1001 Sudut Pandang

Seperti biasa judul postingan harus lebay agar supaya mengandug click bait seperti media-media nasional. Padahal maksud saya bukan harus punya 1001 sudut pandang, yang penting lebih dari 1 aja. Karena orang yang punya sudut pandang cuma satu itu artinya miskin.

Kenapa sih biasanya ngomongin jalan-jalan dan makanan enak kok sekarang jadi ngomongin sudut pandang?

Mau nggak mau ini ada hubungannya sama 2019 yang baru aja berakhir dan 2020 yang baru aja dateng. Jadi saya menyadari bahwa belakangan (atau mungkin sebenernya udah lama), saya kok agak gampang marah ya. Gampang kesel, gampang ga seneng sama orang. Dan ujung-ujungnya ruined my day dan sebel sendiri jadinya. Iya, toxic.

Contohnya gampang, pas denger suatu hal, saya bisa terpancing marah, kemudian setelah ngomel-ngomel baru sadar kalau eh kalau saya lihat dari sudut pandang lain ternyata saya nggak punya alasan marah.

Setelah mulai mencoba membiasakan diri melihat satu hal dari beberapa sudut pandang berbeda, perasaan saya jadi sedikit lebih ringan karena ga dikit-dikit kesel. Perlu diakui, ini ga gampang karena tetep aja masih lebih gampang marah duluan ketimbang mikirin sudut pandang lain yang tidak kita lihat sebelumnya.

Membiasakan diri untuk punya sudut pandang yang berbeda juga bisa dilatih dengan bergaul dengan orang-orang yang berbeda circle dengan teman-teman yang biasa. Selama ini, karena pekerjaan (dan hobby) saya banyak berhubungan dengan mengambil foto, posting di social media, maka saya terbiasa bergaul dengan orang-orang yang sangat mementingkan warna makanan apa yang akan dipesan dengan alasan demi konten. Don’t get me wrong, saya pun sangat menikmati proses ini. Saya menikmati memotret makanan sebelum makan dan kemudian posting di social media. Saya menikmati berkeliling tempat ngopi mengumpulkan konten yang kemudian akan saya posting di Twitter (atau Instagram). Saya pun tergelak tapi sungguh mengerti alasannya saat seorang teman memesan minuman berwarna pink dan ungu hanya dengan alasan “biar bagus difotonya”.

Saat saya bertemu dengan mereka yang berlainan kebiasaannya, ternyata menarik juga lho. Saat ngopi bisa di mana aja tanpa harus mikir ada pojok yang instagramable apa engga, saat minum ya minum aja tanpa harus mikir fotonya bagus diambil dari sudut mana. Saat kepengen kopi tinggal teriak “Mang! Kopi satu!” dan kemudian kopi yang dateng ya cukup kopi sachet yang disuguhkan dalam gelas yang jauh dari cangkirgenic.

Saya merasakan suasana baru yang menyenangkan. Seperti punya energi baru.

Jadi kalau kamu lagi suntuk dan merasa gampang marah seperti saya kemarin-kemarin, bolehlah ya saya sarankan untuk mencari kerumunan baru, tanpa perlu meninggalkan kerumunan kamu yang biasa. Ternyata suasana baru itu penting. Penting buat kamu.

Cobain deh 🙂

 

3 Comments

Filed under Cinta, Just a Thought, life, Saya, Saya, dan Saya

3 responses to “1001 Sudut Pandang

  1. kalau sya pribadi merasa marah biasanya tidur hehe..
    me time dirumah..

    • Pashatama

      ahaha iya tulisan ini maksudnya saat sudah me-time, sudah mandi (saya biasanya kalau legi kesal kemudian mandi gaka sedikit berkurang kesalnya). dan sudah lain-lain tapi mood nya tidak membaik.

  2. Ih kok ngena banget yaaa teh..kl aku dulu gedeg banget sama orang yg dikit-kikit selfie (karena akunya ga suka) eh seruangan kerja sama yg hobi banget selfie, ternyata lama lama lucu juga liat perjuangan bagaimana 1 selfie yg “layak naik ke feeds” itu tercipta huahahahah sekarang malah berteman dekat sama si tukang selfie itu :))))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s