Menengok Gili (dan Lombok) Setelah Gempa 7SR

Gempa berkekuatan 5-7 SR yang menimpa Lombok akhir Juli dan Agustus 2018 lalu memang meluluhlantakkan kehidupan pariwisata Lombok. Termasuk juga area Gili Trawangan, Meno dan Air yang biasanya ramai dikunjungi turis. Ya gimana engga, mau berlibur ke pulau kan jadi ekstra khawatir, ngeri gempa, ngeri tsunami, dan ngeri kalau keduanya terjadi, evakuasinya gimana?

Tapi akhir Desember 2018 lalu saya agak nekad pergi berlibur ke Gili Air. Niatnya memang mau menghabiskan pergantian tahun di Gili Air. Kenapa saya bilang nekad? Karena setelah gempa Lombok itu, saya belum menemukan tulisan yang menceritakan gimana sih Gili-gili ini keadaannya setelah gempa. Ada sih beberapa akun Instagram yang pertamanya masih post foto Gili pasca gempa, tapi kemudian mereka berhenti posting, bisa jadi karena Gili dinilai sudah kembali normal, atau yang posting masih sibuk beres-beres pasca gempa. Nekad kedua adalah karena sebelum pergi ada peringatan kalau Selat Lombok termasuk ke area yang perlu diwaspadai sehubungan dengan angin yang cukup kencang akhir taun kemarin.

Berhubung kadung udah ngebayangin pengen malem taun baruan di pulau (dan kadung udah beli tiket bahkan sebelum gempa sebenernya sih), maka saya memutuskan tetap pergi ke Gili Air.

“Usahakan menyeberang sebelum jam 12. Karena setelah jam 12 siang, anginnya pasti makin gede”, begitu kata Firsta. Untung diingetin, maka acara makan Ayam Taliwang yang tadinya mau dilaksanakan sebelum menyebrang ke Gili saya pindahkan jadi ke hari terakhir. Tentu saja keselamatan saat menyeberang jadi prioritas utama di atas urusan Ayam Taliwang kan ya, walau keduanya sama-sama penting.

Ini adalah pertama kali saya ke Gili Air setelah sebelumnya selalu ke Gili Trawangan. Tadinya memilih Gili Air karena perkiraan Trawangan akan penuh sesak dengan orang yang berniat party di malam tahun baru. Tau kaaan, di Gili Trawangan suka banyak party-party gitu. Saya lupa kalau ini abis gempa. Maka Gili Air yang biasanya memang lebih sepi daripada Gili Trawangan itu sekarang ya sepi banget. Terlalu sepi.

Walau sepi, tapi masih ada aja kok turis yang pergi ke Gili Air. Seperti biasa, rata-rata yang sudah kelamaan di Bali kemudian ingin cari suasana lain maka pergilah mereka ke Gili. Saya hanya menjumpai satu keluarga turis dometik selama 4 hari di sana. Ya selain urusan gempa di Lombok kayaknya orang-orang lagi menghindar berlibur ke pantai setelah tsunami Selat Sunda.

IMG_2177

Malam Tahun Baru di Gili Air 

Sisa-sisa gempa masih terlihat di beberapa tempat. Ada yang rumahnya hancur dan belum dibangun lagi, ada tiang listrik miring, ada kolam renang yang retak dan nyaris terbelah. Yang nyata terlihat adalah beberapa opeartor snorkeling/diving/day tour yang kelihatannya belum membuka lagi usahanya setelah sempat tutup karena gempa. Beberapa restoran juga nampaknya belum beroperasional kembali.

Walau begitu, Gili Air tetap aja cantik. Saya bersepeda di kegelapan hanya untuk mengejar sunrise di sisi timur pulau. Kemudian sore-sore bersepeda ke arah barat untuk menikmati cantiknya sunset.

ORG_DSC08717

Tanpa harus pergi snorkeling, saya masih bisa liat ikan-ikan cantik berenang hanya bermodalkan kaca mata renang. Iya, airnya masih jernih banget, 5-10 langkah dari bibir pantai aja udah bisa liat ikan dan terumbu karang yang cantik-cantik.

Jadi tibalah kita pada pertanyaan penting :

Apakah Gili sudah asik lagi untuk dikunjungi?

Jawabannya : udah.

Bukan hanya udah ok, tapi mereka memang perlu kita kunjungi kembali. Hampir 100% penduduk di sana hidup dari pariwisata, kalau nggak ada pengunjung, ya kebayang kan bagaimana mereka menghidupi kehidupannya sehari-hari.

Hampir semua hotel sudah merenovasi tempatnya dan siap dikunjungi lagi. Kebanyakan semua sudah normal, hanya beberapa hotel saja yang tidak semua kamarnya bisa dipakai. Kalau berencana ke sana, kamu bisa coba menginap di Captain Goodtimes, tempat saya menginap kemarin. Bangunannya kebetulan baru, rampung dibangun justru setelah gempa usai. Ada beberapa bungalow kapasitas 2-3 orang, dan ada 1 villa berisi 2 kamar yang bisa ditinggali oleh 8 orang (1 kamar untuk berdua dan 1 kamar lagi buat berenam, 1 double bed dan 4 bunkbed). Masing-masing kamar ada kamar mandinya. Harganya sangat masuk akal.

Yang istimewa dari Captain Goodtimes adalah servicenya. Staff di sana memberikan service terbaik pada tamunya. The best of hospitality you could ever get pokoknya.

