Category Archives: Saya, Saya, dan Saya

Kelapa Sawit si Primadona

Mengunjungi Pangkalan Kerinci membuat saya mengingat sebuah pelajaran jaman SD dulu: transmigrasi. Kalau umur kamu nggak jauh-jauh dari umur saya, kamu tentu ingat bagaimana di sekolah belajar soal program pemerataan penduduk dari pemerintah; karena Pulau Jawa semakin padat maka warga ditawari untuk pindah ke luar pulau dan diberi tanah untuk dijadikan ladang usaha mereka.

Continue reading

1 Comment

Filed under jalan-jalan, Saya, Saya, dan Saya, traveling

Menengok si APRIL ke Pangkalan Kerinci

Pergi ke tempat baru selalu jadi hal yang menyenangkan buat saya. Apalagi kalau tempatnya membuat muncul pertanyaan semacam “mau ngapain sih ke sana?” “apa sih yang mau dikerjain di sana?”. Karena artinya, tempatnya nggak pasaran dan ada hal menarik yang memang bisa dikerjakan di sana.

Karenanya saat saya mendapat undangan untuk berkunjung ke Pangkalan Kerinci di Riau, saya langsung mengiyakan dengan rasa penasaran “apa sih yang bisa dilihat di sana?”

Continue reading

1 Comment

Filed under jalan-jalan, Kerja, kerjaan, Saya, Saya, dan Saya, traveling

Solo : Tumurun – Private Museum yang Bikin Berdecak

Berkunjung ke museum seni tadinya tak pernah ada dalam list saya. Tapi belakangan, anak saya, Biyan lagi senang menggambar dan saya ingin mengajak dia melihat lukisan/gambar/instalasi seni apapun supaya dia lebih banyak referensinya. Karenanya ketika kami liburan ke Solo baru-baru ini, saya memasukkan Tumurun Private Museum dalam list tempat yang perlu kami kunjungi.

Mungkin belum banyak yang pernah mendengar soal Tumurun. Museum ini memang baru dibuka April 2018. Promonya dari media yang pernah diundang ke acara soft opening pertama mereka dan dari pengunjung yang kemudian posting di akun social media. Pertanyaan yang paling banyak saya terima waktu saya post di Instagram Story soal Tumurun adalah “berapa harga tiket masuknya?”

Continue reading

12 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Local Hero = Super Hero

Bukan pertama kali saya mengikuti kegiatan menengok area di mana PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (“Indocement”) melaksanakan kegiatan CSR-nya. Saya bersama teman-teman blogger lain pernah diajak ke objek wisata Bayu Panas dan menengok Kampung Batik Ciwaringin di Cirebon. Di objek wisata Bayu Panas, Indocement membantu melengkapi fasilitas di sana agar dapat mengundang lebih banyak wisatawan dan menghasilkan pendapatan tambahan bagi kas pendapatan daerah. Kemudian Indocement juga membantu pengembangan Batik Ciwaringin agar lebih banyak dikenal masyarakat. Dari penyediaan modal, pelatihan, pembentukan koperasi sampai pembuatan patennya. Kemudian di Citeureup, kami diajak melihat bagaimana Indocement berupaya menjaga kelestarian alam di area eks tambang, juga membantu pengelolaan sampah rumah tangga sehingga menjadi aneka barang yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. 

Kalau boleh jujur, kunjungan terakhir ke Desa Jati Endah Kecamatan Cilengkrang beberapa hari lalu adalah kunjungan paling menarik dan membuat decak kagum. Bukan karena lokasinya yang nggak bikin saya harus menyetir jauh-jauh ke Citeureup atau berkereta ke Cirebon kok, tapi lebih ke semangat penduduk Desa Jati Endah yang menyambut kami dengan senyum hangat dan segudang cerita. Juga pastel, pisang molen, kue mangkok, tahu bulat dan lain-lain. 

IMG_5527.JPG

Continue reading

5 Comments

Filed under jalan-jalan, kerjaan, Saya, Saya, dan Saya

Legian ; 15 Tahun Lalu & Sekarang

Salah satu kenangan yang paling menyenangkan dan melekat adalah saat alm ayah saya mengajak kami sekeluarga road trip ke Bali. Waktu itu rasanya belum ada yang namanya gaul-gaul di Seminyak, Batu Belig, apalagi Canggu. Ke Bali ya ke Kuta. Nginepnya ya di Legian.

