Toleransi yang Teori Bukan yang Praktek

Malam itu, 4 November 2016 saya sedang ada di Bali, dan anak saya satu-satunya si Biyan ada di rumah, di Bandung. Suasana berlibur saya diwarnai dengan intip-intip timeline twitter dan berita-berita seputar aksi (katanya) damai yang terjadi di Jakarta selepas salat Jumat. Lepas maghrib, berita-beritaย  mulai mencekam. Aksi (katanya) damai kemudian dimanfaatkan orang-orang tak bertanggung jawab untuk melakukan kejahatan dan tindakan kriminal di jalanan dan sempat terlintas kabar bahwa sayangnya (lagi-lagi) bawa-bawa urusan etnis Cina.

Sejak demo dan kerusuhan taun 1998 silam, saya trauma mendengar penyerangan terhadap etnis Cina. Saya sendiri di Bandung bukan cuma sekali dua kali dijemput mendadak di sekolah karena keadaan saat itu nggak aman, terutama karena sekolah saya adalah sekolah berbasis agama kristen dan hampir semua siswanya etnis Cina.

Bukan cuma itu, saya juga pernah merasakan diludahi orang di jalan sambil diteriaki Cina, dan digulingkan dari becak saat lagi ngobrol sambil ketawa-ketawa dengan teman. Kata mamang becaknya “ketawa aja di negara lo sendiri”. Padahal waktu itu saya belum pernah menginjakkan kaki di Cina, yang katanya ‘negara saya sendiri’. Terakhir bayaran saya ke supir angkot ditolak mentah-mentah, uang saya dilempar dan dia bilang “nanti aja bayar pake darah”.

Itu semua terjadi saat saya duduk di bangku SMA, kurang lebih satu-dua tahun kemudian, kerusuhan 1998 pecah dan meninggalkan trauma mendalam buat saya walaupun di Bandung tidak terjadi kerusuhan seperti di Jakarta. Selama 3 bulan lebih saya dilarang keluar rumah oleh almarhum ayah saya, bahkan hanya ke warung dekat rumah pun nggak boleh. Waktu itu saya berniat untuk tidak menikah dengan sesama etnis Cina, supaya anak saya kelak nggak mengalami apa yang dialami oleh mamanya.

Kembali ke cerita 4 November. Setelah memantau situasi (salah satunya via timeline twitter) dan ngobrol bersama beberapa teman yang ada di Jakarta dan kelihatannya situasi mulai nggak terkendali, saya menelpon anak saya

Saya : Biyan besok jangan keluar rumah ya, aku khawatir ada apa-apa.

Biyan : Memangnya kenapa?

Saya : Ada demo di Jakarta dan katanya ada penyerangan terhadap orang-orang Cina. Beritanya belum 100% betul tapi sebaiknya kita berjaga-jaga dengan nggak pergi-pergi, daripada di jalan ada apa-apa.

Biyan : Yang diserang orang Cina? Aku kan Batak Cina? Apa aku jadi sasaran serangan juga?

Terdengar egois memang. Seolah-olah kalau yang diserang orang Cina aja nggak apa-apa asal jangan dirinya sendiri. Tapi maklumilah, anak saya baru umur 9 tahun dan mungkin secara sederhana memang itu yang ada di benaknya.

Mendengar pertanyaannya, hati saya sedih sekali. Ternyata menikah dengan orang non (keturunan) Cina nggak membuat rasa takut itu hilang begitu saja. Harapan saya supaya anak saya nggak pernah mengalami ketakutan yang sama dengan saya ternyata tidak terwujud.

Kalau saya terus menerus takut dan mengasihani diri sendiri sebagai kaum minoritas di negara ini nggak akan ada habis-habisnya dan bukan itu yang mau saya sampaikan lewat tulisan ini.

Satu hal yang saya perhatikan sebagai penyebab atau latar belakang kebencian terhadap etnis dan agama tertentu (bukan cuma sentimen terhadap etnis cina, tapi etnis manapun dan agama mana pun) adalah karena sejak kecil kita terbiasa dikotak-kotakkan. Orang Kristen rata-rata bersekolah di sekolah kristen, orang Islam rata-rata bersekolah di sekolah Islam.

