke rumah dengan kaki berbalut perban. Nah berhubung lukanya di bawah lutut, si dokter udah pesan duluan, katanya kering atau sembuhnya akan agak lebih lama dibanding luka di tempat lain karena persis di bagian yang sering bergerak. Ya sudahlah pasrah mesti ganti-ganti perban setiap hari selama lebih dari dua minggu. Ditambah lagi saat itu kita udah ada rencana mau pergi ke Toraja. Mengingat areanya kayaknya ga mudah cari klinik, maka sebelum pergi saya kursus singkat pada si dokter bagaimana membersihkan luka dan memasang perban dengan baik. Untungnya saat itu udah bawa-bawa Hansaplast Spray Antiseptik, produk baru dari Hansaplast yang penggunaannya mudah banget cuma tinggal srat sret semprot pada luka lalu tutup pake perban (waktu itu masih pakai perban karena lukanya masih cukup lebar). Praktis banget ya pergi traveling bawa Hansaplast Spray Antiseptik ini, kemasannya nggak terlalu besar, dan yang penting nggak suka bocor-bocor dalam tas sampe mengotori barang lain.

PHOTO-2018-11-01-21-16-57_1.jpg

Tiga hari setelas lepas jahitan, dokter menyarankan untuk laser bekas lukanya. Beres laser, tadaaa luka pun kering mama pun senang.

Tapi seharusnya mama jangan senang dulu.

Karena tiga hari setelah laser, anaknya jatuh lagi karena main bola. Baiklahhhh, kembali ke rutinitas membersihkan luka dengan Hansaplast Spray Antiseptik. Kali ini karena lukanya sudah lebih kecil dari sebelumnya, maka tak perlu pake perban lagi, tinggal tutup aja pake Hansaplast Jumbo. Kalau waktu kecil kita diajarin untuk tidak menutup luka agar cepat kering, ternyata itu juga mitos Bun. Karena menurut Dr. Adisaputra Ramadhinara, Certified Wound Specialist Physician, seorang dokter spesialis luka bersertifikasi satu-satunya di Indonesia, penyembuhan luka justru terjadi secara optimal dalam keadaan lembab, dengan catatan harus rajin membersihkan luka sebelum mengganti plester yes.

PHOTO-2018-11-01-21-16-57

Sudah selesai?

Belummmm. Sejak jatuh sehabis laser itu masih ada 3 kali jatuh lagi sampai hari ini. Ada yang karena kesenggol teman jatuh di sekolah, ada yang keserimpet kaki sendiri kemudian jatuh, ada juga yang “aneh deh kenapa sih aku bisa jatuh padahal lagi jalan biasa aja loh nggak lari-lari”.

Untungnya (masih aja untung mam), ngobatin luka kali ini udah ga pakai drama. Udah nggak ada tuh teriak-teriak sakit karena lukanya sakit pas kena obat. Jadi saya pun nggak usah berdalih lagi “kalau sakit artinya obatnya lagi bekerja”, karena ternyata ini cuma mitos saja sodara-sodara. Lalu kok bisa sih obat antiseptik nggak bikin perih? Karena kandungan Hansaplast Spray Antiseptik ini adalah Polyhexamethylene Biguanide, zat antiseptik yang banyak digunakan oleh para dokter di rumah sakit karena efektif dalam mengatasi infeksi, tidak perih, tidak meninggalkan noda dan tidak berbau. Drama cukup sekali saat disuntik untuk mati rasa sebelum dijahit yang mana yaiyalah pasti sakit banget ya.

PHOTO-2018-11-01-21-16-57_4

Drama juga minim karena Hansaplast Spray Antiseptik ini tidak berwarna macam obat merah dan tidak juga berbau. Jadi nggak repot lagi bersihin bekas-bekasnya dan nggak khawatir lagi tumpah-tumpah mengenai barang-barang di tas. Plus ga usah nahan bau tak enak khas obat antiseptik jaman dulu itu. Triple happy karena Biyan bilang obat yang ini #GakPakePerih.

