Category Archives: Saya

Singapore. Nyoba Nginep di Capsule : Met, a Space Pod

Berhubung lagi agak sering bolak balik ke Singapore dalam rangka kerjaan (yang kemudian selalu diikuti dengan acara extend dalam rangka main-main), saya kemudian jadi suka cari-cari alternative menginap di Singapore yang selain nggak bikin bosen juga nggak ngajak merogoh kantong dalam-dalam alias ga mahal-mahal amat.

Kemudian saya nemu yang namanya Met, A Space Pod. Ngintip website nya eh kok lucu. Jadi ini semacam hostel yang boboknya di kapsul atau di pod, wihiiii lucu. Soalnya udah lumayan lama saya pengen coba The Pod yang ada di Bugis ini tapi belom ada kesempatan. Malah jadinya coba si Met ini duluan deh.

IMG_1754

Dari sisi lokasi, Met A Space Pod ini SANGAT MENYENANGKAN. Gimana enggak, posisinya persis di area Boat Quay, yang kalau malem-malem pemandangannya cakep banget bisa intip Marina Bay Sands segala. Plus bisa juga memandangi sungai di mana ada kapal-kapal cantik berwarna warni yang senantiasa hilir mudik.

View sunrisenya juga ga kalah cakep. Hampir mirip seperti nginep di hotel berbintang

IMG_1776

Kalau liat fotonya, kapsul di Met The Space Pod ini mirip mesin cuci yang bertumpuk-tumpuk. Kamu bisa pilih pintunya mau bukaan depan atau mau bukaan samping. Dengan pertimbangan kalau buka samping keluar masuknya akan lebih mudah, maka saya milih yang bukaan samping.

IMG_1784

Kapsul atau pod-nya sendiri bisa dibilang lumayan spacious. Kamu nggak cuma bisa tidur di dalamnya, tapi bisa juga sambil buka laptop buat main kerja, masih cukup luas juga kalau sambil tidur kamu mau ngecharge laptop dll. Namun menurut pengalaman saya yang tidurnya nggak bisa tertib, ngecharge laptop berujung kabelnya ketendang kaki sendiri kemudian copot.

Masing-masing pod dilengkapi dengan televisi, 2 usb port buat ngecharge, satu colokan juga buat ngecharge, 3 panel lampu yang bisa kamu pilih mau pake yang mana : lampu terang, lampu tidur warna biru, atau lampu tidur warna putih. Tentu saja saya pilih warna biru buat bobok. Biar berasa kayak astronot.

Pendeknya, tidur di kapsul atau pod ternyata asik juga, nggak bikin sesak napas padahal saya merasa agak-agak semi-semi klautrophobia, suka senewen kalau naik lift yang penuh. Tidurnya pun lumayan pulas kok sampe telat bangun. Kasurnya berkualitas cukup baik, bantalnya pun. Selimutnya juga hangat tapi adem, dan mereka menyediakan handuk tebal seperti layaknya di hotel yang lumayan bagus.

Menginap di Met A Space Pod artinya free flow juice, buah dan kopi-kopian. Ada area makan di lantai 4 yang bisa kamu kunjungi setiap saat. Di area ini juga ada tempat duduk lesehan kalau-kalau kamu mau buka laptop buat main atau nonton film kerja. Di luar jam sarapan juga suka masih ada roti lengkap dengan selai-selainya, saya tiba di sana cukup malam dan setelah mandi agak males keluar lagi, kemudian berujung ngemil roti 3 biji plus 2 cangkir teh tarik.

Oya ngomong-ngomong soal kamar mandi, walaupun kecil, tapi cukup nyaman kok. Ada air panas, dan tekanan air cukup keras, cukup banget buat saya, walau kamu harus pinter-pinter menyusun barang bawaan ke kamar mandi biar nggak kena basah. Oya, asiknya lagi, ada 1 kamar mandi lumayan besar di lantai 4 (ini kelihatannya punya pribadi si owner) yang boleh kita pake mandi jugaaaa! Oya, sabun dan shampoo disediakan jadi kamu nggak perlu repot bawa-bawa dari rumah.