Akuilah banyak dari kita yang tidak terbiasa bergaul dengan orang yang agamanya lain dengan kita, yang nggak sama-sama satu etnis dengan kita. Hal ini saya yakin bukan disengaja (sengaja banget), tapi ya karena pengotakan itu tadi. Sekolah di sekolah kristen, kuliah di universitas kristen, ketemunya dengan yang seetnis, seagama kemudian begitu ketemu dengan yang beda agama atau beda etnis lalu merasa dirinya lebih baik dari orang lain.

Agama gw lebih baik dari agama elo. Saya pun pernah merasa demikian kok. Saya pernah meyakini bahwa yang akan masuk surga nanti hanya orang Kristen, karena ajaran itulah yang saya terima sejak kecil. Setelah besar saya kemudian meyakini bahwa karena surga itu punya Tuhan (kalau Tuhannya ada) dan perihal masuk surga – nggak masuk surga itu ya hak preogratifnya Beliau itulah, bukan karena agamanya A atau B).

Saya juga pernah merasa bahwa etnis saya lebih baik dari etnis sebelah. Kami pintar berdagang dan rajin. Untungnya saya sudah insaf dan tidak berpikir demikian lagi, haha. Jangan juga saya dihakimi sendirian, sejak jaman Nazi dulu, chauvinisme memang tak pernah mengenal logika.

Kemudian kenapa saya bisa insaf?

Karena saya bergaul dengan orang-orang yang berbeda agama, juga berbeda etnis dengan saya. Kebetulan keluarga saya memang macam-macam, nggak semuanya kristen, nggak semuanya cina. Lebih mudah buat saya untuk membuka diri dan bergaul dengan orang yang berbeda dengan saya. Termasuk mencari jodoh. Ahem.

Tapi coba kita bayangkan mereka yang sejak kecil, usia sekolah, bekerja, menikah dll dll semua di lingkungan yang sama. Seorang teman saya pernah bercanda katanya kalau flirting ama cw cina baik di kafe atau bahkan diskotik, udah kayak pada mau ‘meletus’ saking ketakutan. Ya itulah, nggak biasa bergaul dengan orang yang lain darinya jadi bawaannya curiga dan kaku. Bisa jadi juga karena terbiasa dibeda-bedakan sejak kecil.

Terdengar menghakimi memang. Gapapa, saya pernah ada di lingkungan seperti itu makanya saya bisa ngomong begitu.

Belakangan ini memang banyak terdengar lagi sentimen-sentimen terhadap etnis dan agama. Dan menurut saya, problem beginian nggak akan tuntas-tuntas sampai kapanpun selama kita masih mengkotak-kotakkan anak-anak di lingkungan yang kita mau. Ya itu tadi yang saya bilang, yang kristen maunya sekolah di sekolah kristen, anak-anak bergaul dengan yang seagama. Sama juga di sisi teman-teman yang muslim, bersekolah dengan teman-teman yang seagama, bergaul dengan teman-teman seagama.

TRUS KALO NGGAK SEKOLAH DI SEKOLAH KRESTEN GIMANA DONG BELAJAR AGAMANYA SHAS??

Ya belajar di rumah dong. Atau misalnya gereja bikin semacam kursus kalau merasa anaknya perlu diajarin agama. Sama sih di agama-agama lain juga. Bersekolahlah di sekolah non agama supaya anak-anak belajar prakteknya bergaul dengan mereka yang berbeda dengan dirinya. Supaya anak-anak belajar toleransi sejak dini langsung di lapangan dan bukan cuma teori. Saya sering sekali bilang ini dan akan saya bilang lagi di sini : gimana caranya belajar toleransi kalau kiri kanan depan belakang kita semua etnisnya sama dan agamanya sama?

10479912-seamless-pattern-of-kids-different-races-stock-vector-preschool-funny-pupil

(gambarnya pinjem dari google.com, thank you)

Kalo di rumah kan mainnya bukan sama temen sekolah Shas?