Satu lagi, kebiasaan saya setiap anak luka adalah mengamati lukanya karena khawatir ada nanah atau apa. Sejak pakai Hansaplast Spray Antiseptik, saya nggak sulit lagi membedakan mana nanah dan mana bekas obat, ya karena Hansaplast Spray Antiseptik ini transparan nggak berwarna. Dokter juga jadi lebih mudah mengamati kondisi kulit pasca luka.

Jadi buibuk, mulai sekarang sedialah Hansaplast Spray Antiseptik di rumah, di mobil, kalau perlu di dalam tas! Karena namanya anak-anak, ada aja jatuh-jatuhnya di saat-saat nggak terduga. Kali ini kan nggak perlu khawatir botolnya bocor dan mengotori barang di tas toh? ☺

PHOTO-2018-11-01-21-16-57_2

9 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Kampung Kaleng yang Bukan Cuma Bikin Kaleng

Waktu pertama kali mendengar nama Kampung Kaleng, saya kira ini kampung yang berisik. Namanya juga kaleng, kan suka bikin berisik. Ternyata salah duga. Kampung yang berlokasi di Kampung Dukuh, Citeureup disebut Kampung Kaleng karena merupakan sentra industri kerajinan berbahan dasar kaleng/alumunium. Kampung ini juga merupakan desa mitra PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (“Indocement”) Produsen Semen Tiga Roda dan Semen Rajawali, makanya kemarin itu saya dan beberapa teman blogger diundang ke sana untuk melihat langsung proses pembuatan kerajinan berbahan dasar kaleng/alumunium. Misalnya nih ya; toples mini, oven, panci, dandang, sampai kaleng kerupuk pun ada. Aneka produk industri besar juga diproduksi di sini seperti ducting AC, tempat sampah, rambu-rambu dan masih banyak lagi. Kunjungan yang menarik karena saya belum pernah lihat langsung pembuatan barang-barang berbahan kaleng begini. Lalu saya pun tergoda jajan kaleng kerupuk mini ini. Rencananya untuk menyimpan koleksi gelang saya yang jumlahnya mengalahkan toko aksesoris itu.

ORG_DSC07321

IMG_4893

Sebagai mitra yang berkomitmen untuk memajukan perajin di Kampung Kaleng, pada tahun 2015 Indocement menginisiasi pendirian koperasi untuk menaungi para perajin ini. Namanya Koperasi Rancage, saat ini anggotanya sudah ada 120 perajin, dan tersebar tidak hanya di Kampung Kaleng saja tapi sampai seluruh Kecamatan Citeureup.

DSC07326.JPG

 

DSC07324

Seorang local hero kemudian lahir di tengah pendirian dan kemajuan koperasi ini. Dia adakah Dedi Ahmadi (kemudian dikenal dengan nama Dedi Rancage), seorang perajin yang membantu menyatukan para perajin yang sebelum ada koperasi dulu, terpecah karena persaingan harga yang tidak sehat di antara para perajin sendiri. Atas prestasinya ini, Kang Dedi Rancage kemudian diaugerahi penghargaan Satya Lencana Pembangunan dan Bakti Koperasi yang diserahkan langsung oleh Menteri Koperasi dan UMKM, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga. Saat kami berkunjung ke sana kemarin, Kang Dedi dengan bangga mengenakan dan memperlihatkan medalinya pada kami semua. Terus kita jadi ikut senang dan bangga, padahal baru aja kenal. Sayang waktu itu nggak sempat mengajak Kang Dedi foto bersama karena beliau sedang menerima serombongan teman-teman mahasiswa yang juga lagi kunjungan ke Kampung Kaleng. Pokoknya hari itu, Kampung Kaleng ramai sama tamu deh

Dari Kampung Kaleng kemudian kami diajak ke P3M Indocement yang juga berlokasi di Citeureup. P3M ini singkatan dari Pusat Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat. Seperti P3M yang pernah kami kunjungi di Cirebon, di P3M Citeureup juga dilakukan training dan pembinaan masyarakat sekitar dalam bidang perikanan, peternakan, perkebunan, dan energi bersih.

