“Yang Nggak Asik Itu Kalau Mengeluh Gendut Terus-terusan” 

Semalam sebelum tidur seperti biasa saya dan Biyan, anak saya satu-satunya yang umurnya 10 tahun itu ngobrol kesana kemari. Istilahnya pillow talk, kata anak-anak muda jaman now.

Seperti biasa pula saya mengeluhkan berat badan saya yang naik mulu tanpa terkontrol. Sebagai informasi, setelah berhenti kerja kira-kira dua tahun lalu timbangan saya memang naik sekitar 6-7kg. Lumayan drastis dan lumayan bikin saya panik secara baju-baju mulai ada yang nggak cukup.

Kurang lebih percakapannya begini ;

Saya : Duh tambah lama mama tambah gendut aja nih

Biyan : Ah, gendut itu asik tau

Saya : Masa?

Biyan : Iya, yang nggak asik itu kalau mengeluh gendut terus-terusan 

DANGGGGGGGG!

Saya kemudian sadar, oh iya ya saya kayaknya kebanyakan mengeluh kalau saya gendut. Korban yang harus terus menerus mendengarkan keluhan saya ya sudah pasti Biyan secara dia yang paling banyak menghabiskan waktu sama saya. Rupanya beliau sudah mulai bosan mendengar saya mengeluhkan hal yang sama terus menerus.

Kemudian tentu saja jadi berpikir tentang beberapa orang yang kerjaannya mengeluh tentang hal yang sama TERUS-TERUSAN. Namanya juga manusia hidup, wajar banget kalau menemukan hal-hal yang perlu dikeluhkan kan ya. Wajar juga kalau mengeluhnya sama teman yang berasa dekat, sama teman yang paling sering ketemu, dan sama teman di whatsapp group yang belakangan ini banyak disebut sebagai support group.

Karena asik mengeluh akhirnya kita lupa bahwa teman kita juga mungkin punya masalah tapi nggak sempat cerita karena kitanya mengeluh terus. Lebih gawat lagi, lama-lama teman kita males ketemuan karena kayaknya tiap ketemu bawaannya kita mengeluh terus. Kemudian mengeluhkan hal yang sama pula. Aduh kebayang malesnya.

Kalau boleh jujur, saya juga sempat menghindar ketemuan (atau wasapan) sama beberapa orang karena setiap ketemu itu-itu terus yang dikeluhkan. Kok kayaknya ketemu dia nggak ada seneng-senengnya. Kok kayaknya masalahnya nggak selesai-selesai dan kok kayaknya dia nggak melakukan saran yang pernah saya ungkapkan waktu pertama kali dia curhat soal masalah yang itu. Kok akhirnya malah enakan duduk sendiri buka handphone atau baca buku sambil denger lagu? Dan kok kok kok lainnya yang membuat saya akhirnya memilih tidur siang aja di rumah.

 

 

5 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

5 responses to ““Yang Nggak Asik Itu Kalau Mengeluh Gendut Terus-terusan” 

  1. ahihiy! aku juga punya ‘kok’:
    kok sama ya, akupun lelah mendengar keluhan yang itu-itu aja dari orang yang sama. maka akupun berusaha untuk tidak seperti itu. kalo ga cari solusi, ya telen ajalah masalahnya.
    soal nambah gendut, sama nih. tapi daripada mengeluh gendut terus, ya aku cari makan gado-gado ajalah, atau makan nasi cumi tapi pasrah dengan timbangan yang mungkin menambah, lalu berenang dengan harapan timbangannya turun lagi.

    salam buat biyan yang asik :))

  2. ME

    hahahahhaa..Biyannn..menohok :))

  3. saya juga ngerasa sama sih akhir-akhir ini banyak sekali ngeluh dan ternyata setelah disadari masalahnya ya itu-itu saja dan solusinya juga saya tahu sendiri. kenapa nggak difollow up solusinya itu jadi misteri tersendiri. hmmm

  4. yang penting bahagia kakkkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s