Tag Archives: life

Mandalay. Tak Cukup Sekali.

Tulisan terakhir dari cerita jalan-jalan ke Myanmar awal tahun lalu. Jadi kota terakhir (sekaligus pertama) yang saya kunjungi adalah Mandalay. Kenapa terakhir sekaligus pertama? Karena waktu pertama dateng saya terbang dari Bangkok ke Mandalay tapi ga pake mampir mana-mana dulu dan langsung naik mini bis ke Bagan. Jadi setelah dari Nyaung Shwe, saya kemudian kembali ke Bagan, nginep semalam sebelum lanjut ke Bangkok lagi.

Ada 2 tujuan utama saya di Mandalay, yaitu Mingun dan U-Bein Bridge. Dengan catatan, kalau masih punya waktu sebelum ke airport saya agak-agak pingin mampir ke monastery, dan ternyata nggak sempat

Dari Nyaung Shwe sekitar jam 20.00, saya tiba di Mandalay Pk. 03.30. Yes setengah empat subuh aja dan kita bertiga lagi enak tidur, untung kebangun pas bis berenti, dan ngecek di Waze, eits hotel yang saya book ternyata udah tinggal 200 meter aja. Bisa jalan kaki dong. Walaupun lumayan aja geret koper jalan subuh-subuh begitu.

Saya milih hotel Tiger One, kelihatannya dari lokasi lumayan ok karena dekat pasar, banyak makanan, dan cari money changer juga nggak susah. Mandalay ini semacam kota yang lebih ramai dibanding Bagan dan Nyaung Shwe. Di hotel disediakan sepeda yang bisa kamu pake untuk keliling-keliling dengan gratis.

Pas saya sampe hotel, beberapa karyawannya terbangun sampe rasanya ga enak karena bangunin. Front office officernya minta maaf sama saya karena tidak ada kamar kosong yang bisa dia berikan sama saya pagi itu.

And I was like :

WHAT??

Continue reading

7 Comments

Filed under Family, jalan-jalan, life, Saya, Saya, dan Saya

Bagan dan Warna Terakota-nya yang Bikin Cantik

Myanmar adalah tujuan saya untuk liburan mengawali tahun 2016 kemarin. Sebetulnya jauh-jauh hari kami sudah punya rencana lain. Tapi ada 2 orang teman baik yang baru saja pulang dari Myanmar dan sharing betapa cantiknya negara ini. Maka saya punkemudian berbalik arah. Di waktu yang singkat cari tiket, cari hotel, cari-cari apa yang mesti disiapkan dalam waktu kurang dari seminggu rasanya.

Kemudian saya mendapati tidak ada penerbangan dari Jakarta ke Mandalay. Yang ada hanya ke Yangon dan Yangon tidak ada di list tempat yang mau saya kunjungi di Myanmar. Maka ‘dengan sangat terpaksa’ plus latar belakang ‘asik bisa mampir makan enak dulu’, saya pun memutuskan untuk terbang ke Mandalay dari Bangkok. Yes, ada waktu satu malam sebelum dan sesudah Myanmar di Bangkok. Lumayan, bisa blinji-blinji dan makan enak. Penting ini.

Pesawat saya mendarat di Mandalay Pk. 12.30.

FullSizeRender-1 Continue reading

6 Comments

Filed under Cinta, Family, jalan-jalan, life, Saya, Saya, Saya, dan Saya

To a Dear Friend

I’m sure you remember those times when we used to laugh together?
I cherish those moments as I cherish having you in my life

But do you remember those difficult times when we didn’t get along with each other?
Like when I had no time for you because of work, or new friends, or when I just want to be alone?
And when you started to do some stupid mistakes and I said how stupid you were.

One thing you might forget is when I told you that you are going too far and I’m afraid you wouldn’t be able to come back even if you want to, is that these helping hands are ready to catch you in case you’re falling.. These ears are for you anytime you need them, this heart is fully open for you because you know I love you too much to be careless. Yes, though I know you will be hurt because of your own mistake.

One thing you have to be sure about me that I will not leave you just because of what you chose to face. I will give some space, as much as you need one, to give you a chance so you will see with your own heart that I do care of you.

And together we will fix what’s broken, I will walk with you during the process. Yes it will be hurt I know, but I’m sure it’s just a phase.  Because I’m sure that you, my dear friend will be smiling again like you used to do. And we will have those time we’re gonna cherish together again.

6 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Perihal Memaafkan

Sampai umur saya 20an dulu, saya masih takut deket deket kuda, karena sejak saya kecil, mama saya selalu bilang jangan berdiri sebelah kuda, nanti ditendang. Waktu saya bilang alasan saya nggak mau berdiri sebelah kuda karena takut ditendang, (mantan) pacar saya ketawa keras. Katanya, kuda itu nggak bakalan bisa nendang ke samping karena engsel kakinya cuma bisa memungkinkan gerakan ke depan dan ke belakang. Damn. Bener juga. 20 tahun hidup saya hidup dalam kebohongan, untung cuma urusan tendangan kuda, bukan urusan-urusan lain yang lebih penting.

Continue reading

18 Comments

Filed under dan Saya, Saya

Memori Kurang Ajar

Dimana kamu satu minggu lalu?

Satu bulan lalu?

Satu tahun lalu?

Pertanyaan ini memang tidak akan ada habisnya kalau ditanyain terus. Saya sebagai mahluk melankolis romantis ini adalah korbannya. Untuk hal-hal indah yang pernah terjadi dalam hidup saya, saya bahkan ingat detail sampai memori soal baju apa yang saya pake saat itu. Apalagi urusan sepatu, inget banget kapan pake apa.

Sayangnya yang namanya memori yang datang nggak melulu soal yang bagus-bagus. Di beberapa hari dan tanggal tertentu mood saya suka mendadak berantakan tanpa bisa dikontrol. Padahal saya selalu survive yang namanya PMS. Dikontrol hormon sih kagak, yang ada dikontrol kenangan.

Jeleknya lagi, kenangan buruk muncul nggak cuma soal waktu. Jalan yang kita lewatin pas kita nerima berita jelek, foto-foto yang bermunculan di gallery handphone, atau foto yang muncul di berita, bahkan di twitpic, film yang bersetting di tempat yang kita nggak pernah mau kunjungi lagi saking buruknya kejadian yang pernah terjadi disana, lagu yang mengingatkan kita waktu kita lagi susah hati. Banyak, masih banyak yang mungkin membawa kenangan jelek dan membuat hati kita nggak beres dalam hitungan sekejap dua kejap.

Natal nggak pernah sama lagi untuk saya sejak ayah saya meninggal 2 hari setelah hari Natal 3 tahun lalu. Beberapa tempat cantik yang pernah saya datangi malah membuat trauma-trauma ga jelas. Salah satu jalan yang pernah saya lewati sambil dapet kabar ga enak adalah jalan yang setiap hari saya lewatin untuk pulang ke rumah. Apakah dengan saking seringnya saya lewat jalan itu kemudian lama-lama jadi kebas? Nggak juga tuh, sudah 3 bulan berlalu tapi sakitnya masih sama-sama aja.

Belum lagi beberapa orang yang tanpa sengaja selalu mengingatkan kita sama orang-orang yang justru mau kita lupain. Rasanya seperti dikepung kenangan. Sayangnya kenangannya buruk.

Lalu mau sampe kapan begini-begini terus? Karena ternyata melupakan bukan satu pilihan. Sepengen-pengennya kita melupakan satu hal buruk, belum tentu bisa. Yang ada semakin lama rasanya semakin ngeselin. Jadi kelihatannya kita tunggu saja sampai memori ini berhenti kurang ajar ya.

5 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Crop Foto Sana Sini

Saya penikmat foto-foto pemandangan yang indah indah. Pasti kamu juga. Yang paling sering sih foto sunset. Atau foto sunrise (note : saya sama sekali tidak punya foto sunrise karena nggak pernah bangun sepagi itu untuk mengejar terbitnya matahari). Oh atau foto pantai. Ini yang selalu bikin saya pingin pergi piknik. Apalagi foto sunset di pantai, sudahlah kelar.

Lalu berapa kali kamu jadi kepengen pergi hanya karena liat foto dari temenmu, atau liat di timeline twitter, atau di iklan majalah traveling, atau di Instagram, dan tentu saja di Path? Saya sih sering banget. Walau ujung-ujungnya belum tentu pergi ke tempat yang kita liat itu. Mlipir dikitlaaah, liatnya foto Lombok, perginya ke Pangandaran. Gitcu. Yang penting ada pantai, laut, dan kesempatan memotret sunset. Liatnya foto hijaunya sawah di Ubud, perginya ke Garut. Begitulah kira-kira.

Kemudian saya menemukan hal yang cukup lucu. Waktu saya pergi ke waduk Jati Luhur di Purwakarta kemudian naik perahu menyebrangi danau, saya sempat memotret potongan perahu dengan langit biru ditambah dengan visual gunung dari kejauhan, cakep deh, Ketika foto itu saya upload, temen-temen pada nanya karena dikira saya pergi jauh karena pemandangannya bagus. Waktu saya mengambil foto itu, saya padahal harus ngepas-pasin kamera henpon supaya gambarnya pas bagusnya. Bukannya apa-apa, namanya juga Danau ya, ujungnya ga seluas laut kan, dan di deket situ ada tempat makan terapung yang kalau masuk frame foto, enggak banget kelihatannya.