Di bagian perikanan, ada 2 macam ikan yang dibudidayakan; ikan yang dikonsumsi, dan ikan hias.

IMG_4894

Ikan yang dikonsumsi ada di tambak dan ikan hias ada di ruangan berisi akuarium. Uniknya, di bagian ikan hias ada ikan belida, yaitu ikan yang biasa jadi bahan pempek. Dikategorikan dalam ikan hias karena ekornya bercorak polkadot, cantik sekali.

Di bagian perkebunan kemudian kami diajak melihat kebun melon. Sebagai penggemar melon, saya baru sadar kalau saya ternyata belum pernah melihat wujud pohon melon. Jadi baru kemarin sekali itu liat yang namanya melon masih tergantung di pohonnya. Namanya blogger doyan foto, dikelilingi pohon melon kemudian semua ingin foto-foto. Baiklah tak apa-apa.

 

P3M di Citeureup ini berlokasi di area reklamasi paska tambang. Jadi karena selalu berkomitmen untuk menjaga lingkungan hidup di area pabriknya, Indocement kemudia melakukan reklamasi terhadap 10 hektar area paska tambang di sana. P3M ini juga kemudian menjadi pusat eduwisata bagi anak-anak masyarakat sekitar. Anak-anak SD dan TK diajak mengenal langsung bagaimana beternak kambing, burung puyuh, dan domba. Tapi rupanya bukan cuma anak-anak yang suka bermain dengan kambing domba. Mbak Terry Negeri Kita Sendiri juga tak tahan ingin ikut gendong bayi kambing berumur 5 hari ini. Tak jarang P3M ini juga dijadikan pusat pelatihan dan studi banding mahasiswa.

Selalu ada yang menarik dari setiap kunjungan kami ke Citeureup. Sebelum ke Kampung Kaleng dan area P3M, saya memarkirkan mobil di Mesjid As Salam, tak jauh dari gerbang tol Citeureup. Rupanya mesjid ini juga adalah komitmen Indocement untuk menjadi perusahaan yang berguna bagi masyarakat sekitarnya.

1 Comment

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Kelapa Sawit si Primadona

Mengunjungi Pangkalan Kerinci membuat saya mengingat sebuah pelajaran jaman SD dulu: transmigrasi. Kalau umur kamu nggak jauh-jauh dari umur saya, kamu tentu ingat bagaimana di sekolah belajar soal program pemerataan penduduk dari pemerintah; karena Pulau Jawa semakin padat maka warga ditawari untuk pindah ke luar pulau dan diberi tanah untuk dijadikan ladang usaha mereka.

Continue reading

2 Comments

Filed under jalan-jalan, Saya, Saya, dan Saya, traveling

Menengok si APRIL ke Pangkalan Kerinci

Pergi ke tempat baru selalu jadi hal yang menyenangkan buat saya. Apalagi kalau tempatnya membuat muncul pertanyaan semacam “mau ngapain sih ke sana?” “apa sih yang mau dikerjain di sana?”. Karena artinya, tempatnya nggak pasaran dan ada hal menarik yang memang bisa dikerjakan di sana.

Karenanya saat saya mendapat undangan untuk berkunjung ke Pangkalan Kerinci di Riau, saya langsung mengiyakan dengan rasa penasaran “apa sih yang bisa dilihat di sana?”