Reminiscing the good old days, waktu terakhir ke Bali kemarin saya menyempatkan diri untuk menginap di Legian. The ONE Legian langsung jadi pilihan saya secara lokasinya strateheis, ada di tengah-tengah keramaian Legian.

Lalu apa perbedaan Legian 15 taun silam dan Legian sekarang?

Continue reading

2 Comments

Filed under hotel review, jalan-jalan, Saya, Saya, dan Saya, traveling

7 Kegiatan Asik Yang Bikin Pengen Pindah Rumah ke Wuyishan

Pagi ini saya baru saja menghabiskan bungkusan teh terakhir yang saya bawa dari Wuyishan, sebuah kota kecil berjarak 3 jam perjalanan dengan kereta cepat dari Xiamen. Iya, kunjungan kesana kemarin masih dalam rangkaian perjalanan #XiamenFamTrip bersama Xiamen Airlines.

Kereta yang membawa kami ke Wuyishan berangkat dari Xiamenbei jam 08.57 pagi. Begitu sampai di stasiun saya dan teman-teman cukup terpesona dengan besar dan bersihnya stasiun ini. Semuanya rapih pun, signage pun lengkap, besar-besar, pokoknya informatif. Ticketnya bisa dibeli online sekitar H-7 sebelum perjalanan dan supaya pasti kebagian memang sebaiknya book online daripada go show.

IMG_8393

Keretanya juga cakep banget. Semua tempat duduk bernomor sesuai yang tertera di ticket. Naik kereta yang dingin selama tiga jam tentu saja membuat saya laper. Pedagang makanan bolak balik menawarkan nasi kotak yang harum banget. Tentu saja saya tergoda. Akhirnya beli. Pas buka plastik, ternyata kereta tiba di Wuyishan. Akhirnya keluar stasiun menggeret koper sambil membawa nasi kotak. Untung enak banget, tak sia-sia susah-susah membawanya ke bis 🙂

IMG_9116

Tiba di Wuyishan, saya dan beberapa teman mulai rewel cari tempat ngopi. Walaupun bukan penggemar berat kopi, tapi duduk di coffee shop kayaknya sudah jadi kebiasaan saya. Tapi Pak Thomas, guide kami yang helpful dan baik hati itu bingung pula menanggapi pertanyaan kami,

Pak Thomas : “Tempat ngopi yaaa….hmmmm di mana yaaa. Kalau di Xiamen sih ada Starbucks, kalau di sini hmmm aduhh ga ada”

Saya : “Jangan Starbucks Pak, kita maunya kedai kopi local atau coffee shop lah gitu”

Pak Thomas : “aduh saya belum pernah lihat”

Lalu kalau nggak ada coffee shop, di Wuyishan ngapain dong?

Continue reading

1 Comment

Filed under jalan-jalan, life, Saya, Saya, dan Saya, traveling

Tijili Tanjung Benoa : Ide Bagus Untuk Liburan di Bali

Segitu sering bolak-bali ke Bali, sudah cukup lama saya nggak pergi ke area Tanjung Benoa. Pernah sekali karena nyasar, kemudian belum ada kesempatan untuk kembali ke sana lagi. Padahal pantai di Tanjung Benoa lumayan menyenangkan untuk berjemur, main air, dan tentu saja watersport kan ya. Kata orang, begitu mendengar kata “Benoa”, yang teringat pasti watersport.

Akhirnya kemarin saya memutuskan untuk menghabiskan malam di Tanjung Benoa. Kebetulan ke Balinya bawa Biyan pula, dia pasti senang kalau diajak menginap di hotel yang beach front.

Karena kadung jatuh cinta dengan Tijili Seminyak yang beberapa kali saya inapi, maka pas mau ke Tanjung Benoa, Tiji Benoa tentu saja jadi pilihan utama saya. Selain suka dengan konsep hotel dan designnya, saya suka kehangatan yang selalu saya rasakan di Tijili. Begitu sampai, langsung hasrat foto-foto dong ya

SAMSUNG CSC

Continue reading

2 Comments

Filed under Family, hotel review, jalan-jalan, Saya, Saya, dan Saya, traveling