Waduk Jatiluhur

Waduk Jatiluhur

Kedua kali saya sempat memotret sunset di sekitar Pamanukan. Waktu itu jalanan super macet, bukan sekedar macet biasa, tapi truk dimana-mana mengepulkan asap yang nggak ada sedap-sedapnya, motor berdesakan mencoba mendapatkan jalan diantara mobil-mobil yang berjajar. Diantara pemandangan ga enak ini, matahari tetep asik aja menjelang sunset, saya mengarahkan henpon saya ke atas, hanya ada sedikit bagian dari truk di bagian depan mobil saya yang tertangkap kamera, edit dikit, crop crop, voila! foto sunsetnya bagus.

Kejadian memotret sunset atau pantai juga sama aja, kadang-kadang pantainya biasa aja, bahkan ada yang kotor. Ya bagian kotornya jangan ikut difoto la ya. Miringkan henpon sedikit juga ga kena. Orang yang liat fotonya pasti mikir memang beneran bagus aja pantainya. Baru baru ini saya dikirim foto Biyan yang lagi main di lapangan rumput kompleks Angkatan Darat dekat rumah ompungnya. Fotonya bagus banget, dan kesannya lagi dimana gitu. Padahal kalo langsung liat sih ya disituuuuu belakang rumah, yang tempatnya biasa-biasa aja, yang panas bukan kepalang itu. Tapi berhubung angle ambil fotonya bagus, ya baguslah hasilnya. Pernah juga foto-foto di kuburan, ternyata hasilnya malah bagus  :)))

Piknik di Kuburan

Piknik di Kuburan

Oh kadang-kadang ada juga keadaan begini, pantai lagi penuh-penuhnya, kalo difoto pasti ga bagus, palingan disangka lagi di Ancol. Triknya? Agak menjauh dari kerumunan orang, lalu tukang fotonya harus gesit, klik klik ambil foto saat ga ada orang melintas. Voila, hasilnya kayak lagi di private beach kan? Kejadian serupa saya alami waktu foto-fotoan di Wat Pho di Bangkok, kan tempatnya selalu penuh sesak tuh ya, sampe mau motret susah deh banyak orang dan mereka biasanya bergerombol gitu. Saya sempat ambil satu foto yang pas ga ada orang, sampe tau-tau ada temen nanya “kok bisa sih Wat Pho sepi?”.

Wat Pho

Wat Pho

Pernah juga saya pergi ke tempat yang beneran cantik pemandangannya, ke hampir setiap sudut mata saya memandang, nggak terlihat cacatnya. Pas difoto, hasilnya ternyata ga beda jauh sama yang perlu diedit dikit dan crop crop crop itu tadi.

Kemudian saya berpikir. Kayaknya hidup juga nggak pernah jauh-jauh dari yang kayak gitu ya. Kita menceritakan hal-hal yang menyenangkan yang terjadi pada kita sama teman-teman, mereka melihat betapa menyenangkan hidup yang kita jalani. Ada yang ikut seneng, ada juga kali yang udahnya jadi sirik. Tapi mungkin mereka nggak melihat ‘pemandangan’ jelek yang sempat kita crop sebelum kita ceritakan pada mereka. Ada air mata disana sini, ada susah hati yang cuma bikin malu kalo dikisahkan sama orang. Akhirnya cerita kita yang bagus aja yang muncul ke permukaan. Ada yang salah dengan itu? tentu saja enggak. Adalah pilihan kita kalau kemudian nggak mau menampilkan sisi buruk dari apa yang kita alami dalam hidup.

Saya pernah ditanya beberapa teman, katanya hidup saya nampak menyenangkan, nampak baik-baik aja, banyak jalan-jalan, banyak ngumpul-ngumpul sama teman. Saya cuma senyum aja waktu itu dan bilang “kalo bagian susah memang ga gw ceritain lah, ngapain, simpen sendiri, bagi ke teman saat ketemu di japri, bukan di tempat umum kayak Path atau Facebook”.

Ujung-ujungnya emang terserah sih, mau posting foto apa adanya, mau cerita soal hidup apa adanya, terserah kamu kok.

*kemudian kembali sibuk cropping foto*

Leave a comment

Filed under Saya, Saya, dan Saya

When You Love, You Love

Life is never about changing someone we love into a kind of person we want

Life is always about tolerating, accepting whom we love no matter they might be the contrary to the kind of person that we want them to be.

