Solo : Tumurun – Private Museum yang Bikin Berdecak

Berkunjung ke museum seni tadinya tak pernah ada dalam list saya. Tapi belakangan, anak saya, Biyan lagi senang menggambar dan saya ingin mengajak dia melihat lukisan/gambar/instalasi seni apapun supaya dia lebih banyak referensinya. Karenanya ketika kami liburan ke Solo baru-baru ini, saya memasukkan Tumurun Private Museum dalam list tempat yang perlu kami kunjungi.

Mungkin belum banyak yang pernah mendengar soal Tumurun. Museum ini memang baru dibuka April 2018. Promonya dari media yang pernah diundang ke acara soft opening pertama mereka dan dari pengunjung yang kemudian posting di akun social media. Pertanyaan yang paling banyak saya terima waktu saya post di Instagram Story soal Tumurun adalah “berapa harga tiket masuknya?”

Jawabannya nggak ada. Maksudnya tak ada tiket masuk. Yang perlu kamu lakukan kalau mau ke Tumurun adalah whatsapp mereka di no 081227002152 untuk daftar dan nanti mereka akan memberi jadwal kapan kamu bisa ke sana. Di luar acara open house, mereka hanya menerima 10 orang per kunjungan untuk berkeliling museum selama 1 jam. Waktu itu saya dan Biyan cuma berkeliling berdua, mewah sekali. Kenapa nggak usah bayar? Karena ini adalah private museum. Pemiliknya adalah seorang pengusaha tekstil sukses yang memang hobby mengumpulkan karya-karya seni. Lantai 2 museum ini berisi banyak lukisan karya Affandi, Basuki Abdullah, Raden Saleh, dan lain-lain yang adalah koleksi almarhum ayahnya. Untuk kunjungan pribadi (bukan open house), lantai 2 ini ditutup untuk pengunjung.

Tumurun terletak di Jl. Kebangkitan Nasional No 2, Laweyan, Solo. Tidak sulit dicari walau tak ada papan namanya. Cari saja rumah besar dengan pagar tertutup rapat. Kalau sudah punya janji berkunjung, kasi tau namamu ke petugas keamanan dan mereka akan membuka pintu pagar untukmu.

DSC05145.JPG

Sebelum memulai tour, kamu akan dijelaskan dulu sedikit soal Tumurun dan kenapa pemiliknya memutuskan untuk mengumpulkan aneka koleksinya di sebuah museum. Saya dan Biyan dibuat tercengang pertama kali persis sebelum masuk museum. Lighting yang dikontrol dari aplikasi di iPad sungguh digarap serius. Terang benderang dengan sinar matahari yang juga masuk dari sela jendela. Megah, mewah adalah pendapat yang saya rasa tepat untuk menggambarkannya.

Pihak museum akan menemani kamu selama tour dan menjelaskan masing-masing karya seni yang ada. Yang saya suka, ada banyak karya seni di sana dari seniman yang muda-muda. Bahkan ada yang kelahiran 1995.

DSC05077.JPG

Ini adalah lukisan favorit saya di Tumurun. Dilihat sepintas ini kayak foto hitam putih biasa kan ya. Tapi bukan, ini bukan foto. Lukisan ini dibuat oleh Pramuhendra menggunakan arang hitam. Bayangkan, sebuah foto digambar ulang menjadi sebuah lukisan hitam putih dengan menggunakan arang.

DSC05132.JPG

Yang ini adalah favorit Biyan, katanya karena gambarnya ada ceritanya. Ada yang bisa menebak ini cerita tentang apa? Lukisan karya Heri Dono ini diberi judul “Badman and Superbad” Beberapa teman bilang nggak aneh yang ini jadi favorit Biyan. Gaya menggambar dan warnanya memang agak mirip dengan gaya menggambar Biyan. Kalau belum pernah lihat, silakan mampir ke instagramnya : @by.biyansilalahi

DSC05086.JPG

DSC05087.JPG

Masih banyak karya seni yang membuat saya dan Biyan berdecak-decak kagum. Misalnya gambar soal penangkapan Diponegoro karya Eddy Susanto ini. Ini bukan gambar biasa, coba perhatikan lebih dekat. Ada Aksara Jawa di seluruh bagian lukisannya. Aksara Jawa ini punya cerita lain. Kalau penasaran ceritanya apa, maka kamu perlu berkunjung sendiri ke Tumurun.

DSC05074.JPG

DSC05076.JPGDi sudut ruangan yang lain kami mendapati sebuah meja kayu besar yang permukaannya diukir cerita The Last Supper yang terkenal itu. Ukirannya bukan sembarang ukiran. Coba perhatikan, gambarnya dibentuk dari Aksara Jawa. Berarti ada cerita lain selain cerita soal The Last Supper itu sendiri. Selain meja kayu, The Last Supper bisa kamu lihat di sebuah lukisan dan sebuah neon box yang ditempatkan di area yang sama. Karya Eddy Susanto ini memang mengagumkan.

DSC05103.JPG

Saya dan Biyan juga suka karya Eddie Hara yang ada di Tumurun. Seperti biasa, karyanya selalu penuh warna. Ada juga lukisan kelam dari seniman asal Bandung, Christine Ay Tjoe.

DSC05110.JPG

Yang ke ArtJog taun lalu pasti ingat dengan karya berjudul The Flying Eyes bikinan Wedhar Riyadi. Sekarang dia ada di Tumurun.

DSC05078.JPG

Bukan cuma lukisan, ada 3 mobil mewah antik koleksi alm HM Lukminto, ayah dari pemilik Tumurun. Walaupun berkesan nggak nyambung, anehnya 3 mobil ini memberi kesan ‘cerah’ pada ruangan museum. Nampaknya seni memang nggak harus nyambung ya 🙂

Attachment-1.jpeg

Dan mumpung masih suasana perayaan kemerdekaan RI, coba lihat karyanya Rudi Mantofani ini

Jadi, kalau kamu kapan gitu mau main ke Solo, sempatkanlah mampir ke Tumurun. Jangan lupa untuk whatsapp dulu menanyakan jadwal kapan persisnya kamu bisa datang. Saran saya, tanyalah jauh-jauh hari supaya nggak kehabisan jadwalnya. Walau nggak ngerti-ngerti amat soal seni seperti saya, dijamin kamu akan menikmati waktu kunjunganmu ke Tumurun. Foto-foto boleh asal perhatikan aturan yang dijelaskan di awal oleh pengelola ; jangan terlalu dekat, jangan pakai flash dan jangan menghalangi tamu lain cuma demi foto kamu. Kabarnya sekarang semua lukisan di Tumurun sudah diberi QR code yang bisa kamu scan untuk melihat informasi soal lukisan tersebut. Canggih dan sangat mempermudah. Walaupun begitu, saya merasa sangat beruntung waktu itu berkeliling langsung ditemani dan di-guide oleh Mbak Sari, General Manager Tumurun.  Sangat informatif, edukatif dan insightful.

DSC05129.JPG

Sebuah pesan penting buat kamu yang mau mengunjungi Tumurun adalah : di dekat museum ini ada Sate Kambing Pak Manto yang terkenal itu. Sate Buntel dan Tengkleng Kambingnya enak sekali. Penting kan pesannya 😉

 

 

12 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

12 responses to “Solo : Tumurun – Private Museum yang Bikin Berdecak

  1. Zam

    wah, sebagai orang Solo (yang udah ganti KTP), saya baru tau ada museum ini. sepertinya menarik untuk dikunjungi saat mudik.

    ini mengingatkan saya dengan museum di tengah kebun di Kemang. saya beruntung bisa masuk bahkan ngobrol langsung dengan si tuan rumah sekaligus empunya.

  2. wuah
    keren banget, dan hratis.
    tapi kalo liburan cuma sehari dua hari, susah juga ya dapat jadwal kunjungan (karena dari pihak museum yang nentuin)

  3. Salam kenal mbak 🙂 Wah saya baru dengar museum ini. Beberapa kali ingin ke Solo tapi bingung kemana karena udah sering. Setelah baca ini jadi pingin ke museum privat ini. Karya-karyanya menarik semua. Dari foto-foto di post ini saya juga paling kagum dengan karya Pramuhendra (yang awalnya saya kira foto BW!). Terima kasih infonya mbak!

    • Pashatama

      Heeey, salam kenal Aggy 🙂
      Solo lagi menarik belakangan ini. Ada Tumurun dan ada Tjolomadoe juga Museum Rumah Atsiri (yang ini aku belum sempat ke sana).

      Eh iya aku juga ngefans berat sama karyanya Pramuhendra yang itu. Cakep ya!

  4. Sering lewat..saya orang solo mbk..hehee..blm pernah masuk..pdhl dl dapet undangan openingnya…pas ada acara jg jd gbs..

  5. Nadia

    Baca blognya pashatama memang harus tuntas. Karena diakhir tulisannya ada pesan yang ga kalah penting 🙂

  6. Now that’s a classy museum. Cuman 10 orang perhari. Ga nyari untung, nyari kualitas. Menawrik!

    • Pashatama

      masuknya gratis, jauuuhhhh dari mencari untung ini sih :))
      dan senang karena dikelola secara serius dan rapi. kamu mesti ke sana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s