Continue reading

1 Comment

Filed under jalan-jalan, Kerja, kerjaan, Saya, Saya, dan Saya, traveling

Solo : Tumurun – Private Museum yang Bikin Berdecak

Berkunjung ke museum seni tadinya tak pernah ada dalam list saya. Tapi belakangan, anak saya, Biyan lagi senang menggambar dan saya ingin mengajak dia melihat lukisan/gambar/instalasi seni apapun supaya dia lebih banyak referensinya. Karenanya ketika kami liburan ke Solo baru-baru ini, saya memasukkan Tumurun Private Museum dalam list tempat yang perlu kami kunjungi.

Mungkin belum banyak yang pernah mendengar soal Tumurun. Museum ini memang baru dibuka April 2018. Promonya dari media yang pernah diundang ke acara soft opening pertama mereka dan dari pengunjung yang kemudian posting di akun social media. Pertanyaan yang paling banyak saya terima waktu saya post di Instagram Story soal Tumurun adalah “berapa harga tiket masuknya?”

Continue reading

12 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Local Hero = Super Hero

Bukan pertama kali saya mengikuti kegiatan menengok area di mana PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (“Indocement”) melaksanakan kegiatan CSR-nya. Saya bersama teman-teman blogger lain pernah diajak ke objek wisata Bayu Panas dan menengok Kampung Batik Ciwaringin di Cirebon. Di objek wisata Bayu Panas, Indocement membantu melengkapi fasilitas di sana agar dapat mengundang lebih banyak wisatawan dan menghasilkan pendapatan tambahan bagi kas pendapatan daerah. Kemudian Indocement juga membantu pengembangan Batik Ciwaringin agar lebih banyak dikenal masyarakat. Dari penyediaan modal, pelatihan, pembentukan koperasi sampai pembuatan patennya. Kemudian di Citeureup, kami diajak melihat bagaimana Indocement berupaya menjaga kelestarian alam di area eks tambang, juga membantu pengelolaan sampah rumah tangga sehingga menjadi aneka barang yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. 

Kalau boleh jujur, kunjungan terakhir ke Desa Jati Endah Kecamatan Cilengkrang beberapa hari lalu adalah kunjungan paling menarik dan membuat decak kagum. Bukan karena lokasinya yang nggak bikin saya harus menyetir jauh-jauh ke Citeureup atau berkereta ke Cirebon kok, tapi lebih ke semangat penduduk Desa Jati Endah yang menyambut kami dengan senyum hangat dan segudang cerita. Juga pastel, pisang molen, kue mangkok, tahu bulat dan lain-lain. 

IMG_5527.JPG

Continue reading

5 Comments

Filed under jalan-jalan, kerjaan, Saya, Saya, dan Saya

Legian ; 15 Tahun Lalu & Sekarang

Salah satu kenangan yang paling menyenangkan dan melekat adalah saat alm ayah saya mengajak kami sekeluarga road trip ke Bali. Waktu itu rasanya belum ada yang namanya gaul-gaul di Seminyak, Batu Belig, apalagi Canggu. Ke Bali ya ke Kuta. Nginepnya ya di Legian.

Reminiscing the good old days, waktu terakhir ke Bali kemarin saya menyempatkan diri untuk menginap di Legian. The ONE Legian langsung jadi pilihan saya secara lokasinya strateheis, ada di tengah-tengah keramaian Legian.

Lalu apa perbedaan Legian 15 taun silam dan Legian sekarang?

Continue reading

2 Comments

Filed under hotel review, jalan-jalan, Saya, Saya, dan Saya, traveling

7 Kegiatan Asik Yang Bikin Pengen Pindah Rumah ke Wuyishan

Pagi ini saya baru saja menghabiskan bungkusan teh terakhir yang saya bawa dari Wuyishan, sebuah kota kecil berjarak 3 jam perjalanan dengan kereta cepat dari Xiamen. Iya, kunjungan kesana kemarin masih dalam rangkaian perjalanan #XiamenFamTrip bersama Xiamen Airlines.

