Memilih Diet Bagai Memilih Dosa

“Lho kalau makan bala-bala kan malah bikin gendut dibanding makan nasi”

Begitu kata teman saya waktu saya mengambil bala-bala 2 biji dan memilih nggak makan nasi saat buka puasa kemaren-kemaren itu.

Buset, puasa kan udah lama ya?

Iya sih, maklum penulis kebanyakan tidur siang, tulisan pun banyak tertunda termasuk yang satu ini.

Jadi karena merasa saya mulai semakin menggemuk dan menurunkan berat badan tak lagi semudah saat muda dulu, maka saya memutuskan untuk mengurangi makan nasi. Istilah sekarang sih diet karbo katanya. Padahal kalau menghindar makan nasi tapi masih makan mie kan bukan diet karbo namanya ya.

Sekitar dua tahun lalu, saya pernah berhasil sama yang namanya diet karbo. Ga makan nasi sama sekali selama hampir dua bulan. Makan mie dan roti sih kadang-kadang. Makanya kata siapa ini diet karbo. Dibilang berhasil karena berat badan saya turun sekitar 4kg. Lumayan banget secara setelah umur menginjak 35, turun sekilo aja susahnya setengah mati.

Nah karena ingin berhasil lagi, kemudian saya cut makan nasi. Sudah mulai bisa makan Nasi Gudeg tanpa nasi. Oh jadinya makan gudeg ya bukan nasi gudeg. Rasanya? Nggak enak! hahaha. Apalagi makan gudegnya di Jogja yang notabene manis banget.

FullSizeRender

Nasi Gudeg Yu Djum di Jogja

Berhasil pula makan masakan Padang tanpa nasi.

FullSizeRender(2)

Makan Ayam Pop + lain-lain di RM Family Benteng, Bukittinggi

Kecuali saat event Trip of Wonders dan berkesempatan makan Jariang-nya Uni Emi yang enak banget itu di Payakumbuh. Ya kali makan jariang nggak pake nasi ya kan?

Kembali lagi kenapa kok saya makan bala-bala ketika memutuskan nggak makan nasi. Karena kandungan bala-bala itu kan 80%nya tepung yang saya tau malah mengikat lemak dalam tubuh dan ya tentu saja bikin gemuk. Trus kenapa pula saya masih suka iseng makan mie padahal nggak makan nasi. Diet karbo macam apa ini?

Begini, buat saya, memilih diet itu serupa memilih dosa.

Kalau mau bikin dosa, bikinlah yang enaknya worth it. Yang seimbang antara risiko dosa dan enaknya dosa itu sendiri.

Buat saya, skip makan nasi itu jauh lebih mudah daripada nggak makan bala-bala. Soalnya gini, nasi itu ada terus di rice cooker dan kebiasaan kita makan nasi bisa 2-3 kali sehari. Yes, pagi siang malam makannya nasi mulu. Sementara yang namanya bala-bala kan ga selalu ada. Adanya ya pas kalo lagi bikin atau nemu di jalan atau di tempat makan, jadi tentu saja makannya ga tiap hari. Dan terang saja saya lebih suka bala-bala daripada nasi. Jadi menolak makan nasi itu mudah, sementara menolak bala-bala itu merupakan hil yang mustahal buat saya.

Kalo Mie?

Aduh salahkan saja darah cina saya yang walaupun cuma seciprit tapi membuat saya tergila-gila makan Mie. Dalam sehari saya nggak keberatan lho makan mie tiga kali. Pagi Mie Goreng, siang Yamien dan malam Mie Kocok.

Untungnya agak jarang juga sih bisa nemu Mie sehari tiga kali.

Ya sama aja kayak bala-bala, saya suka banget makan mie dan nggak mampu menolak kalau harus makan mie.

Untungnya saya ga terlalu suka makan cake-cake, pastries, kue-kue kering dan segala macam makanan yang manis-manis. Jadi buat saya gampang menolaknya. Udahlah bikin gemuk, kita ga suka pula, ga worth it.

Saya pernah iseng bertanya ke beberapa teman muslim yang taat nggak pernah makan babi karena haram, tapi masih suka minum bir kalau kami kumpul-kumpul. Kemudian katanya “soalnya gw emang ga suka makan babi tapi kalau bir susah nolaknya, lagi pula dosa itu dipilih-pilihlah jangan semua dilakukan”

Mohon jangan jadi digeneralisasi bahwa saya bilang orang muslim tidak makan babi tapi minum bir ya, itu kan cuma teman saya aja.

Jadi begitulah, buat saya memilih diet itu memang seperti memilih dosa. Saya memilih yang worth sama dosanya dan yang bisa saya hindari. Kalau bikin dosa nggak milih-milih, kan gawat 🙂

6 Comments

Filed under dan Saya, jalan-jalan, Just a Thought, Makan Minum, Saya, Saya, dan Saya

6 responses to “Memilih Diet Bagai Memilih Dosa

  1. Satuju Teh.

    Selain untuk makanan, sebetulnya pilih memilh dosa ini berlaku juga buat belanja! Ada orang yang kemana-mana tahan cuma makan di Solaria dan minum es teh tawar tapi pas masuk toko sepatu, jinjingannya kiri-kanan.

    Atau tahan untuk tidak belanja ini itu, eh kalap pas masuk ke toko buku.

    Dipikir-pikir hidup itu seperti rangkaian keputusan atas banyak pilihan setiap hari ya. Termasuk pilih-pilih dosa 🙂

  2. hahahaah tos bangetlah ini! gua juga diet karbo tapi gorengan pake tepung tetep hajar. ya abisnya kalo makan nasi pun tetep aja kadang lauknya udang goreng tepung. kan mendingan ga pake nasi tapi lauk yang enak2 itu dihajar aja. apalagi sesungguhnya gua lebih suka lauk pauk daripada nasinya :))

    dan setelah 5 minggu gak makan nasi (eh kecuali pas flu batuk sih, merasa perlu tambah asupan tenaga dari nasi), turunnya cuma 1 kg aja dong dong dong.. aing mah. tapi ya sudahlah tak apa, daripada naik 1 kg, yekaaannn?

  3. pilihan yang sulit ,dan harus bertekat untuk kurus

  4. Huahahahahah aku setuju bangett… hidup bala-bala!

  5. Kalo aku sih pilih pilih gini buat makanan yg nantinya bakal bikin sakit perut teh…harus yg enak banget dan pedes banget..nanti kl pun sakit perut setimpal lah sama enaknya pas makan 😂 *halaaah apapula ini*

  6. jokeray

    “Kalau mau bikin dosa, bikinlah yang enaknya worth it. Yang seimbang antara risiko dosa dan enaknya dosa itu sendiri.”

    WORDS!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s