Category Archives: Cinta

Tempat Instagramable Baru di Yogyakarta : Pesanggrahan Rejowinangun atau Situs Warungboto

Kalau saja siang itu kami menyerah setelah google map dan waze mengarahkan kami ke Warung Boto yang lain, jelas saya nggak akan punya foto ini,

FullSizeRender

Sudah beberapa kali saya mendengar yang namanya Situs Warungboto. Baru belakangan saya tahu bahwa Warungboto adalah nama daerah. Jadi google map dan waze sih nggak salah-salah amat, tapi mereka mengarahkan saya dan teman-teman ke Warungboto yang lain.

Untung saja Kang Motulz punya ide cemerlang untuk mencari jalan dengan satellite view di google map dengan perhitungan, kan namanya situs bentuknya pasti beda ama rumah biasa ya. Eh bener aja, langsung ketemu. Dari pinggir jalan Veteran (area Umbulharjo) terlihat situs ini dari arah atas. Tanya punya tanya, ternyata pintu masuknya nggak dari situ, arahan dari seorang bapak-bapak yang siang itu sedang asik ngopi di warung kopi begini “lurus aja, nanti ada belokan ke kiri, setelah belok ada gapura hijau, masuk situ, ada tulisan Situs Warungboto sekalian tempat parkirnya”

DSC04660

Baiklah pendek kata akhirnya ketemu juga pintu masuknya. Memang harus lewat-lewat rumah penduduk sih. Belum ada loket tiket di situs ini. Sampai di sana saya baru tahu bahwa yang sekarang disebut Situs Warungboto ini, dulu bernama Pesanggrahan Rejowinangun. Ada seorang bapak yang duduk di halaman rumah, meminta kami mengisi buku tamu di mana ada beberapa lembar uang sebagai donasi dari yang mengunjungi pesanggrahan ini.

Pesanggrahan Rejowinangun dibangun di masa pemerintahan Hamengkubuwono I dan diselesaikan di masa pemerintahan Hamengkubuwono II. Keseluruhan bangunannya dari bata tanpa unsur kayu, sama seperti yang kita lihat di Taman Sari. Ada foto-foto saat Pesanggrahan Rejowinangun ini belum dipugar. Setelah lama terbengkalai, tentu saja bangunannya mulai rusak. Gempa besar yang menimpa Yogyakarta tahun 2009 juga memperparah kerusakannya. Renovasi kemudian dimulai tahun 2015-216 dan saat ini kita bisa melihat beberapa bagian pesanggrahan yang masih utuh misalnya bagian kolam, pendopo dan masjid.

DSC04665

DSC04766.JPGDSC04702.JPGDSC04679.JPG

Di salah satu bagian ada sebuah kompleks pemakaman keluarga, waktu Mbak Eny Fiersa bilang “eh di sini ada pasarean”, ternyata maksudnya makam. Sementara saya yang Sunda lahir batin menyangka maksudnya “pasarean” itu tempat tidur 🙂

Waktu saya kesana, hanya ada 4 orang lain yang sedang berfoto-foto. Iya, di musim Instagram begini, Pesanggarahan Rejowinangun sungguhlah Instagramable, Instagram-material, apalah-apalah pokoknya asik buat foto-foto. Lagipula saat ini belum ada guide atau pemandu yang bercerita mengenai sejarah situs ini. Jadi satu-satunya kegiatan yang bisa dilakukan di sana yang memang foto-foto.

DSC04760

Ya bisa juga mengambil footage untuk vlog seperti yang dilakukan Kang Motulz. Silakan intip videonya di sini dan jangan lupa subscribe youtube channelnya, pesannya.

Berkeliling di Pesanggrahan Rejowinangun, mau tak mau saya teringat akan Taman Sari. Karena bentuk bangunannya agak mirip, ya toh fungsinya juga sama, sebagai tempat peristirahatan raja dan keluarganya masa itu.