Iya sih. Tapi sekolah itu menyita banyak waktu dan otomatis pola pergaulan kita. Jadi menurut saya, kuncinya tetep ada di sekolah. Dengan membiasakan diri bergaul sama orang-orang yang berbeda sama kita alhasil nanti kita nggak perlu lagi terharu saat ada gereja bersebelahan sama mesjid. Nggak perlu lagi terkagum dengan foto seorang suster yang sedang berbincang seru dengan seorang perempuan berjilbab. Kita kagum dan semangat RT juga re-share sampe keyboard jebol karena kita nggak biasa liat pemandangan begitu. Padahal mestinya di negara yang (katanya) bhinneka tunggal ika ini kita biasa aja melihat orang yang agamanya berbeda saling tolong. Jadi nggak perlu lagi ada artikel dengan judul mengharukan “Pemuda Gereja Membantu Pembangunan Mesjid” atau “Umat Muslim Membantu Mengamankan Kebaktian Natal”.

Karena mestinya tak ada ibadah yang perlu sampai harus dilindungi di negara ini. Karena saling membantu membangun mesjid atau tempat ibadah agama apapun mestinya berjalan otomatis tanpa mesti digembar-gemborkan.

Karena mestinya toleransi itu praktek bukan cuma teori.

 

33 Comments

Filed under Cinta, Family, Friends, Saya, Saya, dan Saya

33 responses to “Toleransi yang Teori Bukan yang Praktek

  1. semua yang ditulis ini hampir semuanya benar, saya seorang muslim dan memang sedari kecil seperti sudah didoktrin seperti itu bahwa agama kita (saya) lebih baik dan itu berlangsung terus menerus. namun seiring berjalannya waktu, dan bersaudara dengan orang non muslim, kini saya paham bahwa toleransi itu sangatlah indah. dan tentunya doktrin-doktrin sedari kecil itu perlahan lebih bisa menyesuaikan tanpa perlu ngotot dengan orang lain apalagi beda keyakinan. terima kasih, tulisan yang cukup mencerahkan dan salam kenal : )

  2. Wah ada pengalaman buruk juga. Klo saya udah males bergaul sama agama tertentu. Karena masih sakit mikir perlakuan mereka. Dan saya sudah berjanji kepada diri sendiri untuk tidak membawa perasaan saat berhubungan dgn mereka.

  3. Aku kesal kali kalo ada orang yg membeda-bedakan , mengkotak2an, untungnya orang tua ku nggak pernah ngajarin kami seperti ini, mesti saling menghormati, di Medan temanku semua beda suku dan keyakinan tapi kami sudah seperti saudara. Semoga semua orang menyadari bahwa sejak dulu perbedaan memang ada.

    • Pashatama

      Nah ini dia yang kita perlukan ya Mbak, sejak kecil belajar bergaul dengan orang yang berbeda sama kita. Biar nggak kaget dan merasa bener sendiri ๐Ÿ™‚

  4. Ya toleransi itu penting …
    Saya muslim dan agama saya mengajarkan toleransi ..

    *****************

    Project Menyalakan dan Mematikan Lampu Lewat HP Android Berbasis Arduino.

    https://nofgipiston.wordpress.com/2016/12/01/project-lampu-dengan-hp-android-berbasis-arduino/

  5. Selalu suka sama pemikiran mbak Shasya, selalu indah kaya orangnyaaaa. Aku sedih baca pengalaman mbak Shasya yang digulingkan dari becak, bener kaya gitukah mbak, dulu? ๐Ÿ˜ฅ Semoga kelak negara kita bisa menghormati toleransi dengan sebenar-benarnya ya.. bukan di beda teori dan prakteknya. Salam untuk Biyan ya mbaaaak

    • Pashatama

      Aw Mbak Dian aku jadi tersipu sipu nih ๐Ÿ™‚

      Iya dulu pernah mengalami kayak begitu Mbak, semoga nggak akan kejadian lagi kayak begitu ya, ngeri. Amin Mbak, semoga negeri ini aman untuk semua orang tanpa membedakan agama dan sukunya ya. Salam balik dari Biyan yang baru bangun tidur ๐Ÿ˜‰

  6. Setuju bahwa sekolah memegang peranan penting. Saya sendiri suka merasa, saya kurang membaur lintas agama/kelompok selama masa sekolah dulu. SD SMP saya sekolah Katolik. SMA sekolah Kristen. Universitas lagi-lagi Katolik. Barulah ketika terjun di dunia kerja, saya bertemu dengan kelompok yang lebih majemuk, lebih variatif.

    Gak mudah untuk berani membaurkan diri.

  7. Saya keturunan cina. Sejak kecil sekolah di yang mayoritas muslim, di kampung saya dulu cuma ada beberapa keluarga cina. Kami hidup berdampingan tanpa ada ricuh apa-apa. Sampe sekarang teman saya kebanyakan pribumi, muslim dan kristen jadi satu dan kita baik2 saja. Makanya sempet heran (dan sedih) dengan orang-orang yang mengkotak2an etnis dan agama.

    Kaget banget baca cerita sopir angkot, mamang becak, orang yang ngeludahin di atas. Sampe merinding.. Huahhhhhh…

    • Pashatama

      Nah berarrti teoriku bener ya Mel, kalau sejak kecil mulai berbaur, toleransi jadi mudah karena dipraktekkan di kehidupan sehari hari kan ya ๐Ÿ™‚

  8. Feronica

    Saya sekolah di sd negri dan saya ga akan menyarankan org yg non muslim untuk sekola di sekola negri.

    • Pashatama

      Sebetulnya harapan saya adalah akan ada sekolah-sekolah non agama. Jadi di sekolah bisa rata tidak ada minoritas tak ada mayoritas.

  9. Ria

    Ta, gatel nih pengen komen (nanya sih sebenernya)…
    Dmana-di bandung- sekolah yang “non agama” itu?
    Beneran ini mah nanya…jgn lupa dijawab ya ๐Ÿ˜‰

    • Pashatama

      Hai Ria,

      Kalo manggil “Ta”, artinya kamu orang yang kenal gw sejak dulu ya ๐Ÿ™‚
      Di Bandung bisa coba ke Taruna Bakti atau ke sekolahnya Biyan, Semi Palar. Semoga membantu ya ๐Ÿ™‚

      • Ria

        Haha..gw ria nya papa iyong ๐Ÿ˜€
        Btw awalnya sempet baca ttg skul semi palar n tertarik banget.
        Yang bikin down pas tau biaya nya ๐Ÿ˜ฅ
        Hihihi..nanti dulu deh semi palar mah.
        Tarbak OK yah? Nanti ah gw cari2 info ๐Ÿ˜‰ Tq ya say *kiss

  10. Saya muslim dan keuturunan Cina,
    dan memang sedihnya “kita” sudah terlanjur dicap sebagai “keturunan Cina”,

    Saya muslim dan sekolah dari TK sampai SMA di sekolah muslim,
    dan memang diajarkan kata ‘toleransi’ tapi sayang hanya berupa teori.

    Trauma ’98 menyiasakan ruang di hati keluarga saya,
    teringat Bapak yg dengan sorban hajinya, berdiri sendiri dengan pentungan besar di tangannya, mencoba melindungi saya yg sedang menulis kata “Muslim” dan “Allah” besar-besar di rolling door depan toko yang kami punya dengan harapan toko kami tidak dirusak massa, kenyataan, toko Bapak dirusak dan dijarah.

    Saya cuma bisa teriak ke bapak, “Mana, katanya klo ditulis kata muslim dan Allah toko ga dijarah?”
    Bapak hanya bisa menundukkan kepala, melihat 4 toko-nya yg di depannya sudah rusak dengan rolling door yang bertuliskan kata Allah dan muslim rusak dan kotor diinjak massa yang brutal.

    Saya pun tersadar, ini bukan masalah agama ataupun etnis,
    tapi masalah individu masing-masing. Sedih emang ngeliat toleransi tidak sejalan dengan agama.
    Padahal di setiap agama mengajarkan kebaikan dan toleransi

    Sampai saya tidak berani memohon sama Tuhan, yang bisa saya lakukan cuma mendoakan ‘orang-orang’ itu semoga bahagia.

    *ah elah jadi mewek* :)))))))

    • Pashatama

      Antooowwwww. huhuhuhu selalu ada aja orang yang memanfaatkan situasi dan merugikan orang lain ya.

      Begitu pun dengan keadaan sekarang, aku yakin bahwa masalah sesungguhnya bukan agama tapi adanya orang-orang yang menggunakan isu ini untuk bikin keadaan jadi ndak kondusif.

