Kampung Kaleng yang Bukan Cuma Bikin Kaleng

Waktu pertama kali mendengar nama Kampung Kaleng, saya kira ini kampung yang berisik. Namanya juga kaleng, kan suka bikin berisik. Ternyata salah duga. Kampung yang berlokasi di Kampung Dukuh, Citeureup disebut Kampung Kaleng karena merupakan sentra industri kerajinan berbahan dasar kaleng/alumunium. Kampung ini juga merupakan desa mitra PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (“Indocement”) Produsen Semen Tiga Roda dan Semen Rajawali, makanya kemarin itu saya dan beberapa teman blogger diundang ke sana untuk melihat langsung proses pembuatan kerajinan berbahan dasar kaleng/alumunium. Misalnya nih ya; toples mini, oven, panci, dandang, sampai kaleng kerupuk pun ada. Aneka produk industri besar juga diproduksi di sini seperti ducting AC, tempat sampah, rambu-rambu dan masih banyak lagi. Kunjungan yang menarik karena saya belum pernah lihat langsung pembuatan barang-barang berbahan kaleng begini. Lalu saya pun tergoda jajan kaleng kerupuk mini ini. Rencananya untuk menyimpan koleksi gelang saya yang jumlahnya mengalahkan toko aksesoris itu.

ORG_DSC07321

IMG_4893

Sebagai mitra yang berkomitmen untuk memajukan perajin di Kampung Kaleng, pada tahun 2015 Indocement menginisiasi pendirian koperasi untuk menaungi para perajin ini. Namanya Koperasi Rancage, saat ini anggotanya sudah ada 120 perajin, dan tersebar tidak hanya di Kampung Kaleng saja tapi sampai seluruh Kecamatan Citeureup.

DSC07326.JPG

 

DSC07324

Seorang local hero kemudian lahir di tengah pendirian dan kemajuan koperasi ini. Dia adakah Dedi Ahmadi (kemudian dikenal dengan nama Dedi Rancage), seorang perajin yang membantu menyatukan para perajin yang sebelum ada koperasi dulu, terpecah karena persaingan harga yang tidak sehat di antara para perajin sendiri. Atas prestasinya ini, Kang Dedi Rancage kemudian diaugerahi penghargaan Satya Lencana Pembangunan dan Bakti Koperasi yang diserahkan langsung oleh Menteri Koperasi dan UMKM, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga. Saat kami berkunjung ke sana kemarin, Kang Dedi dengan bangga mengenakan dan memperlihatkan medalinya pada kami semua. Terus kita jadi ikut senang dan bangga, padahal baru aja kenal. Sayang waktu itu nggak sempat mengajak Kang Dedi foto bersama karena beliau sedang menerima serombongan teman-teman mahasiswa yang juga lagi kunjungan ke Kampung Kaleng. Pokoknya hari itu, Kampung Kaleng ramai sama tamu deh

Dari Kampung Kaleng kemudian kami diajak ke P3M Indocement yang juga berlokasi di Citeureup. P3M ini singkatan dari Pusat Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat. Seperti P3M yang pernah kami kunjungi di Cirebon, di P3M Citeureup juga dilakukan training dan pembinaan masyarakat sekitar dalam bidang perikanan, peternakan, perkebunan, dan energi bersih.

Di bagian perikanan, ada 2 macam ikan yang dibudidayakan; ikan yang dikonsumsi, dan ikan hias.

IMG_4894

Ikan yang dikonsumsi ada di tambak dan ikan hias ada di ruangan berisi akuarium. Uniknya, di bagian ikan hias ada ikan belida, yaitu ikan yang biasa jadi bahan pempek. Dikategorikan dalam ikan hias karena ekornya bercorak polkadot, cantik sekali.

Di bagian perkebunan kemudian kami diajak melihat kebun melon. Sebagai penggemar melon, saya baru sadar kalau saya ternyata belum pernah melihat wujud pohon melon. Jadi baru kemarin sekali itu liat yang namanya melon masih tergantung di pohonnya. Namanya blogger doyan foto, dikelilingi pohon melon kemudian semua ingin foto-foto. Baiklah tak apa-apa.

 

P3M di Citeureup ini berlokasi di area reklamasi paska tambang. Jadi karena selalu berkomitmen untuk menjaga lingkungan hidup di area pabriknya, Indocement kemudia melakukan reklamasi terhadap 10 hektar area paska tambang di sana. P3M ini juga kemudian menjadi pusat eduwisata bagi anak-anak masyarakat sekitar. Anak-anak SD dan TK diajak mengenal langsung bagaimana beternak kambing, burung puyuh, dan domba. Tapi rupanya bukan cuma anak-anak yang suka bermain dengan kambing domba. Mbak Terry Negeri Kita Sendiri juga tak tahan ingin ikut gendong bayi kambing berumur 5 hari ini. Tak jarang P3M ini juga dijadikan pusat pelatihan dan studi banding mahasiswa.

Selalu ada yang menarik dari setiap kunjungan kami ke Citeureup. Sebelum ke Kampung Kaleng dan area P3M, saya memarkirkan mobil di Mesjid As Salam, tak jauh dari gerbang tol Citeureup. Rupanya mesjid ini juga adalah komitmen Indocement untuk menjadi perusahaan yang berguna bagi masyarakat sekitarnya.

1 Comment

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Ke Batam : Enaknya Ngapain Ya?

Ada beberapa alasan kenapa Batam sesekali perlu dikunjungi :

Continue reading

4 Comments

Filed under hotel review, jalan-jalan, Musik, traveling

Kelapa Sawit si Primadona

Mengunjungi Pangkalan Kerinci membuat saya mengingat sebuah pelajaran jaman SD dulu: transmigrasi. Kalau umur kamu nggak jauh-jauh dari umur saya, kamu tentu ingat bagaimana di sekolah belajar soal program pemerataan penduduk dari pemerintah; karena Pulau Jawa semakin padat maka warga ditawari untuk pindah ke luar pulau dan diberi tanah untuk dijadikan ladang usaha mereka.

Continue reading

2 Comments

Filed under jalan-jalan, Saya, Saya, dan Saya, traveling

Menengok si APRIL ke Pangkalan Kerinci

Pergi ke tempat baru selalu jadi hal yang menyenangkan buat saya. Apalagi kalau tempatnya membuat muncul pertanyaan semacam “mau ngapain sih ke sana?” “apa sih yang mau dikerjain di sana?”. Karena artinya, tempatnya nggak pasaran dan ada hal menarik yang memang bisa dikerjakan di sana.

Karenanya saat saya mendapat undangan untuk berkunjung ke Pangkalan Kerinci di Riau, saya langsung mengiyakan dengan rasa penasaran “apa sih yang bisa dilihat di sana?”

Continue reading

1 Comment

Filed under jalan-jalan, Kerja, kerjaan, Saya, Saya, dan Saya, traveling

Solo : Tumurun – Private Museum yang Bikin Berdecak

Berkunjung ke museum seni tadinya tak pernah ada dalam list saya. Tapi belakangan, anak saya, Biyan lagi senang menggambar dan saya ingin mengajak dia melihat lukisan/gambar/instalasi seni apapun supaya dia lebih banyak referensinya. Karenanya ketika kami liburan ke Solo baru-baru ini, saya memasukkan Tumurun Private Museum dalam list tempat yang perlu kami kunjungi.

Mungkin belum banyak yang pernah mendengar soal Tumurun. Museum ini memang baru dibuka April 2018. Promonya dari media yang pernah diundang ke acara soft opening pertama mereka dan dari pengunjung yang kemudian posting di akun social media. Pertanyaan yang paling banyak saya terima waktu saya post di Instagram Story soal Tumurun adalah “berapa harga tiket masuknya?”

Continue reading

12 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Menginap di Umalas : Aliya Boutique Hotel

Ada beberapa hotel yang begitu selesai proses check in dan masuk kamar membuat saya otomatis mengeluarkan perlengkapan perang berupa toiletries dan menatanya di kamar mandi dengan rapi seperti di kamar mandi sendiri di rumah. Aliya Boutique Hotel adalah salah satunya. Hotel kecil manis ini terletak di Jl Umalas II. Akses dan carinya gampang aja kok, dari perempatan Kerobokan-Petitenget tinggal lurus aja dari arah Kerobokan sampai nemu Jl. Umalas lalu belok kiri. Ah sekarang kan ada google map dan waze, nggak ada lagi alasan susah cari tempat mestinya. Yang belum pake google map atau waze, ayo di-install dulu di henponnya 🙂

Hanya ada 8 bungalow di Aliya, masing-masing bungalow terdiri dari dua lantai. Lantai atas buat kamar, lantai bawah ada living room yang juga dilengkapi sama pantry kecil bisa buat masak-masak dikit kalau kamu memutuskan untuk spend the day di hotel saat liburan. Kamarnya sendiri bukan yang spacious-spacious amat tapi cukup aja, saya dan Biyan tidur nyenyak pulas selama 3 malam stay di sana. Book-nya cuma 2 malam tadinya tapi kemudian extend semalam lagi karena terlalu betah :))

DSC03793

DSC03701

Continue reading

1 Comment

Filed under hotel review, jalan-jalan

Owa-owa, Primata Romantis yang Nyaris Punah

Kata orang, kunjungilah tempat baru setidaknya setahun sekali. Tahun lalu, tempat yang saya kunjungi untuk pertama kali adalah Sumba dan Xiamen. Sumba karena pergi main sama Vira dan @t_ourjourneys, Xiamen karena #XiamenFamTrip bersama Xiamen Air.

Tahun ini, undangan pergi ke tempat baru datang dari PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (Indocement). Tak tanggung-tanggung, kami diajak ke komplek pabrik mereka yang ada di Tarjun. Kalau boleh jujur, pertama kali saya mendengar tempat bernama Tarjun ya dari Indocement. Desa kecil di wilayah Kelumpang Hilir ini terletak di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Ada dua pabrik besar di lokasi ini, yaitu Indocement, dan pabrik pengolahan minyak sawit yang cukup terkenal.

Lalu ngapain ke Tarjun?, – begitu pertanyaan yang saya terima dari teman-teman. “nengok bekantan”, begitu jawab saya sambil ketawa.

Continue reading

2 Comments

Filed under jalan-jalan, Kerja, kerjaan, traveling