“Katanya Bali udah mulai macet juga? Gimana mau slow living di sana?”
Ada 2 reaksi saya ketika mendengar teman bertanya begini. Yang pertama : Bali mana dulu yang macet. Kalau perginya ke area turis di musim libur dan menjelang atau sesudah sunset, ya iya macet. Untuk saya yang tinggal di Denpasar, macet-macet ini masih bisalah dihadapi tanpa sumpah serapah, ada beberapa ruas jalan yang memang baiknya dihindari di jam-jam tertentu.
Kamu pasti udah denger juga. Kalau belum denger, lho ke mana aja.
Beberapa waktu lalu kita dibikin cukup kaget dengan berita salah satu tempat makan yang terkenal dengan antriannya sebut saja Mie Gacoan yang tersandung kasus royalti dan sudah dijadikan tersangka karena tidak membayar royalti untuk lagu yang dipasang di tempat usaha miliknya. Sebelum berita ini beredar, saya dan beberapa teman sudah mendengar juga ada tempat makan yang sudah dikirim surat somasi berkenaan dengan hal serupa.
Langkah pertama tentu saja mengganti lagu Indonesia dengan lagu asing. Padahal lagu manapun sama aja aturannya, bila dipasang di tempat umum maka ya kena kewajiban membayar royalti. Beberapa pengusaha kafe/restoran kemudian “ya udah pasang kicauan burung aja”, eh kena royalti juga, walau burungnya ga dibayar tapi kan ada produser yang berhak mendapatkan royalti ketika suara burungnya diperdengarkan di ruang umum. Tapi emang kurang cocok juga sih yaaa kalau makan sambil denger burung berkicau. Saya pernah makan di satu tempat trus mereka pasang suara burung dengan volume yang cukup keras. Alih-alih adem, malah “kayak lagi pada berantem ya burungnya” – demikian kata anak saya.
Lagi menunggu perkembangan trus muncul berita musisi A “oh kalau musik saya bebas, pasang aja, saya ga akan nagih royalti” trus musisi B “boleh kok pasang musik kami, asal ijin dulu ya, ijinnya via DM Instagram” – seolah-olah yang minta ijin cuma akan ada 20 dan akan terbaca semua. Sejujurnya bukan seneng sih baca ada yang gratisin lagunya, tapi justru ngalilieur alias bikin bingung. Kenapa musisi nggak kompak aja hey, kasi regulasi yang jelas lalu kami-kami ini tinggal mem-budgetkan sambil periksa keuangan, ada ga budgetnya. Pemasangan lagu dengan royalti ini semacam mau beli barang kok, kita perlu ngga, saat merasa perlu, budgetnya ada ga, kalau ada ya beli, ga ada ya besok-besok belinya saat budgetnya udah ada.
Dari semua komentar soal penagihan royalti musik ini, komentar yang menurut saya paling tepat adalah komentar Uan Kaisar yang vokalis Juicy Luicy itu : “Ke mana aja kok baru nagih sekarang?”.
Sebagai warga negara yang mau tak mau tunduk pada hukum, kalau mesti bayar ya tentu saja saya tidak akan melawan. Lha wong diberentiin polisi di jalan aja masih suka deg-degan padahal mobilnya punya sendiri, STNK dan SIM pun aman. Tapi berita orang-orang disomasi ya tentu bikin kaget karena sebelumnya tidak pernah melihat ada sosialisasi atau peringatan perihal ini.
Namanya pengusaha kecil-kecilan, saat tiba-tiba mesti bayar dengan nominal sekian ya tentu saja yang pertama saya lakukan adalah berhitung. Teman-teman tentu akrab dengan istilah budgeting. Nggak usah yang punya usaha, dalam kehidupan keseharian sebagai manusia pun ada yang namanya budgeting ; buat bayar cicilan rumah, buat beli makanan, buat beli bensin, buat ngopi, buat bayar karyawan, buat iklan, buat bayar sewa tempat, dan buat-buat lainnya. Pembayaran royalti ini tentu saja belum kami masukan ke budget. Karena sejujurnya rasanya seperti lagi duduk makan, udah siapkan budget buat bayar makanan dan parkir dan bensin eh tiba-tiba ada pengamen datang minta uang. Bedanya kali ini ga bisa melambaikan tangan tanda ga mau kasi uang. Kali ini ga ada pilihan, bayar atau matikan lagunya.