IMG_1925

Snapseed (2)

IMG_2377

Captain Goodtimes’ Best Crew  

Kalau kamu lebih pilih model hostel, bisa cek juga Captain Coconuts Gili yang (sempat kuintip) kelihatannya asik juga apalagi kalau perginya berbarengan dengan teman-teman banyakan. Pilihan hotel lain kamu bisa intip juga Pink Coco Gili Air, Scallywags Smuggler Hideaways, Scallywags Mango Retreat, Gili Air Lagoon Resort. Harganya variatif banget, dari yang “terjangkau” sampe yang “terjangkau kalau kamu budgetnya lumayan”. Groupnya Scallywags juga punya kelas motel kalau kamu mau mengirit biaya akomodasi. Pendeknya, di Gili Air itu mau mewah bisa mau sederhana juga bisa, garis pantainya sama-sama aja kok, paling yang beda cuma soal kolam renangnya aja yakan 🙂

Yang sering ditanyakan sama saya setiap liburan ke Gili juga adalah soal makanannya. Nah emang kalau liburan ke Gili jangan kepengen banget makan enak sih, maksudnya jangan jadi tujuan liburan, gitu. Soalnya, makanan di Gili itu jarang enak banget sampe kita teringat-ingat terus. Karena udah hafal sama situasi ini (dan juga berhubung baru kelar gempa ya kita antisipasi tempat makan masih banyak yang tutup kan), jadi kemarin saya bekal kentang kering pedes dan ikan yang digoreng kering kriuk trus dibalado *glek*, dan ternyata ini adalah ide yang sangat brilian karena kemudian kami kerjaannya jajan nasi bungkus di pinggir pantai, bawa ke villa, lalu makannya ditambah kentang kering dan ikan balado. Nyam-nyam. Sama seperti di Trawangan, BBQ terbaik tersedia di Scallywags dengan harga yang (walaupun ga murah-murah amat tapi) lumayan worth it. Soalnya dengan beli satu main course. kamu bisa makan salad dan pastanya all you can eat plus rasanya enak pula. Jadi kalau liburan dua-tiga malam di Gili Air. Kombinasi antara makan BBQ di Scallywags dan jajan nasi bungkus di dekat dermaga adalah pilihan terbaik.

ORG_DSC08723

Scallywags – Best BBQ in the Island 

IMG_1955

Jajan nasi bungkus dekat dermaga

Oiya, kalau kamu ke Gili Air, mampirlah ke Breadelicious ini, pasta dan gelatonya enak-enak. Asik juga buat ngadem sore-sore sehabis sepedaan keliling pulau.

IMG_2055

Perihal transportasi dan akses, selalu ada dua cara untuk sampai ke Gili. Yang pertama adalah terbang ke Lombok, kemudian dari bandara bisa sewa mobil atau naik damri sampai Senggigi kemudian naik taxi ke dermaga Bangsal (baca : taxinya lumayan mahal). Cara kedua adalah naik fast boat dari Dermaga Padang Bai, Bali Timur. Jangan repot-repot mikir gimana cara ke Padang Bai nya, karena kalau kamu book fast boat dengan harga 550rb PP ke Gili, harganya udah termasuk jemput ke hotelmu di Bali (usahakan jangan hotel yang masuk-masuk gang dan sulit ditemui ya), dan termasuk pula nganter kamu balik ke beberapa titik di Bali (Kuta, Seminyak, Sanur dll). Pengantaran baliknya ini nggak sampai hotel ya, cuma sampai titik populer di area kamu aja. Misalnya nih kalau mau ke Seminyak, mereka akan antar kamu sampai Supermarket Bintang yang ada di Jalan Raya Seminyak. Kalau kamu ke Kuta, mereka akan anter kamu sampai Pasar Kuta. Pernah sekali waktu saat sampai Padang Bai saya hampir kena scam, jadi saya ditanya orang mau ke mana. Saat saya jawab ke Seminyak, dia ajak saya ke ikut “ke Seminyak saya yang antar”, katanya. Pas mau naik mobil saya diminta biaya lagi Rp. 400.000 (waktu itu berdua Biyan). Lha kan harganya udah termasuk fast boat? Mereka kemudian beralasan kalau shuttle akan muter-muter dulu sampai Ubud baru titik terakhir di Seminyak. “Bisa-bisa jam 12 malam baru sampai Seminyak”, begitu katanya. Bhay. Makanya pastikan kamu naik mobil yang ada tulisan fast boat kamu supaya ga kena biaya dan ga kena tipu-tipu lagi. Nggak mungkin banget kok dari Padang Bai ke Ubud dulu baru ke Seminyak, itu sih nyusahin mereka sendiri wong jalurnya beda.

Ada keuntungan lain kalau kamu mengambil jalur dari Lombok. Sebelum dan sesudahnya kamu bisa jalan-jalan dulu ke Lombok yang ya-ampun-kok-landscapenya-cantik-amat. Saya menyempatkan diri menginap semalam di Lombok setelah dari Gili Air. Menginap di rumah cantik bernama Sweet Peach House di Mataram dan diajak ke Bukit Merese dan sempat juga ke Mandalika, sebuah kawasan pantai di Lombok.

IMG_2432

IMG_2422

Sweet Peach House, Lombok

Processed with VSCO with g6 preset

Bukit Merese

Kalau kamu berniat keliling-keliling lombok, coba hubungi Kang Ingga di Instagramnya : @debucung yang mana udahlah dia itu ahlinya pariwisata Lombok. Kalau kamu beruntung, bisa juga dapat kesempatan kena sejepret dua jepret secara dia itu motretnya bagus banget.

Jadi, yang masih bingung mau liburan ke mana di musim Lebaran ini, Gili Air, Trawangan, Meno dan Lombok bisalah jadi pilihan ya. Biar makin pengen pergi ke sana, silakan lho disimak video pendek yang isinya “an island life” ini

 

 

Leave a comment

Filed under jalan-jalan, Saya, Saya, dan Saya, traveling

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s