  11. Saya dulu termasuk yang merasa paling benar. Perasaan ini muncul dari dalam keluarga. Merasa paling benar beragama juga muncul di dalam keluarga. Pergaulan saya cenderung homogen. Bahkan hingga kuliah pergaulan terbatas ke yang seagama. Anehnya saya malah mulai penerimaan akan yang lain di sekolah teologi bahkan tanpa bergaul dengan yang beragama lain. Jadi, saya pikir toleransi juga bisa muncul dari ranah berteori, tanpa pergaulan dengan yang lain, asal teori yang dikembangkan adalah teori yang bersikap inklusif, bukan eksklusif. Teori yang dikembangkan dalam diri juga menurut saya adalah teori bahwa dalam satu kelompok homogen saja bisa terjadi pertentangan soal yang mana yang paling benar. Dan akhirnya kalau mau menjadi paling benar harus menyingkirkan semuanya selain diri sendiri. Lalu teori yang perlu dikembangkan adalah berpikir sendiri apa itu kebenaran. Ini secara teori berhasil di saya saja.

  12. Aku suka sekali postingan ini, jadi inget jaman gw kecil di gresik. Ada beberapa minoritas yang tinggal di kampung ku dan anak2 selalu teriak2 cina cina cina di depan rumah mereka.
    Kita semua di lahirkan sama tanpa ada perbedaan, mulai belajar menerima biar hidup kita damai yesssss.
    Semoga negara ini tentrem gemah ripa lohjinawi

    • Pashatama

      Nah itu persis maksudku Cum, kok ya sedari kecil anak-anak diajarkan bahwa ada perbedaan antara suku-suku di Indonesia. Ya perbedaan tentu saja ada tapi bukan berarti boleh meledek.
      Amin ah, semoga negeri ini selalu damai biar kitanya juga aman tentram happy selalu yes ๐Ÿ™‚

  13. Dulu saya diberi arahan ibu saya untuk merantau ketika dewasa. Ketika di tempat perantauan, wajib sekali saya bergaul dengan orang-orang minoritas dari agama manapun, supaya saya tau apa arti agama saya.

    Dan menurut saya, orang-orang yang masih membeda-bedakan etnis atau agama itu selayaknya harus mengenal Indonesia lebih luas, bisa dengan merantau, atau membaur dengan banyak orang. Bukannya mencari tau teori dari agama itu seperti apa. Saya setuju kok kak dengan judul tulisan ini, karena toleransi yang baik adalah adalah praktek.

  14. Hai Kak Sha..suka baca tulisanmu ini. :”D Semoga orang keturunan Cina juga aku paham betul rasanya jadi keturunan Cina dan merasa takut karena menjadi minoritas. ๐Ÿ˜ฆ Kalo urusan sekolah buat anakku nanti sih, aku masih percaya sekolah Katolik buat ngajarin disiplin hehehehe karena dari sharing dengan beberapa teman, disiplin di sekolah Katolik memang berbeda… aku dari kecil sekolah di sekolah Katolik tapi untungnya bisa berbaur sama orang dari berbagai etnis dan agama karena diajarin orang tua dari kecil ๐Ÿ™‚ dan untungnya juga aku kuliah di universitas negeri jadi makin beragam deh pergaulannya. ๐Ÿ˜€

  15. Aku dari awal banget punya anak udah bertekad untuk ngajarin keragaman manusia ke dia. Udah bertekad juga masukin ke sekolah umum. Sayang ga kesampean karena satu dan lain hal.
    Semoga nanti bisa pilih SMP umum supaya wawasan dan ilmu toleransinya semakin mantap.

  16. Riri

    Indeed mbak..
    Sy baca postingan ini jadi tergerak buat komen.. padahal selama ini cuma silent reader aja ๐Ÿ™‚
    Sy sekolah sampai lulus SMA di sekolah katolik, padahal keluarga sy muslim taat. Ortu-lah yg meng-encourage dan mendidik sy utk berbaur dan bergaul dgn semua etnis dan agama, dan bisa nerima semua perbedaan yg ada dgn baik. Dan pada akhirnya membuat sy jadi orang yg open minded dan sangat toleran. Tapi keluarga suami sy ga sama. Dan kadang statement mereka suka bikin sy sedih. Juga keadaan bangsa ini sekarang. Kenapa makin rempong dan sensitif?
    Semoga Indonesia bisa tetap damai dan sejuk dalam kebhinekaannya.. ๐Ÿ™‚

    Btw, salam kenal ya mbak.. you are a very good writer ๐Ÿ™๐Ÿป

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s