Yang juga istimewa dari Met A Space Pod adalah pelayanan staff nya yang sangat ramah dan helpful. Proses check in cepet, semuanya ramah. Corinne, staff perempuan yang membantu saya check in dan menunjukkan ini itu dari tempat mandi dan tempat makan sangat ramah dan lalu memotret saya untuk dipasang di dinding front officenya. Jadi kalau kamu kesana nanti, coba cari foto saya ya kebagusan.

IMG_1944

Pertanyaan besarnya adalah, apakah saya lain kali akan menginap lagi di Met A Space Pod kalau pas ke Singapore lagi? YES! Tentu saja. Kalau perginya sendirian, nginep di Met A Space Pod adalah pilihan yang lumayan oke. Harganya sekitar SGD42. Cukup mahal untuk harga hostel tapi masih lumayan ekonomis dibanding harus menginap di hotel biasa banget yang harganya tetep aja di atas itu.

Oya, pas saya nyampe beberapa café di Boat Quay sedang menggelar acara nonton bareng bola atau apalah yang tentu saja bikin berisik, apalagi pod saya ada di pinggir jendela. Sebagai tukang tidur sejati, saya sih sebetulnya nggak terganggu, tapi Corrine dengan baik hati memberikan saya tutup kuping biar ga berisik dan tidurnya nyenyak katanya.

Area Boat Quay ini memang enak sih buat nginep dan jalan-jalan. Kamu bisa jalan menyusuri sungai sore-sore, atau nongkrong ala ala anak muda lokal di Clarke Quay, bisa juga jalan ke area MBS dan patung Merlion. MRT juga ga jauh, jalan kaki bisa 8 menit, atau 15 menit kalau kamu kebanyakan berenti foto-foto kayak saya. Kalau kamu penggemar kucing, di sebelah Met ada café kucing bernama Neko no Niwa, kamu tinggal bayar SGD12 lalu bisa main-main sama kucing di situ selama satu juga. Katanya sih kucing di sini bagus-bagus dan bersih-bersih plus terjamin kesehatannya. I can not relate karena saya nggak suka kucing :D. Tapi seorang teman yang kebetulan tinggal di Singapore bilang café kucing yang ini adalah yang terbaik dibanding kafe-kafe kucing lainnya di sana.

Keterangan lengkap soal Met A Space Pod ada di sini ya. Kalau mau tanya-tanya silakan di kolom komen 🙂

 

13 Comments

Filed under dan Saya, Info Aja, jalan-jalan, Kerja, kerjaan, life, Saya, Saya, Saya, dan Saya, traveling

TIJILI : Hotel Manis di Tengah Ramainya Seminyak

Pertimbangan saya memilih hotel di Bali selalu berdasarkan lokasi, lokasi dan lokasi. Kalau ingin tempat yang agak sepi tapi gampang cari makan dan kalau tiba-tiba rindu Seminyak tapi nggak mau nginep di Seminyak, saya biasanya akan memilih daerah Canggu. Kalau sudah diniatkan mau beneran ke tempat sepi, saya kemudian memilih Gianyar dengan Barn and Bunk nya yang homey itu.

Continue reading

11 Comments

Filed under jalan-jalan, kerjaan, life, Makan Minum, Saya, Saya, Saya, dan Saya, traveling

Menyepi Bareng Sepi Saat Nyepi di Bali

Ya iya namanya Nyepi ya pasti sepi. Tapi taukah kamu betapa riuhnya sehari sebelum nyepi di Bali? Semua tempat makan penuh, supermarket dipenuhi turis-turis yang tau bahwa keesokan harinya mereka nggak bisa lagi belanja dan makan-makan di luar.

Tahun ini saya memutuskan ingin coba yang namanya Nyepi di Bali bersama beberapa orang teman meskipun rencana liburan kali ini lumayan dapat banyak tanggapan serupa “hah? ke Bali pas Nyepi? Ngapain? Kan nggak bisa ngapa-ngapain?”

“hah? yang di Bali aja biasanya Nyepi-escape kok ya lu malah terbang ke Bali”

dan ratusan (mulai lebay) pertanyaan lainnya yang kami tanggapi dengan senyum-senyum simpul seperti abg baru dapat salam dari gebetannya.

Continue reading

13 Comments

Filed under Cinta, jalan-jalan, life, Saya, Saya, Saya, dan Saya, traveling

City Tour Singapore : Naik Motor!, IKUT YUK!

Setiap jalan-jalan ke Singapore, saya selalu memilih MRT dan bis sebagai pilihan transportasi selama di sana. Taxi terlalu mahal untuk kantong saya (terutama kalau lagi jalan sendirian). Paling enak memang naik MRT, kemungkinan salah ambil rutenya sedikit karena semua sudah terpampang jelas di petanya. Naik bis banyak juga membantu menjangkau daerah-daerah yang mggak ada MRT nya, tapi mesti jeli banget baca nomer bis dan rutenya ya, kalau salah alamat repot.

Jadi, dengan segala kemudahan dan kemurahan tarifnya, MRT memang selalu jadi pilihan utama saya kalau lagi jalan-jalan ke Singapore. Mungkin buat kamu juga kali ya?

Sayangnya, jalan-jalan mengandalkan MRT artinya kita akan banyak melewatkan spot menarik di Singapore. Palingan hanya liat tempat di mana kita pergi dan tempat ke mana kita akan pergi. Banyak hal menarik yang akan terlewatkan, padahal mungkin di antara kedua tempat itu ada juga tempat menarik yang mungkin pengen kamu datengin.

Nah, gimana kalau sekarang saya kasi tau bahwa ada pilihan baru yang menarik untuk jalan-jalan keliling Singapore?

How?

Continue reading

21 Comments

Filed under jalan-jalan, life, Makan Minum, Saya, Saya, Saya, dan Saya, traveling

Asik-asik Menebar Kebencian 


(foto nyolong paksa dari Google) 

Tadinya tentu saja saya nggak mau ikut-ikutan membahas soal LGBT dan ini itunya. Kan udah banyak yang bahas di tv, udah ngeblog, udah kultwit, udah twitwar segala macem. 

Trus kenapa dong akhirnya gatel juga ikut nulis? 

Continue reading

11 Comments

Filed under Family, Just a Thought, life, Saya, Saya, Saya, dan Saya

The Rosie Project. (insya allah ga pake spoiler)

Bisa dibilang saya melalui masa masuk usia dewasa dengan membaca buku-buku chicklit. Dari jaman Bridget Jones’ Diary, sampe The Devil Wears Prada, semua saya lahap sampai tuntas. Belakangan ketika social media mulai menyita waktu membaca, saya masih tetap setia baca chiklit meskipun waktunya kadang-kadang defisit banget.

Membaca chiklit artinya mengerti banget pola pikir penulisnya. Maklum, rata-rata penulisnya perempuan, tokoh-tokohnya nggak beda jauh dari perempuan muda, punya penghasilan sendiri, cerdas, punya keterampilan, tapi tetep drama queen terutama soal percintaan. Makanya nggak heran kalau saya dengan mudah bisa mengikuti alur penulisan dengan mudah.

Waktu The Rosie Project sampai ke tangan saya, seperti biasa kiriman @editor_in_chic, saya nggak ngeh kalau penulisnya lelaki. Tokoh sentralnya memang lelaki sih, tapi kan bisa aja penulis perempuan nulis soal tokoh lelaki. Kemudian ketika saya mulai kesulitan mengikuti pola pikir dan cara pandang Don Tillman, si tokoh utama, saya baru sadar, oh penulisnya lelaki.

Dari situ cerita ini kemudian jadi lebih menarik buat saya karena rasanya seperti menyelami daya pikir seorang lelaki. Bukan perihal pekerjaan atau segala sesuatu yang lebih serius, tapi lebih ke soal…………..

Continue reading

9 Comments

Filed under resensi buku, Saya, Saya, Saya, dan Saya

Bagan dan Warna Terakota-nya yang Bikin Cantik

Myanmar adalah tujuan saya untuk liburan mengawali tahun 2016 kemarin. Sebetulnya jauh-jauh hari kami sudah punya rencana lain. Tapi ada 2 orang teman baik yang baru saja pulang dari Myanmar dan sharing betapa cantiknya negara ini. Maka saya punkemudian berbalik arah. Di waktu yang singkat cari tiket, cari hotel, cari-cari apa yang mesti disiapkan dalam waktu kurang dari seminggu rasanya.

Kemudian saya mendapati tidak ada penerbangan dari Jakarta ke Mandalay. Yang ada hanya ke Yangon dan Yangon tidak ada di list tempat yang mau saya kunjungi di Myanmar. Maka ‘dengan sangat terpaksa’ plus latar belakang ‘asik bisa mampir makan enak dulu’, saya pun memutuskan untuk terbang ke Mandalay dari Bangkok. Yes, ada waktu satu malam sebelum dan sesudah Myanmar di Bangkok. Lumayan, bisa blinji-blinji dan makan enak. Penting ini.

Pesawat saya mendarat di Mandalay Pk. 12.30.

FullSizeRender-1 Continue reading

6 Comments

Filed under Cinta, Family, jalan-jalan, life, Saya, Saya, Saya, dan Saya

You Don’t Teach Kids How to Love, You Show Them

Ada banyak draft tulisan di blog ini yang pada akhirnya tidak pernah saya posting. Yang paling banyak adalah soal Biyan, anak saya satu-satunya. Ada yang karena saya merasa informasinya terlalu gamblang, kan katanya di jaman internet edan ini kita harus hati-hati memberikan informasi atau bercerita soal anak kita kan ya. Tapi yang terutama adalah karena saya khawatir dibilang sombong karena anak saya yang satu-satunya itu, se nggak beres apapun ibunya, adalah anak yang memang bisa banget dibangga-banggain kesana kemari.

Continue reading

13 Comments

Filed under Cinta, Family, life, Saya, Saya, Saya, dan Saya

Belanja Makanan Cuma Modal Dasteran

Kalau saja diijinkan –oleh waktu, dompet, kantor dan oleh orang di rumah-, saya sih maunya jalan-jalan keliling nyobain makanan yang enak-enak di daerah aslinya. Sayangnya, nggak gampang keliling-keliling kayak begitu. Selain waktu seringkali tak bersahabat dan dompet juga nggak mengijinkan, si boss di kantor kayaknya udah siap rolling eyes tiap saya minta ijin cuti (yang sebenernya udah habis jatahnya berbulan-bulan lalu).

Problemnya ada satu lagi,

Continue reading

4 Comments

Filed under Friends, Info Aja, Kerja, kerjaan, life, Makan Minum, Saya, Saya, Saya, dan Saya

Daripada Jadi Penyakit

Kita merasa diri lebih baik daripada orang lain. Percayalah saya pun merasa begitu. Setiap lihat ibu-ibu yang lari-lari di playground nyuapin anaknya, saya mencibir dalam hati sambil membatin “salah sendiri anaknya ga diajarin kalau makan itu harus duduk bukannya lari-lari”. Ketika saya melihat perempuan lain yang lagi susah parkir, saya kemudian berbangga hati karena saya dikenal jagoan kalo parkir mobil.

Kemudian saya kena batunya sendiri. Saya menemui ada beberapa orang yang merasa kalau saya ini bukan istri yang baik karena saya tidak pernah mencuci dan menyetrika baju suami saya. Saya kemudian dibilang bukan ibu yang baik karena saya sering ninggalin Biyan untuk main sendiri. Baik itu duduk-duduk lama di cafe sendirian, atau pergi ke Jakarta karena urusan kerjaan (kemudian dibarengi main-main), atau bahkan kadang-kadang saya suka pergi main ke Bali, misalnya tanpa mengajak Biyan.

Continue reading

8 Comments

Filed under Saya