Terbang ke Yogyakarta Lewat Yogyakarta International Airport di Kulon Progo

Dibukanya bandara baru Yogyakarta di Kulon Progo rasanya seperti mendapatkan ‘jawaban’ atas keluhan-keluhan yang sering saya dengar (bahkan saya alami sendiri) mengenai Bandara Adi Sucipto yang rasanya semakin tidak memadai. Landasan mendarat yang terlalu pendek jaraknya, ruang tunggu bandara yang kurang besar, sampai cukup seringnya delay terbang atau delay mendarat karena satu dan dua dan tiga dan masih banyak alasan lainnya.

Saya kemudian berkesempatan mencoba terbang dari Bandara Halim Perdanakusumah ke Kulon Progo. Maskapai yang pertama kali terbang dari dan ke Yogyakarta International Airport tentunya adalah Citilink. Sama seperti waktu bandara Kertajati di Majalengka baru dibuka dulu. Kalau kamu beruntung, kamu bisa mendapatkan pesawat dengan fasilitas wifi onboard gratis dari Citilink. Bisa terbang tanpa ketinggalan update gosip!

Ada 1x penerbangan dari Halim ke Kulon Progo yaitu jam 11.00 dan kemudian jam 13.10 dari Kulon Progo ke Halim. Silakan dicatat mana tau lain kali perlu terbang ke sana. Pembelian tiket Citilink melalui aplikasi mobile-nya lebih mudah dan suka ada diskon untuk pembelian makanan dan bagasi tambahan.

Reaksi pertama yang saya dapatkan ketika ‘bercerita’ soal bandara baru ini adalah “berapa jauh Kulon Progo ke tengah kota Yogyakarta?”. Ya memang nggak dekat, diperkirakan 1.5 jam waktu yang diperlukan. Tapi kalau beruntung seperti saya kemarin, 1 jam 20 menit saya udah nyampe Kabupaten Sleman. Wah jauh ya, iya karena untuk membangun bandara internasional yang memadai kan tentunya diperlukan lahan yang cukup besar, dan lahan seperti ini tentu adanya di pinggiran kota. Selain itu, saya rasa pembangunan bandara di pinggir kota juga akan membantu meningkatkan nilai jual di area tersebut. Pemerataan pendapatan kan jadinya. Iyain aja biar cepet 🙂

Lalu bagaimana dengan transportasi publik yang tersedia? Karena waktu itu saya menggunakan mobil milik Citilink jadi tak berkesempatan menggunakan transportasi umum. Tapi dari artikel Kumparan berikut ini kabarnya kereta bandara sudah beroperasional sejak Senin, 6 Mei 2019 lalu, artinya bertepatan dengan inaugural flight Citilink dari Halim.

Kereta bandara ini melayani rute PP dari Maguwo menuju Wojo dan akan berhenti di 4 stasiun yaitu Maguwo, Yogyakarta, Wates dan Wojo. Total perjalanan dari stasiun Maguwo sampai Wojo adalah sekitar 50 menit. Saat ini penumpang memang belum bisa langsung turun di bandara tapi bisa melanjutkan perjalanan ke YIA (Yogyakarta International Airport) dengan Bis Damri. Dari Stasiun Wojo ke YIA jaraknya 10 menitan dengan harga 10ribu per penumpang. Sementara harga tiket keretanya sendiri adalah berkisar 30-40ribu tergantung naik dari stasiun mana. Cukup ekonomis lah ya?

Kabarnya, Citilink juga akan menyediakan shuttle khusus dari YIA ke tengah kota Yogyakarta bagi penumpangnya. Baguslah, semakin banyak pilihan semakin oke kan?

Lalu bagaimana kesiapan YIA sendiri? Sepenglihatan saya kemarin, bandaranya sudah ready, check in counter, tempat pengambilan bagasi, x-ray checking, ruang tunggu penumpang semua sudah tertata dengan baik. Bangunannya tidak mewah tapi cukup memadai.

Yang belum terlihat hanya penjual makanan, ya maklumlah hari itu adalah hari pertama puasa dan baru satu hari bandara beroperasional. Kesian juga kan kalau ada yang jualan makanan tapi ga ada yang beli? Tapi waktu saya akan terbang kembali ke Halim, di ruang tunggu sudah ada kedai yang berjualan pastry sih. Pssst! Sudah ada kedai bertuliskan Gudeg Yu Djum lho di area bandara, pasti akan segera buka, semoga 🙂

Kabarnya, semua penerbangan dari dan ke Adi Sucipto akan dipindahkan ke YIA di akhir tahun 2019 ini. Semoga saat itu pilihan transportasi publiknya sudah semakin baik ya. Oiya kemarin iseng-iseng cek harga dari tengah kota Yogyakarta ke YIA kalau kita menggunakan moda taxi online, sekitar 200-250rb. Jadi kalau terbangnya berempat, taxi online ini bisalah jadi pilihan ya, kan 50-60rb aja seorangnya

Jadi yang berencana mudik Lebaran ke area Jawa Tengah tahun ini, bolehlah melirik rute #BetterFlyCitilink dari Halim menuju YIA Kulon Progo, karena baru Citilink yang punya #RuteBaruKulonProgo dengan #TerbangKeBandaraBaruYIA.

Eh sebelum mulai browsing tiket, bolehlah nonton video pendek ini dulu. Disclaimer : maaf lipstick sudah pudar

1 Comment

Filed under jalan-jalan, Saya, Saya, dan Saya, traveling

Hongkong 10 Tahun Kemudian

10 tahun yang lalu waktu pertama kali saya menginjakkan kaki di Disneyland Hongkong, dan melihat tulisan besar “Hong Kong Disneyland Resort” saya langsung inget Biyan yang waktu itu nggak ikut saya pergi. Waktu itu juga saya janji sama diri sendiri untuk mengajak dia ke Hong Kong Disneyland satu hari ini. Hampir kejadian tahun 2016, namun di detik-detik terakhir beli tiket kami malah membelokkan diri ke Myanmar.

Akhirnya saya berhasil juga mengajak Biyan ke Hong Kong Disneyland akhir tahun 2018 lalu. Mengejar waktu sebelum libur Natal dan akhir tahun karena malas berdesak-desakan kalau pas hari libur begitu. Jadi kami pergi sekitar seminggu sebelum Natal dan sungguh keputusan yang tepat karena saat itu Disneyland sudah siap menyambut Natal, alias dekor Natal yang cantik ada di mana-mana.

Snapseed_1

Snapseed

Snapseed_2

Continue reading

Leave a comment

Filed under jalan-jalan, Saya, Saya, dan Saya, traveling

Hotel di Bali Dengan Lokasi Terbaik : Harris Seminyak

Kalau lokasi menjadi pertimbangan kamu memilih hotel di Bali, maka Harris Seminyak memang perlu jadi pertimbangan, bahkan jadi pilihan utama. Lokasinya di Jl. Drupadi yang super strategis dekat ke mana-mana itu, tapi nggak juga di daerah berisik yang sering terdengar klakson mobil, dan persis di sebrang hotel ada Alfamart dan Circle K yang lengkap dengan ATM BCA, sungguh sebuah peradaban yang selalu diperlukan di mana-mana.

org_dsc09045

img_3546

Continue reading

3 Comments

Filed under hotel review, jalan-jalan, Saya, Saya, dan Saya, traveling

Hadiah Buat Diri Sendiri

Bukan hanya karena suka posting #gerakankakidiatasmejatiapjumat saya jadi suka jajan sepatu baru. Bukan juga karena suka jajan sepatu baru saya jadi suka posting #gerakankakidiatasmejatiapjumat. Tapi setidaknya dua hal ini memang saling mendukung, nggak tau tepatnya yang mana yang datang duluan. Yang pasti, jajan sepatu memang sangat Shasya Pashatama.

Continue reading

Leave a comment

Filed under jalan-jalan, life, Saya, Saya, dan Saya, traveling

Bukan Sekedar Jalan-jalan, tapi….

Di kuartal terakhir tahun ini kebetulan jadwal saya untuk jalan-jalan agak padat. Ya jalan-jalan dalam rangka kerjaan maupun jalan-jalan dalam rangka kepengen jalan-jalan aja. Di satu waktu setelah dua perjalanan yang berderet saya merasa cukup lelah. Mau unpacking dan packing lagi aja rasanya berat banget. Kemudian saya berpikir, kayaknya 2019 saya mau mengurangi jalan-jalan deh. Walau masih banyak (banget) tempat yang belum saya datangi, rasanya sudah cukup. Maklumlah ya, kalau mau akhir tahun suka mendadak pengen bikin resolusi menyambut tahun baru.

Kemudian saya kembali teringat rencana awal saya waktu berhenti kerja dulu, yaitu buka tempat makan. Kalaupun buka restoran, setidaknya warung makan yang bisa saya tungguin setiap hari. Yang mana sudah tertunda selama dua tahun karena ya sayanya pergi-pergian melulu.

Continue reading

2 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Cukup Satu Perih

Sekitar sebulan sekian yang lalu, Biyan jatuh dan kemudian bagian lututnya perlu dijahit sekitar 9 jahitan. Lumayan panik waktu itu karena darahnya ke mana-mana banget, dan kejadiannya di tempat ngopi di Lembang, yang mana pas long weekend macetnya lagi gila-gilaan. Sempat khawatir nggak bisa cepat sampai rumah sakit atau klinik, untungnya berjarak 7 menitan saja ada klinik dengan IGD jadi bisa langsung tindakan saat itu juga.

IMG_1928

(ini ilustrasi waktu dia jatuh, katanya digambar karena bosan menjelaskan sama orang “gimana jatuhnya, Biyan?”)

Sebetulnya Biyan itu anaknya emang agak (terlalu) sering jatuh karena pada dasarnya nggak bisa diem dan agak clumsy. Jatuh, nabrak orang, nabrak meja, kesenggol segala macam sih udah biasa. Yang kemarin itu bikin panik karena baru sekali ini sampai harus dijahit (semoga ini terakhir kali!), dan liat sendiri kulitnya lepas dan udah mulai keliatan bagian di balik kulitnya. Hadeh.

Pendek cerita, setelah dijahit (pake sedikit drama teriak histeris pas disuntik), pulang ke rumah dengan kaki berbalut perban. Nah berhubung lukanya di bawah lutut, si dokter udah pesan duluan, katanya kering atau sembuhnya akan agak lebih lama dibanding luka di tempat lain karena persis di bagian yang sering bergerak. Ya sudahlah pasrah mesti ganti-ganti perban setiap hari selama lebih dari dua minggu. Ditambah lagi saat itu kita udah ada rencana mau pergi ke Toraja. Mengingat areanya kayaknya ga mudah cari klinik, maka sebelum pergi saya kursus singkat pada si dokter bagaimana membersihkan luka dan memasang perban dengan baik. Untungnya saat itu udah bawa-bawa Hansaplast Spray Antiseptik, produk baru dari Hansaplast yang penggunaannya mudah banget cuma tinggal srat sret semprot pada luka lalu tutup pake perban (waktu itu masih pakai perban karena lukanya masih cukup lebar). Praktis banget ya pergi traveling bawa Hansaplast Spray Antiseptik ini, kemasannya nggak terlalu besar, dan yang penting nggak suka bocor-bocor dalam tas sampe mengotori barang lain.

PHOTO-2018-11-01-21-16-57_1.jpg

Tiga hari setelas lepas jahitan, dokter menyarankan untuk laser bekas lukanya. Beres laser, tadaaa luka pun kering mama pun senang.

Tapi seharusnya mama jangan senang dulu.

Karena tiga hari setelah laser, anaknya jatuh lagi karena main bola. Baiklahhhh, kembali ke rutinitas membersihkan luka dengan Hansaplast Spray Antiseptik. Kali ini karena lukanya sudah lebih kecil dari sebelumnya, maka tak perlu pake perban lagi, tinggal tutup aja pake Hansaplast Jumbo. Kalau waktu kecil kita diajarin untuk tidak menutup luka agar cepat kering, ternyata itu juga mitos Bun. Karena menurut Dr. Adisaputra Ramadhinara, Certified Wound Specialist Physician, seorang dokter spesialis luka bersertifikasi satu-satunya di Indonesia, penyembuhan luka justru terjadi secara optimal dalam keadaan lembab, dengan catatan harus rajin membersihkan luka sebelum mengganti plester yes.