Expecting someone we love to change the way we want to be is the root of all misery.

And the failure of it is one full screaming hell.

 

But when we love, we love.

 

No matter how the hassle has driven us like crazy

No matter how many sacrifices we made in the name of love

When we love, we love

 

Love might be long lasting

Love might happen continually

But we might forget, love is also as weak as those leaves falling in fall

It may shine brightly like a sun in summer and provides you those jolly moments

It may drive you crazy like when you cant handle those windy days

It may be the reason why some rainy days are too shivery for you to handle

And when it happens, you know you gotta stop

4 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Menutup 2013 (dengan senyum)

Saya menutup 2013 ini dengan kesibukan yang standar saja, nyelesain kerjaan, bayar utang tulisan di surgamakan.com dan tentu saja di blog ini, beli hadiah taun baru buat keponakan, dan makan enak. It’s a must, makan enak untuk menutup sebuah tahun.

Bandung mulai macet dimana-mana, membuat saya berpikir dimana saya harus duduk dan santai sejenak tanpa harus kena resiko ga bisa pulang saking macetnya. Seperti tahun tahun sebelumnya setelah menikah, saya tentu saja akan melewati pergantian taun nanti di rumah mertua. Ada tradisi yang (belum atau tidak) boleh dilewatkan, berdoa bersama dan kumpul-kumpul. Saya pribadi sih sudah bertahun-tahun tidak berdoa secara pribadi. Saya memandang tradisi berdoa bersama ini sebagai niat bikin seneng orang-orang yang kita sayangi, anak, suami dan tentu saja mertua beserta keluarga besar.

Tahun 2013 bisa dibilang tahun yang paling penuh warna di dalam hidup saya. Banyak hal yang terjadi. Kalau 2012 kemarin seimbang antara yang menyenangkan dengan yang menyebalkan, maka dengan senyum lebar sampe kuping saya bisa bilang bahwa 2013 ini membawa banyak hal yang bikin saya senang. Banyak senyum, banyak ketawa, banyak bersyukur.

Pergi ke banyak tempat baru, mencoba banyak hal baru, makan makanan baru. Semuanya bikin hati senang.

Pertemanan selalu jadi faktor penting setiap saya mengukur apa yang sudah saya capai dalam hidup ini. Selama 2012 dan 2013 tidak terlalu banyak bertemu teman baru, hanya satu dua atau tiga-lah. Tapi kebanyakan dari mereka begitu klik dengan saya sampe rasanya seperti bertemu teman lama yang kemudian punya kebutuhan untuk ketemuan satu sama lain.

Teman-teman yang sudah dekat sekian lama pun selalu jadi salah satu faktor yang membuat saya berpikir bahwa hidup ini memang patut disyukuri. Mereka ada dengan becandaan garingnya, dengan shoulder to cry on nya, dengan telinganya yang super tebal mendengarkan keluh kesah, omelan, dan curhat saya yang tak ada ujungnya itu. You know who you are. Bear with me in 2014 ya. 

Resolusi untuk 2014 nanti biarlah saya simpan dalam hati saja ya, supaya kalau pada kenyataannya tidak tercapai, saya nggak malu-malu amat. Yang pasti, 2014 nanti saya ingin lebih bahagia, lebih enteng menghadapi segala sesuatu, dan lebih banyak kerjaan biar ga punya waktu mikirin hal-hal yang nggak perlu dipikirin. Pengen lebih kurus sedikit tentu saja (seperti harapan tiap taun), pengen jalan-jalan lebih banyak ke tempat baru sama kesayangan. Semoga semuanya terwujud supaya akhir 2014 nanti saya bisa menutup taun dengan senyum seperti hari ini ketika saya menutup 2013.

Happy new year, survivors!

IMG_2048

4 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Terlambat 4 Hari

Tulisan ini yang terlambat diposting sampai 4 hari.

Harusnya kan diposting 27 Desember 2013 kemarin, persis 3 taun setelah papa meninggalkan kami semua karena sakitnya.

Tidak akan berpanjang panjang cerita mengenai sakitnya papa karena saya pernah cerita di postingan sebelumnya. Tapi pengen cerita mengenai kami, terutama saya, tanpa papa.

Kalau ada penyesalan yang masih terus terpikir sampai saat ini, adalah omongan papa yang banyak saya nggak dengerin. Betapa hidup saya akan lebih mudah dan less trouble kalau saja saya lebih mendengar apa katanya waktu itu. Tapi di sisi lain, saya banyak belajar dengan apa yang pernah saya alami, terutama hal-hal yang tidak mengenakkan. Yah kalo kata orang sih ambil saja hikmahnya, sementara kata saya sih “yaudahlah ya mau gimana lagi sudah terjadi”.

