Situasi : Survival Mode

Pernah nggak bertanya-tanya kenapa di masa (mestinya) sulit berjualan makanan karena banyaknya regulasi yang berkaitan dengan protokol kesehatan ini (yes yes those magic words) kok masih ada aja teman-teman pengusaha makanan yang buka usaha baru? Usaha baru ini bukan dalam bentuk berjualan makanan frozen ya, tapi usaha buka tempat makan baru, buka tempat ngopi baru. Entah kalau di kota-kota lain, kalau di Bandung sih adanya drama pandemik ini nampaknya tidak (terlalu) menyurutkan hasrat para pengusaha untuk membuka tempat makan baru.

Saya kemudian menyadari bahwa bukanya tempat makan baru ini adalah justru merupakan salah satu cara mereka untuk bertahan di tengah sulitnya situasi sekarang. Dari awal pandemi, saya melihat banyak teman-teman bertahan dengan cara yang mungkin tadinya tidak terpikirkan sebelumnya. Yang paling umum adalah yang kemudian banting stir berjualan makanan frozen. Basahnya ladang makanan frozen kemudian juga memancing mereka yang tadinya tidak berbisnis makanan kemudian jadi ikut berjualan makanan. Ini sebuah fenomena yang menarik dan menguntungkan untuk para pembeli. Kenapa? Karena kita yang suka jajan kemudian bisa mencoba makanan-makanan yang tadinya hanya mereka masak untuk konsumsi di rumah, dari beberapa makanan yang saya coba beli, eh enak-enak! Bisa jadi juga karena yang masak masih dalam mode masak buat di rumah sendiri, jadi belum terlalu itung-itungan soal bahan seperti orang yang memang masak buat berjualan. Keuntungan lainnya adalah variasi makanan yang tak kunjung habis, setiap minggu (bahkan setiap hari!) rasanya ada aja ide makanan baru yang kemudian dijual dengan cara PO atau Purchase Order.

Sementara itu, teman-teman yang punya coffee shop kemudian mulai menjual es kopi susu dan beberapa produk lain dalam bentuk botol literan untuk dinikmati di rumah. Ini juga adalah fenomena menarik, terutama ketika tempat ngopi sekelas Starbucks pun ikutan melakukan hal yang sama. Ada juga teman-teman penjual kopi yang kemudian berkolaborasi dengan brand makanan untuk menjual kopinya dalam bentuk bundling dengan makanan. Promonya double dari masing-masing brand, tentu diharapkan hasilnya lebih maksimal.

Kemudian kita juga melihat beberapa upaya lain dari pengusaha-pengusaha makanan misalnya mengadakan service delivery dengan sepeda (dikombinasikan dengan yang lagi ngetrend saat ini), ada juga yang mencoba mendekatkan diri dengan pembeli secara lokasi dengan membuka counter kecil di beberapa titik.

Seorang teman yang mempunya usaha tempat makan dengan skala cukup besar pun kemudian berniat membuka kedai makanan yang kecil berbentuk warung di tempat yang sangat sederhana dibandingkan tempat usahanya sebelumnya.

Ketidakmungkinan orang-orang untuk bepergian ke luar kota pun kemudian membuat usaha-usaha jastip semakin marak. Makanan-makanan dari Bandung dibawakan ke luar kota, pun demikian dengan makanan-makanan dari kota lain kemudian ramai-ramai dipesan dari Bandung.

Usaha makanan yang sedang saya jalani pun sedang menjalani masa-masa sulit. Kalau sebelumnya kami selalu meng-encourage orang untuk datang langsung dan menikmati makanan di tempat, maka sekarang kami harus memutar otak untuk membuat orang-orang bisa menikmati menu kami di rumahnya masing-masing. Kemudian si makanan yang tadinya bahkan tidak disarankan untuk di-take away walau masih di Bandung-Bandung juga pun kemudian mulai dikirim ke luar kota dari Jakarta, Solo, dll dll sampai ke Bali. Sebuah bentuk bisnis yang tadinya sama sekali tidak terpikirkan. Sebuah solusi yang kemudian muncul dari sebuah krisis.

Semua orang memutar otak untuk dapat bertahan di situasi yang sulit ini.

Semua orang sedang ada dalam mode yang sama : survival mode.

Caranya berbeda-beda tapi tujuannya sama : bertahan.

Termasuk juga perihal yang saya sebutkan di awal tulisan ini. Kenapa katanya lagi susah jualan kok orang malah buka tempat makan baru? Ya itu juga salah satu bentuk untuk bertahan. Memang mungkin juga ada yang terjadwal buka di bulan-bulan awal pandemi ya, tadinya tertunda dan baru bisa terealisasi sekarang.

Satu hal yang saya yakini, bahwa kita adalah makhluk yang sangat adaptif. Di tengah situasi yang sulit, percayalah selalu ada jalan yang bisa kita tempuh (ayo aminkan dulu).

Jadi ingat sebuah doa yang dulu sering saya dengar ; don’t ask for better days, ask for more strength to survive in rainy days. Ya walaupun tentunya kita semua berharap situasi ini segera usai dan rainy days nya udahan ya, tapi ngerti kan maksudnya.

Buat teman-teman yang berusaha apapun, semangat ya.

6 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

6 responses to “Situasi : Survival Mode

  1. That’s true. Setuju. Karena dalam situasi apapun, mau bertahan hidup berarti harus mau beradaptasi. And here we are. Keep writing kalau sempat 🙂

  2. Sekarang memang otak harus berpikir keras, salah satunya usaha jualan. Teman dekat saya beliau bekerja di Bimbel, sekarang sudah menyicil bikin cemilan dan dijual bersama kawannya di Bimbel. ini cara terbaik di masa pandemi

  3. Ira

    aku sukaa sama tulisannya.
    memang bertahan itu berarti mesti adjust and adapt sambil tetep berusaha mewaraskan diri juga.

  4. Postingan yang luar biasa. Emang bener sih, kita selalu akan mencari solusi untuk mengatasi masalah yang datang ke kita secara alami

  5. Halo mba, setuju bgt. Aku jg skrg brtahan di jualan masakan frozen. Masakan ala rumahan yg bumbu2nya emg msh blm terlalu itungan, margin masih tipis bgt… Tp itulah yg penting: survive dulu! ❤️

  6. Bener, Mbak, bisnis makanan keliatannya paling menjanjikan dan seberat apa pun, yang beli ada-ada aja. Temen-temen Dea yang seniman, psikolog, EO, musisi, pada mulai jualan makanan. Ada juga yang buka restoran justru karena bisnis besarnya lagi berat, sementara dia tetep harus ada income.

    Kita emang lagi dipaksa adaptasi. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, banyak baiknya. Mungkin emang musti begini tahapannya kalau kita pengen kehidupan lestari.

    Makasih buat tulisannya, ya, Mbak.
    Jaga kesehatan fisik-mental selama menyintas 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s