Kereta yang membawa kami ke Wuyishan berangkat dari Xiamenbei jam 08.57 pagi. Begitu sampai di stasiun saya dan teman-teman cukup terpesona dengan besar dan bersihnya stasiun ini. Semuanya rapih pun, signage pun lengkap, besar-besar, pokoknya informatif. Ticketnya bisa dibeli online sekitar H-7 sebelum perjalanan dan supaya pasti kebagian memang sebaiknya book online daripada go show.

IMG_8393

Keretanya juga cakep banget. Semua tempat duduk bernomor sesuai yang tertera di ticket. Naik kereta yang dingin selama tiga jam tentu saja membuat saya laper. Pedagang makanan bolak balik menawarkan nasi kotak yang harum banget. Tentu saja saya tergoda. Akhirnya beli. Pas buka plastik, ternyata kereta tiba di Wuyishan. Akhirnya keluar stasiun menggeret koper sambil membawa nasi kotak. Untung enak banget, tak sia-sia susah-susah membawanya ke bis 🙂

IMG_9116

Tiba di Wuyishan, saya dan beberapa teman mulai rewel cari tempat ngopi. Walaupun bukan penggemar berat kopi, tapi duduk di coffee shop kayaknya sudah jadi kebiasaan saya. Tapi Pak Thomas, guide kami yang helpful dan baik hati itu bingung pula menanggapi pertanyaan kami,

Pak Thomas : “Tempat ngopi yaaa….hmmmm di mana yaaa. Kalau di Xiamen sih ada Starbucks, kalau di sini hmmm aduhh ga ada”

Saya : “Jangan Starbucks Pak, kita maunya kedai kopi local atau coffee shop lah gitu”

Pak Thomas : “aduh saya belum pernah lihat”

Lalu kalau nggak ada coffee shop, di Wuyishan ngapain dong?

Continue reading

1 Comment

Filed under jalan-jalan, life, Saya, Saya, dan Saya, traveling

Tijili Tanjung Benoa : Ide Bagus Untuk Liburan di Bali

Segitu sering bolak-bali ke Bali, sudah cukup lama saya nggak pergi ke area Tanjung Benoa. Pernah sekali karena nyasar, kemudian belum ada kesempatan untuk kembali ke sana lagi. Padahal pantai di Tanjung Benoa lumayan menyenangkan untuk berjemur, main air, dan tentu saja watersport kan ya. Kata orang, begitu mendengar kata “Benoa”, yang teringat pasti watersport.

Akhirnya kemarin saya memutuskan untuk menghabiskan malam di Tanjung Benoa. Kebetulan ke Balinya bawa Biyan pula, dia pasti senang kalau diajak menginap di hotel yang beach front.

Karena kadung jatuh cinta dengan Tijili Seminyak yang beberapa kali saya inapi, maka pas mau ke Tanjung Benoa, Tiji Benoa tentu saja jadi pilihan utama saya. Selain suka dengan konsep hotel dan designnya, saya suka kehangatan yang selalu saya rasakan di Tijili. Begitu sampai, langsung hasrat foto-foto dong ya

SAMSUNG CSC

Continue reading

4 Comments

Filed under Family, hotel review, jalan-jalan, Saya, Saya, dan Saya, traveling

“Yang Nggak Asik Itu Kalau Mengeluh Gendut Terus-terusan” 

Semalam sebelum tidur seperti biasa saya dan Biyan, anak saya satu-satunya yang umurnya 10 tahun itu ngobrol kesana kemari. Istilahnya pillow talk, kata anak-anak muda jaman now.

Seperti biasa pula saya mengeluhkan berat badan saya yang naik mulu tanpa terkontrol. Sebagai informasi, setelah berhenti kerja kira-kira dua tahun lalu timbangan saya memang naik sekitar 6-7kg. Lumayan drastis dan lumayan bikin saya panik secara baju-baju mulai ada yang nggak cukup.

Kurang lebih percakapannya begini ;

Continue reading

5 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya