Mengintip Sunrise (sekaligus Borobudur) dari Puthuk Setumbu

Ada yang bilang Puthuk Setumbu, ada yang bilang Punthuk Setumbu. Berhubung mirip-mirip, pilih yang mana aja yang enak buat kamu.

Kalau saja nggak perlu bayar ratusan ribu untuk mengintip sunrise dari borobudur, tempat ini mungkin ga bakal didatangi banyak orang seperti sekarang. Yes, termasuk saya. Belum pernah sih, tapi saya denger, untuk melihat sunrise dari Borobudur, kita harus bayar Rp. 150.000 untuk wisatawan domestik dan Rp. 300.000 untuk wisatawan asing. Mayan mahal kan ya. Lagipula ngintip sunrise kan ga asik kalau sendirian, nah mau abis berapa jadinya?

Read More

Bali Lagi Bali Lagi

Siapa sih yang nggak suka Bali ya kan. Saya suka banget karena Bali bisa dibilang perpaduan yang pas untuk memuaskan hasrat ‘pengen liburan tanpa mikir harus pake baju apa, ga harus dandan dan bisa sendal jepitan’ dengan ‘liburan ini pengen dress up trus duduk di tempat yang lagi happening ah”. Kebayang kan ya? Di Bali bisa duduk sampe bego di pantai beralaskan kain bali, minum bir kalengan, atau air mineral botolan yang dingin kalau udah kelamaan berjemur, bisa juga dandan cantik lengkap pake catok rambut, lipstik yang hits dan mata berbinar, kalau perlu pake fake eyelashes (yang mana sampe sekarang saya belum bisa pakenya). Di Bali bisa makan di pinggir jalan tapi nikmatnya keterlaluan, pake keringetan pula. Bisa juga duduk di tempat makan yang cantik, selain makan bisa menikmati pemandangan baik interior si resto atau pemandangan di luar restonya. Yang pasti dua-duanya memiliki nilai instagram material. Read More

Ngapain ke Belitung, coba?

Kadang-kadang liburan yang asik itu liburan yang mendadak dan ga kebanyakan rencana memang. Seperti waktu tau-tau pergi ke Belitung kemarin itu. Intinya sih cuma karena pas Biyan masih libur sekolah dan rencana pergi bulan Februari ditolaknya mentah-mentah karena anaknya nggak mau bolos sekolah untuk pergi jalan-jalan (beda banget sama ibunya, memang).

Di luar dugaan, Belitung ternyata sangat menyenangkan dan cocok buat jadi tempat liburan keluarga, karena : Read More

Satu Masalah Selesai

Selama ini, saya belom pernah merasa akan jadi se-emak-emak seperti postingan berikut ini. Waktu pertama kali blogging kan karena patah hati, ya. Jadi kirain isi blog ini selamanya akan urusan cinta-cintaan dan cerita patah hati. Tapi kali ini saya mau cerita soal musuh abadi saya selama 7 tahun ini. 7 tahun artinya ya sejak punya anak sih.

Yes, seperti halnya ibu-ibu senusantara, sejak anak saya lahir saya sudah mengibarkan bendera perang sama yang namanya nyamuk. Nggak usah semacam nyamuk Aedes Aegypty yang bawa-bawa demam berdarah, sama nyamuk-nyamuk biasa pun saya benci setengah mati karena:

Read More

Yang Katanya Food Blogger Padahal Cuma Tukang Makan

Screen Shot 2014-12-04 at 4.17.25 PM

Sudah sekitar 5-6 tahunan belakangan ini saya membiasakan diri menulis soal makanan yang saya makan. Bahasa kerennya : review. Tulisan-tulisan soal makanan ini tadinya ada di blog yang lagi kamu baca, tapi kemudian saya pindahkan ke SurgaMakan.com biar ga tercampur sama curhatan dan mumbling-mumbiling saya yang nggak jelas disini. Waktu Twitter mulai rame, saya kemudian suka posting singkat-singkat soal makanan di @SurgaMakan. Udah follow? Lho kok belum? Follow dong.

Read More

#rawatgigiku Yang Makin Asik Dengan @ciptadentID

Saya (tadinya) bukan orang yang rajin sikat gigi malam-malam sebelum tidur. Selain karena suka kelupaan trus kalo udah selimutan jadinya suka lupa, saya juga suka makan ini itu sebelum menjelang tidur. Mohon jangan ditiru dua kebiasaan buruk ini : males sikat gigi dan suka ngemil menjelang tidur. Sejak punya anak, saya tentunya ingin menularkan kebiasaan baik pada anak saya dong ya. Jadilah saya mulai membiasakan diri untuk selalu sikat gigi menjelang tidur.

Read More

Perihal Memaafkan

Sampai umur saya 20an dulu, saya masih takut deket deket kuda, karena sejak saya kecil, mama saya selalu bilang jangan berdiri sebelah kuda, nanti ditendang. Waktu saya bilang alasan saya nggak mau berdiri sebelah kuda karena takut ditendang, (mantan) pacar saya ketawa keras. Katanya, kuda itu nggak bakalan bisa nendang ke samping karena engsel kakinya cuma bisa memungkinkan gerakan ke depan dan ke belakang. Damn. Bener juga. 20 tahun hidup saya hidup dalam kebohongan, untung cuma urusan tendangan kuda, bukan urusan-urusan lain yang lebih penting.

Read More

Tabula Rasa & Keheningannya

('minjem' dari 21Cineplex.com)

(‘minjem’ dari 21Cineplex.com)

Menyenangkan menonton film Indonesia belakangan ini. Kita tidak lagi dipaksa melihat akting pas-pasan seperti dulu. Akting yang bahkan kalau kita lihat di sinetron aja rasanya pengen banting tivi itu lho. Udah ga ada cin, yang main film sekarang canggih-canggih, mainnya natural, ngomongnya natural, kadang-kadang bikin kita lupa kalau kita lagi nonton film.

Semalam, atas saran seorang teman *melirik tajam pada yang bersangkutan*, saya pergi nonton Tabula Rasa. Saya suka nonton bioskop, tapi bukan penggemar berat. Meluangkan waktu 2 jam di bioskop untuk saya harus selalu ada alasan kuat. Banyak yang bilang, ini film tentang makanan, mungkin itu sebabnya si kawan, kita sebut saja namanya Nauval Yazid meminta saya nonton film ini. Toh semua tau saya emang tukang makan kan? Kan.

Di 30 menit pertama (dah hampir di 75 menit selanjutnya), alur film ini bergerak lambat. Bercerita soal Hans, si pemuda Papua yang merantau ke Jakarta demi mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pemain bola. Dalam rangka membuat cerita menjadi menarik, tentu saja cita-cita ini kandas di tengah jalan. Hans diperankan dengan asik oleh Jimmy Kobogau. Pendatang baru atau bukan, saya kurang tau. Aktingnya saya bilang asik karena di saat yang bersamaan saya bisa ngerasain kasian sekaligus sebel sama tokoh Hans.

Setelah disuguhi beberapa adegan menggambarkan betapa sulitnya usaha Hans untuk bertahan hidup di Jakarta, maka kita akan bertemu dengan tokoh-tokoh lain di film ini. Ada Dewi Irawan yang berperan sebagai Mak, dan 2 pria lain yang kalau kamu pengen tau namanya bisa cek disini aja.

Sebelum nonton tentu saja kita sudah mendengar garis besar film ini : seorang pemuda papua yang gagal mewujudkan mimpinya, malah kemudian jadi tukang masak di sebuah tempat masakan Padang. Yang aneh apa? Satu, tadinya dia pemain bola, kedua dia bukan orang Padang. Tapi justru setelah dia yang masak, kedai itu jadi ramai lagi setelah sebelumnya sepi pengunjung. Jadi cerita yang menarik kan dengan dua keanehan ini? Iya harusnya sih.

Kalau kamu nggak suka kekerasan, kamu mungkin akan suka film ini. Pasalnya, setiap ada konflik, redanya selalu cepat. Konflik digambarkan dengan debat sejenak, kemudian adem lagi. Kalau saya nggak salah, mungkin ada 5-6 kali adegan semacam ini. Cocok buat kamu yang nggak suka liat orang berantem. Pada ademnya cepet cin. Temen nonton saya semalam bilang “filmnya hening ya”. Dan saya pun angguk-angguk setuju.

Balik ke soal ‘film ini soal makanan’. Saya agak berharap banyak sih, berharap lebih banyak adegan dan dialog yang menggambarkan betapa pentingnya rasa makanan bagi lidah orang. Saya juga berharap banyak filosofi yang diangkat makanan itu sendiri. Tentu saya juga berharap banyak adegan yang secara visual menggambarkan Masakan Padang dari proses sampai jadi dihidangkan di atas meja. Bukannya nggak ada sih, ada kok visual gimana proses masak ini dilakukan di dapur, walaupun didominasi oleh proses menumbuk cabe dan bawang yang kemudian saya bayangkan ditambah terasi kemudian jadi sambel khas masakan Sunda. Kamu juga mungkin akan jadi pengen makan Rendang setelah berulang kali melihat Hans mengaduk santan di kuali besar dengan api dari kayu, bukan dari gas karena masak Rendang itu apinya harus kecil dan mengaduknya harus sabar dan pas.

Konflik terbesar di film ini mungkin ketika Mak tiba-tiba sakit dan masuk rumah sakit sehingga Hans harus masak sendiri di dapur. Tentu saja masakannya seenak masakan Mak, namanya juga pemeran utama, harus jagoan. Tidak lama kemudian, Mak keluar dari rumah sakit dengan jalan sedikit pincang, lalu kemudian masalah selesai.

Bagaimana dengan masalah si Hans sendiri? Apakah akhirnya dia jadi pemain bola seperti cita-cita awalnya? Atau kemudian dia jadi juru masak Masakan Padang ternama? Atau kemudian dia pulang kampung halaman dan buka restoran Padang disana dan kemudian sukses? Kalau mau tau ya kamu harus nonton sendiri.

Oya, satu hal penting ketika nonton Tabula Rasa adalah ternyata Hot Peach Tea nya XXI enak ya, cobain deh. Pas sama dinginnya gedung bioskop, apalagi saya kelupaan bawa pashmina semalam.

Nambah Uang Tanpa Nambah Kerjaan

Judulnya provokatif ya. Kalau kamu jadi mampir kesini karena judul itu, berarti saya berhasil menarik perhatianmu. Aha!

Tapi tenang, bukan cuma sekedar judul, tapi ini beneran. Jadi saya baru nemu program asik yang bisa nambah uang dari sampingan kamu tanpa kamu mesti ngapa-ngapain. Oh sampe sini saya harus kasi disclaimer bahwa ini bukan multilevel marketing ya. Tadinya mau bilang passive income tapi khawatir nanti terdengar terlalu MLM, padahal memang bisa dibilang passive income sih.

Sini saya ceritain detail. Yang perlu kamu lakukan cuma tinggal posting di blog soal program ini, atau pasang banner di blog mu biar tambah asik. Yang aktif twitteran (iya, maksudnya kayak saya) bisa tweet link program ini, yang aktif di forum dan punya banyak temen ngobrol online bisa posting di forumnya masing-masing. Tujuannya buat apa? Ya buat dapet uang tambahan tanpa kerjaan itu tadi.

Yang pertama kamu perlu lakukan adalah masuk ke http://mifx.com/aa Di bagian bawah website itu, kamu akan mendapati ini :

Nah setelah mengisi nama, alamat, email, dan nomer telepon, di inbox mu akan ada link untuk verifikasi email. Biasalah ini, kayak kalo registrasi newsletter online shop gitu (ketauan doyan belanja).

Setelah kamu memverifikasi link tersebut, maka kamu akan mendapatkan email “Welcome Partnership” berisi 3 point penting yaitu :

1. Terms & Condition —> perlu dibaca

2. Skema –> perlu dibaca untuk tau kira-kira berapa nominal yang bisa kamu dapatkan lewat program ini

3. Update profile –> PENTING dibuka dan diupdate karena menyangkut kelangsungan pendapatan kamu di program ini. Maksudnya, disini kamu bisa isi no rekening, no KTP, dan sekaligus upload KTP kamu untuk menyelesaikan proses registrasi ini.

Setelah itu, di halaman milikmu pribadi kamu akan mendapatkan ini :

panah

Lihat tanda panah itu? Nah, klik tulisan “advert” itu, maka kamu akan mendapatkan ini :

Screen Shot 2014-09-02 at 3.04.13 PMNah, 2 link itulah yang akan menjadi ‘senjata’ kamu dalam ‘berjualan’. Seperti saya bilang di atas tadi, link itu bisa dimasukin ke blog, di tweet via twitter, disebar di forum, dan lain-lain. Bahkan kamu bisa juga melakukannya secara offline. Artinya, misalnya kamu punya tempat ngumpul, atau warung, atau mau depan kamar kost juga boleh. Caranya? Bikin banner, cantumkan QR Code yang akan mengarahkan pembaca ke link referral kamu,

Sebenernya jumlah uang yang bisa kamu dapatkan sudah dijelaskan di bagian Skema kan ya, tapi secara garis besarnya sini saya kasi tau :

1. Kalau ada orang yang mendaftarkan dirinya ke demo account, kamu akan mendapatkan reward sebesar Rp. 5000/akun. Berlaku tentu saja kalau semua data akun tersebut bisa diverifikasi (email, no telepon valid).

Eh apa sih artinya demo account? Itu lho, kayak akun untuk mencoba trading secara demo. Jadi nanti lewat akun demo itu, kamu bisa seolah olah nyobain trading beneran, karena harga yang berlaku adalah harga yang beneran berlaku di pasaran. Jadi kamu bisa ikutan ngerasain deg-deg annya transaksi di pasar uang. Akun demo ini biasanya dipakai trader untuk ‘berlatih’ membiasakan diri bertransaksi online, juga dalam mengatur emosi dalam trading.

Bila ada 10 orang yang mendaftar demo account dan valid, maka kamu akan mendapatkan reward sebesar Rp. 50.000 per hari. Hal ini bisa berlangsung setiap hari, ingat, tanpa kamu perlu melakukan apa-apa.

2. Kalau ada orang yang kemudian bergabung dengan membuka akun ‘beneran’ alias live account, maka kamu akan mendapatkan reward sebesar $2 per 1 lot transaksi yang settle. Sebagai catatan, trader biasanya bertransaksi kurang lebih 3 lot per hari. Artinya kamu akan mendapatkan $6 per hari, yang bila diakumulasikan selama sebulan menjadi :

22 hari x $6 = $132 = Rp. 1.320.000

ini hanya dari satu nasabah. Bayangkan kalau kamu punya 5 nasabah 🙂

Dan ingatlah bahwa kamu beneran ngga usah ngapa-ngapain, tinggal pasang link referral kamu di media yang kamu punya. Seperti yang saya lakukan di samping kanan blog saya ini.

Trus tinggal duduk kipas kipas deh 🙂

Oya, kalau ada yang mau ditanya, silakan menghubungi :

MONEX ASIA AFRIKA BANDUNG
Wisma Monex Lantai 12
Jl Asia Afrika 133-137
Bandung
Phone / WA : 082129292999
email : corcom.AA@mifx.com
BBM : 74EB77CE