Edukasi memang selalu jadi barang mahal di negeri ini. Regulasi datang tanpa sosialisasi apalagi edukasi lalu diikuti dengan sanksi.
Lalu edukasi soal royalti musik ini mestinya datang dari siapa? Ya harusnya bukan dari berita Agnes Monica yang kalah di pengadilan. Bukan juga soal Judika yang ditagih direct licensing sama yang punya lagu (males nulis namanya di sini) Ya bukan juga dari berita owner Mie Gacoan yang tersandung kasus kemudian jadi tersangka.
Menurutku sih ya, baiknya datang dari pihak-pihak yang berkepentingan perihal royalti dan memiliki media untuk memberikan edukasi dan melakukan sosialisasi.
Misalnya dari penyanyi, kan follower social medianya banyak ya.
“Aku mau launching lagu baru, dengerin yaaaa ada di Spotify, di Apple Music dan video klipnya ada di Youtube, tapi jangan lupa kalau dinikmati di ruang umum akan ada kewajiban pembayaran royalti ya” – kurang lebih begitu narasinya atau bisa juga “Kamu suka makan di tempat makan yang pasang laguku? Tau ngga kalau tempat makan itu punya kewajiban membayar royalti lho” – yaaa gimana aja biar edukasinya nyampe.
Bukan cuma promosi, tapi edukasi. Bukan sekadar posting, tapi sampaikan yang penting.
Bisa juga datang dari lembaga yang berkepentingan. LMKN followernya cuma 2992 saat tulisan ini tayang. Ya kalau kasus royalti tidak mencuat, mungkin orang-orang juga nggak tau ada yang namanya LMKN di negeri ini. Tapi tenang Pak, selalu ada cara untuk sosialisasi, Dirjen Imigrasi yang followernya udah 600 ribu aja hire influencer untuk sosialisasi perihal e-paspor ber-polikarbonat yang banyak manfaatnya katanya : memudahkan pengurusan visa, menjaga data lebih akurat dan aman karena tersimpan dalam chip. Yang beginian kita tau dari mana? Dari influencer yang di-hire padahal follower Dirjen Imigrasi lebih dari setengah juta.
Bukan cuma regulasi dan sanksi tapi sosialisasi. Dan tentu saja : edukasi.
Beberapa tahun lalu di sebuah restoran milik teman saya sebut saja namanya Ghya karena memang itu namanya tertulis kata-kata semacam gini di buku menunya :
We understand that you’re trying to save this planet or trying to be healthier by bringing your own water to our place but please do understand that we’re trying to run a business here
Saya adalah orang yang sangat perasa, tapi bukan modelan yang gampang tersinggung, lebih ke yang segala macem dirasa. Hal-hal kecil yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari bisa membuat saya merasa banyak hal, dari yang manis, yang pahit, yang menyenangkan, yang menyebalkan, yang membuat menangis baik itu air mata beneran sedih atau air mata bahagia.
Postingan kali ini memang terpicu dengan adanya beberapa review mengenai sebuah film animasi Indonesia yang buat saya membanggakan. Membanggakan karena to be honest saya tidak menyangka kalau kita udah bisa bikin film animasi sebagus itu terutama dari sisi animasi-nya itu sendiri.
Agak tergelitik (oke bukan agak tapi SANGAT) membaca review film ini yang kemudian bilang sayangnya isi film tidak sesuai dengan ajaran agama (ini agama apapun jadi ga usah geer bukan mau mendiskreditkan agamanya) dan anak-anak jadi bingung karena sebetulnya hantu baik tidak ada di dalam ajaran agama. Waktu kecil dulu saat bersekolah minggu pun saya diajarkan bahwa tidak ada yang namanya hantu baik. Yang kemudian menggelitik hati saya sehingga di hari minggu yang cerah ceria ini saya mengeluarkan laptop dan mengetik dengan kecepatan tinggi plus tekanan berlebihan adalah :
Seorang teman yang kebetulan orang Jepang bilang sejak kecil ibunya sering bilang bahwa hakekat yang melekat pada manusia adalah mengganggu manusia lain. Jadi keberadaan kita memang sedikit banyaknya akan mengganggu manusia lain. Keberadaan kita di dalam satu ruangan akan mengganggu orang lain yang ada di ruangan itu juga. Apalagi kalau ruangannya kecil kayak lift, atau tempat ngopi tempat makan yang ukurannya mini-mini. Jadi ibunya berpesan supaya dia berusaha semaksimal mungkin supaya keberadaannya tidak menganggu orang lain yang ada di sekitar dia.