Kelihatannya sih beberapa waktu ke depan Pesanggrahan Rejowinangun ini akan ramai dikunjungi orang. Baik pecinta sejarah maupun pecinta foto-foto. Semoga segera disediakan pemandu yang bisa bercerita dengan fasih perihal sejarah situs ini. Semoga juga nggak ada yang iseng coret-coret dinding dan juga buang sampah sembarangan.

DSC04668

2 Comments

Filed under Cinta, jalan-jalan, Saya, Saya, dan Saya, traveling

8 Tempat Asik Buat Santai-santai dan Bengong Sampe Bego di Bali

Kalau kamu mulai merasa bosen pergi ke Bali karena mainnya ke tempat yang itu-itu aja dan gitu-gitu aja, maka postingan yang ini mestinya bisa bikin kamu pengen ke Bali lagi. Karena ada 8 tempat rekomendasi saya yang mungkin belum pernah kamu datengin

  1. Kampung Jimba – Ungasan, Uluwatu

Tempat ini baru buka sekitar bulan Februari kemarin, karenanya belum terlalu rame dan belum terlalu banyak yang posting di socmed #penting. Posisinya ada di sekitar Labuan Sait, Uluwatu, nggak jauh dari pantai Padang-Padang. Dicarinya nggak susah. Kalaupun susah, usaha kamu untuk nyampe kesini akan terbayar begitu kamu menaiki tangga ini.

FullSizeRender

FullSizeRender_1

Nggak cuma kafe, Kampung Jimba juga menyediakan kolam buat kamu berenang. Kolamnya nggak gede-gede amat, kamu ke Bali bukan mau latihan olimpiade kan? Kecil aja tapi cukup banget buat celup-celup. Abis berenang bisa leha-leha di bean bag warna warni, atau main ayun-ayunan, asik kan?

FullSizeRender_3

FullSizeRender_2

IMG_0819

Pas kesana beberapa hari lalu, mereka lagi bangun 5 villa yang nantinya akan disewakan buat menginap. Ada yang satu kamar ada yang dua kamar. Belum apa-apa saya rasanya udah pengen nginep di sini. Bangunannya unik dan sudah pasti instagramable.

Berenang di Kampung Jimba ngga dikenakan biaya kok, kamu tinggal jajan aja di situ. Menunya lumayan banyak dari cemilan kayak Potato Wedges dan cake-cake. Buat berenang atau berjemur di pinggir kolam, udahlah paling pas minum air kelapa.

Instagram nya : @kampungjimba

Continue reading

6 Comments

Filed under Cinta, Info Aja, jalan-jalan, kerjaan, life, Saya, Saya, dan Saya, traveling

2016, Kamu Brengsek!

Begitulah yang terus menerus saya dengar terutama menjelang akhir tahun ini. Selain brengsek, 2016 juga dianggap banyak bawa sial, bawa susah dan banyak yang tak sabar agar dia segera berakhir. Meninggalnya Carrie Fisher yang membuat nyaris semua orang di timeline (path & twitter terutama) sedih ternyata nggak cukup untuk membuat 2016 menjadi beneran brengsek. Karena tak lama kemudian Debbie Reynolds, ibunya Carrie meninggal pula karena katanya saking sedihnya.

Nggak cukup, George Michael, penyanyi kesukaan saya sejak kecil juga meninggal di 2016. Mendengar Careless Whisper dan Faith tak lagi terasa sama. Nggak tanggung-tanggung, meninggalnya pas Natal pula, lagu Last Christmas ternyata beneran Last Christmas untuknya.

Nggak cuma yang meninggal-meninggal, timeline Twitter super nyebelin pula di taun 2016. Pilkada DKI yang kemudian beritanya diteruskan dengan berita-berita sentimen agama, sentimen ras, intoleransi, kekerasan, pembunuhan, perampokan. You name it. Apa yang 2016 nggak punya? Semua ada. Gempa, banjir, Aleppo, Dian Sastro potong rambut pendek tapi tetep cantik aja, Keenan Pearce punya pacar baru. Apalagi?

Continue reading

18 Comments

Filed under Buku, Cinta, Family, Just a Thought, life, Saya, Saya, dan Saya

Toleransi yang Teori Bukan yang Praktek

Malam itu, 4 November 2016 saya sedang ada di Bali, dan anak saya satu-satunya si Biyan ada di rumah, di Bandung. Suasana berlibur saya diwarnai dengan intip-intip timeline twitter dan berita-berita seputar aksi (katanya) damai yang terjadi di Jakarta selepas salat Jumat. Lepas maghrib, berita-berita  mulai mencekam. Aksi (katanya) damai kemudian dimanfaatkan orang-orang tak bertanggung jawab untuk melakukan kejahatan dan tindakan kriminal di jalanan dan sempat terlintas kabar bahwa sayangnya (lagi-lagi) bawa-bawa urusan etnis Cina.

Continue reading

33 Comments

Filed under Cinta, Family, Friends, Saya, Saya, dan Saya

Starter Kit Anti Kecewa Buat Anak 9 Tahun

Yang saya mau tulis sekarang ternyata pernah saya tulis kurang lebih satu setengah tahun yang lalu. Artinya, dalam kurun waktu satu tahun setengah saya ternyata belum punya solusi ampuh untuk mengatasi kekecewaan pada anak.

Kalau bisa – kalau bisa nih – rasanya ingin membekali Biyan, anak saya satu-satunya itu dengan sebuah gelembung besar di sekelilingnya di mana dia aman dari segala macam kekecewaan, dari orang-orang yang tidak baik, dari perkataan-perkataan buruk yang mungkin didengarnya suatu hari nanti. Tapi kan nggak mungkin ya, satu waktu nanti dia akan keluar dari pelukan aman saya dan menghadapi begitu banyak masalah, menghadapi banyak macam orang yang tentu saja nggak semuanya baik.

fullsizerender

difotoin Teppy

Continue reading

2 Comments

Filed under Cinta, Family, Saya, Saya, dan Saya

9 Hal Yang Bikin Jatuh Cinta Di dan Pada Nusa Penida

Setelah saya menuntaskan penasaran dengan mengunjungi Nusa Lembongan akhir tahun 2015 lalu, saya kemudian memutuskan kalau Nusa Penida harus jadi tujuan selanjutnya kalau saya ke Bali lagi. Tidak terwujud memang, karena waktu itu saya malah jalan-jalan ke Bali bagian Timur yang ternyata oh menyenangkan juga.

Oh kalau kamu ingin baca-baca soal Nusa Lembongan, Ceningan dan Penida, silakan mampir ke tulisan saya di TripCanvas yang berisi panduan cara pergi, menginap di mana dan makan apa di sana.

Lalu ketika ada sedikit pekerjaan yang mesti saya selesaikan di Bali, saya langsung menyusun rencana untuk kabur ke Nusa Penida.

Continue reading

15 Comments

Filed under Cinta, dan Saya, Friends, jalan-jalan, life, Saya, Saya, dan Saya

Khao Yai : Saat Baht Berasa Bagaikan Euro

Kalau ada yang tanya kenapa tiba-tiba saya berangkat ke Khao Yai pasca Lebaran kemarin maka tanpa ragu saya akan menunjuk blognya Kadekarini dan artikelnya Tripcanvas yang ini dan yang ini. 

Dengan jarak yang hanya 3 jam saja dari Bangkok, berada di Khao Yai rasanya mungkin seperti berada di Eropa bukannya di Thailang (padahal saya belum pernah ke Eropa sih). Hamparan tanah kosong kehijauan, udara yang ga (terlalu) panas, dan jalanan luas yang sepiiii membuat saya berpikir kenapa sih nggak dari dulu saya main ke Khao Yai?

Continue reading

17 Comments

Filed under Cantik, Cinta, life, Saya, Saya, dan Saya, traveling