PHOTO-2018-11-01-21-16-57

Sudah selesai?

Belummmm. Sejak jatuh sehabis laser itu masih ada 3 kali jatuh lagi sampai hari ini. Ada yang karena kesenggol teman jatuh di sekolah, ada yang keserimpet kaki sendiri kemudian jatuh, ada juga yang “aneh deh kenapa sih aku bisa jatuh padahal lagi jalan biasa aja loh nggak lari-lari”.

Untungnya (masih aja untung mam), ngobatin luka kali ini udah ga pakai drama. Udah nggak ada tuh teriak-teriak sakit karena lukanya sakit pas kena obat. Jadi saya pun nggak usah berdalih lagi “kalau sakit artinya obatnya lagi bekerja”, karena ternyata ini cuma mitos saja sodara-sodara. Lalu kok bisa sih obat antiseptik nggak bikin perih? Karena kandungan Hansaplast Spray Antiseptik ini adalah Polyhexamethylene Biguanide, zat antiseptik yang banyak digunakan oleh para dokter di rumah sakit karena efektif dalam mengatasi infeksi, tidak perih, tidak meninggalkan noda dan tidak berbau. Drama cukup sekali saat disuntik untuk mati rasa sebelum dijahit yang mana yaiyalah pasti sakit banget ya.

PHOTO-2018-11-01-21-16-57_4

Drama juga minim karena Hansaplast Spray Antiseptik ini tidak berwarna macam obat merah dan tidak juga berbau. Jadi nggak repot lagi bersihin bekas-bekasnya dan nggak khawatir lagi tumpah-tumpah mengenai barang-barang di tas. Plus ga usah nahan bau tak enak khas obat antiseptik jaman dulu itu. Triple happy karena Biyan bilang obat yang ini #GakPakePerih.

Satu lagi, kebiasaan saya setiap anak luka adalah mengamati lukanya karena khawatir ada nanah atau apa. Sejak pakai Hansaplast Spray Antiseptik, saya nggak sulit lagi membedakan mana nanah dan mana bekas obat, ya karena Hansaplast Spray Antiseptik ini transparan nggak berwarna. Dokter juga jadi lebih mudah mengamati kondisi kulit pasca luka.

Jadi buibuk, mulai sekarang sedialah Hansaplast Spray Antiseptik di rumah, di mobil, kalau perlu di dalam tas! Karena namanya anak-anak, ada aja jatuh-jatuhnya di saat-saat nggak terduga. Kali ini kan nggak perlu khawatir botolnya bocor dan mengotori barang di tas toh? ☺

PHOTO-2018-11-01-21-16-57_2

9 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Kampung Kaleng yang Bukan Cuma Bikin Kaleng

Waktu pertama kali mendengar nama Kampung Kaleng, saya kira ini kampung yang berisik. Namanya juga kaleng, kan suka bikin berisik. Ternyata salah duga. Kampung yang berlokasi di Kampung Dukuh, Citeureup disebut Kampung Kaleng karena merupakan sentra industri kerajinan berbahan dasar kaleng/alumunium. Kampung ini juga merupakan desa mitra PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (“Indocement”) Produsen Semen Tiga Roda dan Semen Rajawali, makanya kemarin itu saya dan beberapa teman blogger diundang ke sana untuk melihat langsung proses pembuatan kerajinan berbahan dasar kaleng/alumunium. Misalnya nih ya; toples mini, oven, panci, dandang, sampai kaleng kerupuk pun ada. Aneka produk industri besar juga diproduksi di sini seperti ducting AC, tempat sampah, rambu-rambu dan masih banyak lagi. Kunjungan yang menarik karena saya belum pernah lihat langsung pembuatan barang-barang berbahan kaleng begini. Lalu saya pun tergoda jajan kaleng kerupuk mini ini. Rencananya untuk menyimpan koleksi gelang saya yang jumlahnya mengalahkan toko aksesoris itu.

ORG_DSC07321

IMG_4893

Sebagai mitra yang berkomitmen untuk memajukan perajin di Kampung Kaleng, pada tahun 2015 Indocement menginisiasi pendirian koperasi untuk menaungi para perajin ini. Namanya Koperasi Rancage, saat ini anggotanya sudah ada 120 perajin, dan tersebar tidak hanya di Kampung Kaleng saja tapi sampai seluruh Kecamatan Citeureup.

DSC07326.JPG

 

DSC07324

Seorang local hero kemudian lahir di tengah pendirian dan kemajuan koperasi ini. Dia adakah Dedi Ahmadi (kemudian dikenal dengan nama Dedi Rancage), seorang perajin yang membantu menyatukan para perajin yang sebelum ada koperasi dulu, terpecah karena persaingan harga yang tidak sehat di antara para perajin sendiri. Atas prestasinya ini, Kang Dedi Rancage kemudian diaugerahi penghargaan Satya Lencana Pembangunan dan Bakti Koperasi yang diserahkan langsung oleh Menteri Koperasi dan UMKM, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga. Saat kami berkunjung ke sana kemarin, Kang Dedi dengan bangga mengenakan dan memperlihatkan medalinya pada kami semua. Terus kita jadi ikut senang dan bangga, padahal baru aja kenal. Sayang waktu itu nggak sempat mengajak Kang Dedi foto bersama karena beliau sedang menerima serombongan teman-teman mahasiswa yang juga lagi kunjungan ke Kampung Kaleng. Pokoknya hari itu, Kampung Kaleng ramai sama tamu deh

Dari Kampung Kaleng kemudian kami diajak ke P3M Indocement yang juga berlokasi di Citeureup. P3M ini singkatan dari Pusat Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat. Seperti P3M yang pernah kami kunjungi di Cirebon, di P3M Citeureup juga dilakukan training dan pembinaan masyarakat sekitar dalam bidang perikanan, peternakan, perkebunan, dan energi bersih.

Di bagian perikanan, ada 2 macam ikan yang dibudidayakan; ikan yang dikonsumsi, dan ikan hias.

IMG_4894

Ikan yang dikonsumsi ada di tambak dan ikan hias ada di ruangan berisi akuarium. Uniknya, di bagian ikan hias ada ikan belida, yaitu ikan yang biasa jadi bahan pempek. Dikategorikan dalam ikan hias karena ekornya bercorak polkadot, cantik sekali.

Di bagian perkebunan kemudian kami diajak melihat kebun melon. Sebagai penggemar melon, saya baru sadar kalau saya ternyata belum pernah melihat wujud pohon melon. Jadi baru kemarin sekali itu liat yang namanya melon masih tergantung di pohonnya. Namanya blogger doyan foto, dikelilingi pohon melon kemudian semua ingin foto-foto. Baiklah tak apa-apa.

 

P3M di Citeureup ini berlokasi di area reklamasi paska tambang. Jadi karena selalu berkomitmen untuk menjaga lingkungan hidup di area pabriknya, Indocement kemudia melakukan reklamasi terhadap 10 hektar area paska tambang di sana. P3M ini juga kemudian menjadi pusat eduwisata bagi anak-anak masyarakat sekitar. Anak-anak SD dan TK diajak mengenal langsung bagaimana beternak kambing, burung puyuh, dan domba. Tapi rupanya bukan cuma anak-anak yang suka bermain dengan kambing domba. Mbak Terry Negeri Kita Sendiri juga tak tahan ingin ikut gendong bayi kambing berumur 5 hari ini. Tak jarang P3M ini juga dijadikan pusat pelatihan dan studi banding mahasiswa.

Selalu ada yang menarik dari setiap kunjungan kami ke Citeureup. Sebelum ke Kampung Kaleng dan area P3M, saya memarkirkan mobil di Mesjid As Salam, tak jauh dari gerbang tol Citeureup. Rupanya mesjid ini juga adalah komitmen Indocement untuk menjadi perusahaan yang berguna bagi masyarakat sekitarnya.

1 Comment

Filed under Saya, Saya, dan Saya