Obrolan ini membuat saya jadi teringat saat duduk di tempat umum trus orang sebelah nonton youtube tanpa earphone. Atau saat ngopi ada seorang ibu bawa anak dan anaknya main game dengan suara kencang. Atau juga saat di kereta dan bapak-bapak di belakang saya video call dengan istrinya ngabarin dia udah otw pulang, lagi-lagi tanpa earphone. Juga saat ketemu mbak-mbak kantoran yang nampaknya sedang WFH, meeting online tanpa earphone sehingga kami-kami jadi dengar atasannya ngomel.
Padahal harga earphone bisa semurah Rp. 12.000, lebih murah dari es kopi susu kebanyakan.
Tentu saja mengobrol di ruang publik adalah hal yang sangat wajar terjadi. Duduk berdua ya akan ada 2 orang yang ngobrol, duduk berlima pun begitu. Tapi alangkah tidak fair kalau yang duduk 1 orang tapi kita yang ada di dekatnya mesti denger suara orang lain yang bahkan tidak ada di ruangan yang sama dengan kita. Sayangnya beginian masih dianggap wajar oleh kebanyakan orang sekitar kita. Menegur mereka artinya siap berantem atau bahkan dimaki balik.
Ini dari tadi mau menutup tulisan ini dengan sebuah closure atau kesimpulan yang manis. Tapi ga nemu. Ga nemu gimana solusinya biar orang yang satu kereta sama kita sadar bahwa kita ga pengen denger dia video call dengan volume kenceng, ga pengen ngerti kenapa orang tua ngga bilangin anaknya kalau main game handphone di tempat umum suaranya jangan kenceng-kenceng nanti pengunjung lain keganggu, ga pengen ngertiin kenapa orang-orang ini nggak pada beli earphone aja.
Sebuah topik yang terlalu menggelitik untuk tidak jadi satu postingan blog. Karena sebelum berjualan makanan, saya lumayan sering menulis review makanan di surgamakan dot com. Jaman ini belum ada Instagram untuk menulis review makanan. Apalagi Tiktok. Sebagai yang suka nulis soal makanan, waktu itu saya lumayan sering diundang untuk mencoba makanan dan menulis review. Tujuannya tentu saja mempromosikan makanan lalu diharapkan bikin laris.
Pertamanya saya masih suka datang memenuhi undangan walau tetap menolak bayaran. Kemudian saya berhenti datang ke undangan apapun setelah sekali waktu bertemu dengan seorang manager operasional sebuah tempat makan Thailand di Bandung (sekarang tempat makannya udah tutup) yang kemudian bertanya “Setelah saya mengundang Mbak Shasya ke sini, kira-kira berapa orang yang kemudian akan datang ke sini”. Saya tersenyum mangkel “Kalau pertanyaannya begitu, hire sales manager Pak bukan undang food blogger“.
Jaman berkembang kemudian food reviewer hadir dengan berbagai media dari Instagram, Tiktok, Youtube, you name it. Di semua platform social media pasti ada yang namanya food reviewer. Berjamurnya food reviewer ini tentu saja disebabkan oleh banyaknya netizen yang mencari referensi makanan di sana.
Tak sedikit tempat makan yang kemudian menjadi ramai setelah didatangi food reviewer. Ada yang baru buka langsung ramai (bisa jadi karena memang sengaja mengundang reviewer, bisa jadi karena tempatnya baru maka para reviewer ini ramai-ramai mendatangi tempat itu). Ada pula tempat-tempat lama yang tadinya biasa-biasa aja kemudian jadi banyak orang tau dan kemudian semakin laris. Bagus? Tentu saja!
Postingan kali ini pasti akan menyinggung banyak orang. Wih disclaimer dulu aja daripada nanti diomelin ya kan. Gapapa sesekali berbeda pendapat karena yang sama terus mah seragam anak SD di hari Senin.
Udah lama mau nulis soal ini, baru sempat sekarang aja, dan kebetulan kemarin ada lagi triggernya, waktu lagi ngopi di sebuah tempat kopi terkenal dan terkemuka di Bandung, andalan orang-orang Bandung untuk ngopi pagi dan andalan untuk ngajak turis karena memang kopinya selalu enak dan atmosphere-nya yang Bandung banget. Pas lagi bayar eh ada kotak berisi drip bag, sebagai si tukang ngopi tiap pagi mengandalkan drip bag, saya pun bertanya “berapa mas ini drip bag-nya?” “Oh gratis kok Bu, tinggal tulis google review aja”. Saya pun menyimpan kembali drip bag dalam kotak. Sebagai informasi, bila dijual satuan, drip bag ini harganya berkisar antara Rp. 12.000 – 15.000an
Iya bener dugaan kamu, saya mau nulis soal google review yang dibarter dengan produk. Tentu saja bukan cuma tempat kopi itu yang menawarkan barter produk dengan google review. Ada banyaaaaaaak yang melakukannya. Termasuk beberapa teman yang juga kebetulan punya usaha F&B, ehem.
Ada yang dituker ice cream, ada yang dituker diskon, macam-macam deh. Sekali waktu saya pernah makan malam di sebuah restoran Jepang yang lumayan mewah. Pas pesan edamame, waiternya menyodorkan mangkok edamame pada saya dan pas saya mau ambil dia bilang gini “Kak, edamame ini gratis kalau kakak kasi google review atau follow instagram kami”. Trus gesture-nya kayak ga mau kasi mangkok kalau ga diiyain kita mau kasi google review atau follow instagramnya : )))). Sampai harus saya bilang “saya beli aja edamamenya”.
Boleh bilang sombong, tapi buat saya review itu nilainya jauh lebih tinggi daripada free dessert, atau diskon, atau freebies lainnya. Namanya review, mestinya ya berdasarkan pengalaman yang kita alami saat kita membeli produknya BUKAN harga yang kita tukar untuk gratisan.
Sepenting itukah yang namanya google review?
Sebagai tukang dagang, I’d say iya. Makanya banyak pengusaha F&B yang mau keluarin biaya untuk ngasih kamu gratisan supaya kamu mau kasi review. Kalau dianggap ga penting ya ngapain ngeluarin biaya untuk ngasi gratisan bukan? Temen bukan sodara apalagi.
Yang berdagang juga pasti pernah jadi customer dong yah. Nah gimana kalau pas lagi googling tempat makan trus isi review-nya bintang 5 semuanya dan ternyata karena gratisan eskrim? Jadi di mana lagi dong kita cari review yang jujur?
Sejak punya anak pertama, saya langsung memutuskan bahwa punya anak cukup satu saja. Kalau diceritain alasannya bisa banyak dan panjang, yang jelas sampai menjelang usia anak saya mau 17tahun, keinginan saya tetap sama : punya anak mau satu aja. Tentu saja saya kemudian sering mendengar cerita teman-teman yang anaknya lebih dari satu. Dari cerita manis bagaimana si kakak mahir mengasuh adiknya, sampai adiknya yang selalu ikutin kakaknya ke manapun pergi, juga cerita-cerita adik kakak berantem, ga akur, dan lain-lain.
Yang paling menarik dari semua cerita itu adalah bagaimana 2 orang anak yang dibesarkan oleh orang tua yang sama, dengan metode yang sama, diberi makan makanan yang sama dan segala sesuatu yang sama ternyata bisa menghasilkan 2 jenis orang yang sangat berbeda. Contohnya banyak banget, ada teman yang anaknya terpaut usia sedikit tapi yang satu ekstra introvert yang satu ekstra ekstrovert. Ada pula yang satu serius banget yang satunya lagi hobby bercanda dan santai-santai. Ya sebetulnya ga usah jauh-jauh, saya punya 3 adik laki-laki yang tabiatnya berbeda total satu sama lain. Padahal ya orang tuanya sama, makannya sama, diajarnya sama, diperlakukannya juga sama.
Dalam kurun waktu 8-9 bulan belakangan ini saya akhirnya merasakan sendiri kisah punya anak 2 ini.
Tentu saja saya tidak hamil kemudian melahirkan, ini lagi ngomongin soal Cici Claypot dan Sarinande Kitchen Bali, 2 warung kecil yang saya perlakukan seperti anak sendiri. Dilahirkan dengan penuh sadar dan dengan bahagia, diasuh dan dibesarkan sepenuh hati kalau bisa kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala. Yang pasti hati ini rasanya tumpah ruah untuk kedua anak saya ini.
Namun seperti halnya punya anak 2 itu tadi, ternyata 2 warung yang saya lahirkan dengan cara yang sama dan dibesarkan dengan cara yang sama ini punya karakternya masing-masing. Saya ingat persis 5 tahun lalu saat buka Cici Claypot selama 4 bulan setiap hari saya stand by di warung dari buka sampai tutup, setiap hari tanpa pernah absen sampe rasanya nggak punya social life kecuali dengan teman-teman dan pelanggan yang datang makan ke warung. Setelah 4 bulan, saya baru bisa sesekali pergi, baik absen sebentar istirahat di rumah atau pergi traveling singkat. Long story short, perkembangan Cici Claypot bisa dibilang cukup pesat. We survived pandemic, we did a lot of collaborations and innovations bahkan di tahun ketiga kemudian lahir Cici Claypot Medan yang diikuti dengan Cici Claypot Bali 2 minggu kemudian.
Cici Claypot Medan
Cici Claypot Bali
Tentu saja saya berpikir Sarinande Kitchen Bali kurang lebih akan bernasib sama. Walau memang kali ini saya nggak bisa full straight 4 bulan selalu hadir di lokasi, ya karena lokasinya di Bali sementara hidup saya masih terbagi-bagi antara Bali dan Bandung. Tapi yaa saya kira kurang lebih akan samalah hasilnya. Wong sebelum tidur sama-sama dipikirin, bangun tidur sama-sama dipikirin dan saat menyetir atau naik motor sama-sama dipikirin juga, nggak ada yang lebih banyak dipikirin, nggak ada yang anak tiri, semua anak kesayanganku, begitulah kira-kira yang ada di dalam kepala saya.
Tapi ya itulah ya, ternyata memang apa yang kita perlakukan sama belum tentu memberikan hasil yang sama. Supaya tidak menafikan berkat yang sudah saya terima dari anak kedua saya ini, saya mesti bilang bahwa hasilnya sebetulnya nggak jelek-jelek amat, nggak membuat saya nggak happy apalagi membuat saya menyesali keputusan berjualan nasi rames. Yang bisa saya bilang hanya ; perjalanannya tidak semudah dan semulus anak pertama. Ada banyak perhatian ekstra yang diperlukan, kehadiran fisik saya lebih banyak diharapkan, juga banyak usaha ekstra yang perlu dilakukan untuk mencapai hasil yang membuat saya (lebih) happy.
Perlu diakui kalau 6 paragraf di atas isinya adalah kisah romantisasi berbisnis. Padahal yang namanya bisnis, sebaiknya tidak diromantisasi – ini yang pernah seorang teman bilang waktu saya curhat soal ini dan itu. Ya memang perlakuannya sama, tapi dalam berbisnis kan ada banyak faktor lain selain faktor hati yang tercurah 100% itu tadi. Ada faktor lokasi, inovasi, promosi, produk, servis, dan lain-lain dan lain-lain.
Kalau dulu saya suka tegas bilang sama yang minta saran bisnis F&B nomer satu untuk selalu konsisten, kali ini saya merasakan sendiri memang konsisten itu hal yang sulit ya. Dulu saya selalu bilang “jualan mesti konsisten, jangan hari ini buka besok engga, jangan banyak libur, harus buka terus”. Kali ini saya merasakan sendiri yang namanya short of human resource sehingga ya memang sekali dua kali harus tutup warung karena adanya keterbatasan. Begitulah ya, seringkali kita mesti ngerasain jalan di sepatu orang dulu untuk tau gimana rasanya jadi dia.
Meanwhile, please wait for an exciting news from Sarinande Kitchen Bali 😉