Satu hal lagi yang membuat saya inget papa kemarin kemarin, adalah ketika ngobrol dengan seorang teman dekat mengenai kebegoan saya akan banyak hal. Misalnya kasus politik yang sedang ramai dibicarakan. atau soal masalah-masalah lain yang kayaknya lumayan penting sampai mengisi berita-berita utama di surat kabar, di majalah, dan di televisi. Sejak papa nggak ada, saya kehilangan teman mengobrol mengenai itu semua. Nggak ada lagi yang langganan majalah Tempo, yang waktu saya kecil dengan semangat bercerita kenapa majalah itu dibredel dulu. Kemudian berganti langganan majalah Gatra yang menurutnya ga seasik Tempo dulu. Yang saya baca sekarang hanya timeline twitter. Paling banter buka link yang di post orang di twitter. Berita lebih cepat didapat tapi saya kehilangan teman diskusi yang membuat saya merasa saya harus lebih banyak membaca dan buka mata akan hal-hal yang terjadi di sekitar. 3 taun tanpa papa, saya kehilangan motivasi untuk jadi orang yang tau tentang banyak hal. Juga kehilangan teman berantem karena dari dulu kami memang tukang berantem. Akan banyak hal.

 

2 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Drama Itu Datangnya Dari…..

Jadi kan selama ini saya suka ngeluh perihal Biyan yang seringkali kadar dramanya berlebihan ya. Jadi satu hal kecil bisa bikin nangis lama tersedu-sedu kayak diapain. Hal kecil lain bisa bikin marah kayak yang diapain juga, padahal ga mesti segitu marahnya. 

Hari apa itu baca di timeline twitter ada Boyz II Men di ANTV. Saya tuh bisa dibilang sama sekali ga pernah nonton TV. Tapi kalau Boyz II Men maulah nonton ya. Maka keluarlah neneng dari selimut di kamar dan berniat nonton. Taunya Biyan lagi nunggu film juga. 

“Bi, mama pinjem dong tivinya sebentar” 

“Wah, aku lagi nunggu Higgly Town Heroes Ma” –> macam penting bener

“Tapi aku kan jarang nonton Bi, paling 10 menitan doang” 

“Ya tapi ini udah mau mulai Higgly Town Heroes nya” 

“Ya nanti kalau mulai kita pindahin lagi, aku cuma bentar doang” 

“Wah nanti kelewat lagu awalnya, aku suka lagunya” 

“YAELAH BI KAN CUMA SEBENTAR DOANG DEH, MAMA KAN GA PERNAH NONTON TV JUGA” –> mulai emosi, dibarengi dengan tindakan balik lagi ke kamar, banting pintu, masuk selimut dan NGADEP TEMBOK. 

Eh anaknya panik, nyusul ke kamar sambil teriak teriak mau nangis

“MAAP MAAAA!, Mama boleh nonton kok” 

(Mamanya masih marah, masih ngadep tembok, dan cuma nyaut “ga usah, ga jadi, ga kepengen”)

Anaknya tambah panik, 

“MAMA!, JANGAN GITU MA! AYO NONTON AJA, LAMA JUGA GAPAPA” 

(Mamanya tambah drama, “punya anak kok jahat, pinjem TV sebentar ga boleh”)

Anaknya double panik

“MAMA JANGAN NGOMONG GITU, MAMA BOLEH NONTON SAMPE JAM BERAPA AJA”

Akhirnya mamanya ngalah (ketambahan sebenernya MASIH pengen nonton Boyz II Men), dan nonton lah anteng sambil dipelukin anaknya, dan asli sih cuma kebagian SATU lagu aja. Akhirnya pindah channel dan Higgly Town Heroes ya juga belum mulai. Yang mana artinya drama drama tadi sungguh tak berguna adanya. 

Bapaknya cuma geleng-geleng kepala dan bilang “kayak punya anak dua ya jadinya”. 

Nah tuh, udah tau kan sekarang drama drama itu dari mana datangnya. Jangan suka sok pusing pas anaknya drama deh, sendirinya ngaco. #selftoyor 

Jadi gitu, sekarang mamanya lagi usaha belajar mengurangi kadar drama. Yang nggak usah dibikin drama, mari kita biarkan lewat saja, jangan segala-gala dibikin drama, anaknya ikutan kan pusing sendiri. 

Sekolah jadi ibu memang nggak abis abis deh *lap keringet*

Image

duo drama 

12 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya