Buka Resto Nggak Cuma Soal Modal Gede

Sebagai warga Bandung, hampir setiap minggu saya melihat ada tempat makan baru, be it coffee shop, resto, bistro maupun café. Seneng? Tentu saja, karena banyaknya tempat makan baru ini membuat saya nggak akan kehabisan bahan untuk menulis di surgamakan.com dan posting Instagram di @surgamakan.

Walaupun saya tidak lagi menerima undangan makan, undangan review atau pun endorse, tapi datang ke tempat-tempat makan baru (hampir) selalu saya lakukan. Kadang karena serius pengen coba makanannya, kadang cuma penasaran aja apa sih bedanya satu tempat dengan tempat yang lain.

Continue reading

16 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Rawa Pening yang Kian Bikin Pening

“Nah bisa juga jadi gini nih”, begitu kata Pak Irwan Hidayat, Presdir PT Sido Muncul sambil menunjuk kalung yang saya pakai ketika saya dan beberapa teman blogger lain tiba di Rawa Pening hari itu. Tadinya saya kira kami hanya akan diajak ke pabrik Sido Muncul saja, tapi kenapa tiba-tiba jadi ngomongin kalung saya ya?

Continue reading

3 Comments

Filed under jalan-jalan, Kerja, kerjaan, Saya, Saya, dan Saya

Bliss Surfer Bali : Buat Liburan Selanjutnya

Dipikir-pikir, salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan orang sama saya mungkin adalah “hotel di Bali yang enak apa ya Say?”. Tentu saya ini pertanyaan paling banyak kedua setelah pertanyaan pertama yang “kapan nambah anak lagi?”.

Pertanyaan pertama sih udah jelas malas jawab, tapi pertanyaan kedua tentu saja selalu saya jawab dengan senang hati.

Kalau kamu tanya hotel apa di Bali yang strategis, deket ke tempat makan, deket ke tempat nongkrong, tidak terlalu jauh dari pantai, kolam renangnya cakep, dan harganya tidak terlalu mahal makan Bliss Surfer di Kuta adalah jawabannya.

Continue reading

2 Comments

Filed under Cantik, jalan-jalan, Saya, Saya, dan Saya

Kenapa #GerakanKakiDiAtasMejaTiap Jumat Sekarang Tanpa Meja?

Tanpa terasa, kayaknya main-mainan posting kaki ini sudah hampir tiga tahun saja. Dari cuma iseng posting foto kaki di atas meja kantor dalam rangka merayakan datangnya weekend, sampai sekarang keterusan.

Sebentar, kalau belum tau alasan kenapa saya suka posting foto kaki setiap hari Jumat, kamu perlu baca ini dulu.

Trus beberapa bulan ke belakang banyak yang tanya, katanya #GerakanKakiDiAtasMejaTiapJumat, kok nggak ada mejanya?

Continue reading

19 Comments

Filed under Iseng Abis, jalan-jalan, Saya, Saya, dan Saya

2016, Kamu Brengsek!

Begitulah yang terus menerus saya dengar terutama menjelang akhir tahun ini. Selain brengsek, 2016 juga dianggap banyak bawa sial, bawa susah dan banyak yang tak sabar agar dia segera berakhir. Meninggalnya Carrie Fisher yang membuat nyaris semua orang di timeline (path & twitter terutama) sedih ternyata nggak cukup untuk membuat 2016 menjadi beneran brengsek. Karena tak lama kemudian Debbie Reynolds, ibunya Carrie meninggal pula karena katanya saking sedihnya.

Nggak cukup, George Michael, penyanyi kesukaan saya sejak kecil juga meninggal di 2016. Mendengar Careless Whisper dan Faith tak lagi terasa sama. Nggak tanggung-tanggung, meninggalnya pas Natal pula, lagu Last Christmas ternyata beneran Last Christmas untuknya.

Nggak cuma yang meninggal-meninggal, timeline Twitter super nyebelin pula di taun 2016. Pilkada DKI yang kemudian beritanya diteruskan dengan berita-berita sentimen agama, sentimen ras, intoleransi, kekerasan, pembunuhan, perampokan. You name it. Apa yang 2016 nggak punya? Semua ada. Gempa, banjir, Aleppo, Dian Sastro potong rambut pendek tapi tetep cantik aja, Keenan Pearce punya pacar baru. Apalagi?

Continue reading

18 Comments

Filed under Buku, Cinta, Family, Just a Thought, life, Saya, Saya, dan Saya

Lasem : Menelusuri Kisahnya Dalam Satu Hari

fullsizerender

Begitulah yang tertera di sebuah tembok yang kami temui di Karangturi, Lasem, Kabupaten Rembang. Menurut Pak Ramelan, guide kami hari itu, warga asli Lasem memang banyak yang sudah hijrah ke kota-kota besar seperti Semarang, Jakarta, Surabaya dan lain-lain tanpa menjual rumah peninggalan keluarganya di sana. Alhasil ada banyak rumah tua yang ditinggalkan hanya dengan penunggunya saja. Penunggu ini adalah orang-orang yang sudah bekerja pada pemilik rumah selama bertahun-tahun. Pemilik rumah menolak menjual rumahnya karena mereka percaya bahwa keberadaan rumah inilah yang membuat mereka berhasil dalam usaha-usahanya.

Continue reading

34 Comments

Filed under life, Makan Minum, Saya, Saya, dan Saya, traveling

Toleransi yang Teori Bukan yang Praktek

Malam itu, 4 November 2016 saya sedang ada di Bali, dan anak saya satu-satunya si Biyan ada di rumah, di Bandung. Suasana berlibur saya diwarnai dengan intip-intip timeline twitter dan berita-berita seputar aksi (katanya) damai yang terjadi di Jakarta selepas salat Jumat. Lepas maghrib, berita-berita  mulai mencekam. Aksi (katanya) damai kemudian dimanfaatkan orang-orang tak bertanggung jawab untuk melakukan kejahatan dan tindakan kriminal di jalanan dan sempat terlintas kabar bahwa sayangnya (lagi-lagi) bawa-bawa urusan etnis Cina.

Continue reading

33 Comments

Filed under Cinta, Family, Friends, Saya, Saya, dan Saya