Ngajarin Toleransi : Nonsense.

Setiap memasuki bulan puasa selalu aja ada perdebatan soal harus engganya menutup tempat makan di jam puasa. Bertahun-tahun menu pembicaraannya soal ini melulu. Kayak nggak pernah ada jalan keluar atau kita memang senang memperdebatkan hal-hal beginian.

Taun ini perdebatan ini semakin seru karena adanya berita soal warung di Serang, Banten yang dirazia satpol PP karena berjualan di saat orang-orang puasa. Video satpol PP mengangkut panci wadah si ibu berjualan tersebar di mana-mana, dan tentu saja menarik simpati orang. Beberapa teman di twitter memprakarsai pengumpulan dana yang dalam waktu 36 jam berhasil mencapai nilai 200juta sekian. Luar biasa.

Read More

Resep Tajil Mudah Untuk Di Rumah

Sejak masih kecil dulu, saya penggemar aneka tajil. Dari kolak biji nangka, bubur pacar cina, bubur jail, bubur sumsum, es cingcau, es cendol, gorengan cocok bumbu kacang, sampai kerupuk bajur alias kerupuk mie yang disiran sambal oncom.

Dulu, dekat rumah alm nenek saya ada ibu-ibu yang selalu berjualan tajil di bulan puasa. Tajil bikinannya selalu menarik untuk dibeli. Dipajang di meja depan rumahnya, warnanya warni warni, menggugah selera. Biasanya dia mulai berjualan sekitar pukul empat sore. Saya masih ingat betul cara dia menata jualannya : pelan-pelan seolah tau persis dia nggak akan terlambat dan yang mau beli pasti sabar menunggu. Mejanya selalu terbagi dua. Bagian kiri isinya macam-macam kolak dan es-es, bagian kanan selalu ada gorengan. Gorengannya tak selalu bala-bala kesukaan saya, kadang-kadang ada juga tahu goreng alias gehu, combro, tempe goreng dan pisang. Yang selalu ada sih bumbu kacang khas-nya. Rasanya sedikit pedas, sedikit asam, cocok buat dicocol bala-bala atau gehu.

Karena saya suka jajan tajil, kalau ada kesempatan jalan-jalan di bulan puasa saya juga suka berburu tajil di kota lain. Tahun lalu saya sempat merasakan serunya berburu tajil di Mataram, Lombok. Sistem jualannya tak beda jauh sama ibu yang biasa saya lihat, gelar meja depan rumah, jualan deh.

Yang di Lombok ini bahkan dengan bonus senyum manis penjualnya

11700849_10153481914986639_4748567805807985796_n

Serunya berburu tajil ternyata sama serunya dengan coba-coba bikin sendiri bikin tajil di rumah. Kali ini saya mencoba menggabungkan 3 kesukaan saya dalam satu mangkok tajil : jelly, yoghurt, dan susu kental manis.

Bahannya kayak begini :

1 bungkus agar-agar jelly/konnyaku

100 gram gula pasir

½ botol yoghurt kental

susu kental manis Indomilk secukupnya.

IMG_5151

 

Cara buatnya gampang banget :

1. Buat agar-agar, di bungkus tertera 200 gram gula pasir, tapi saya kurangi jadi 100 gram karena saya sudah manis nanti kan dicampur susu kental manis lagi.

2. Agar-agar dicetak di cetakan kotak-kotak. Atau bulat-bulat juga boleh. Apa aja deh yang ada di rumah

3. Setelah agar-agar dingin dan dimasukkan ke kulkas, taruh di mangkok

IMG_51684. Siram dengan yoghurt kental secukupnya

5. Taburi lagi sedikit gula pasir, aduk

6. Setelah jadi, masukkan susu kental Indomilk sesuai selera

IMG_51737. Sajikan, bisa dengan topping cherry, atau meisjes warna-warni, tambahkan potongan es batu biar dingin

 

 

 

IMG_5297

Gampang kan? Bisa juga dikreasikan, pilih jelly rasa coklat, nanti susu kental manisnya pake Indomilk yang coklat pula. Bisa pake topping meisjes coklat atau potongan coklatnya langsung.

 

Resep ini kemudian saya ikutkan kontes Kreasi Tajil Indomilk di sini . Hadiahnya banyak banget, dari hadiah mingguan sampai hadiah utama. Kesempatan menangnya kan jadi banyak ya?

 

Cara ikutan nya juga gampang kok, masuk ke link ini  lalu pilih menu “Ikuti Kontes”. Nanti akan keluar form isian seperti ini, kamu tinggal isi aja.

Screen Shot 2016-06-13 at 11.50.27 AM

 

Jangan lupa upload foto #KreasiTajilIndomilk – mu sambil submit form di atas ya.

 

Follow juga akun Indomilk untuk update kontes terbaru, atau untuk nunggu pengumuman siapa tau kamu yang menang kan ya?

 

Facebook : https://www.facebook.com/Indomilk/?fref=ts

Twitter : https://twitter.com/Indomilk

Instagram : https://www.instagram.com/indomilk/

 

Bikin tajil pake susu kental manis Indomilk, enaknya bikin nempel!

Kalau 3 Bulan Nggak Ngantor. Trus Ngapain?

Sudah 3 bulan ini saya berhenti kerja kantoran. Iya, setelah 15 tahun lebih jadi pekerja kantoran, akhirnya saya punya keberanian untuk beneran berhenti bekerja. Sebenernya keinginannya sudah ada dari dulu (ah kalau boleh jujur : keinginan ini muncul setiap saya bangun pagi untuk pergi ke kantor, setiap lagi mandi dan setiap hari minggu sore, tepat ketika saya sadar besok harus ngantor lagi setelah bisa santai sejenak selama weekend).

Artinya, keinginan berhenti ngantor memang selalu ada di benak saya.

Read More

No Malls on Weekend. Why?

Sejak kecil dulu, saya memang membiasakan Biyan untuk banyak main di luar rumah. Selain karena rumahnya nggak luas (nggak bisa main sepak bola atau main volley di dalam rumah), juga saya percaya bahwa anak yang lebih banyak main di luar rumah tentunya akan lebih banyak juga pengalamannya ya kan.

Apalagi saya juga menerapkan prinsip “no malls on weekend”. Jadi kami nggak pernah pergi ke mall kalau weekend. Aduh masuknya aja penuh, belom cari parkirnya, belom bayar parkir bisa puluhan ribu, mau makan penuh, toilet penuh argh!

Jadi kalau weekend anaknya dibawa kemana Bu?

Read More

Cari Jodoh (yang serius) Lewat Woo. Kenapa Nggak Dicoba?

Jaman dulu saya suka becandaan sama seorang teman. Mereka yang jomblo di umur yang sebetulnya sudah cukuup untuk menikah itu ada 2 macam ; yang satu jomblo karena nasib, yang kedua jomblo karena pilihan. Di Twitter pun sempat beredar hashtag #JombloRidho dan #JombloTakRidho.

Maksudnya sih bahwa ada orang yang memang memilih untuk stay single, ada pula yang sebetulnya nggak mau single-single terus tapi gimana dong jodohnya kok ya belum ada.

Read More

Mandalay. Tak Cukup Sekali.

Tulisan terakhir dari cerita jalan-jalan ke Myanmar awal tahun lalu. Jadi kota terakhir (sekaligus pertama) yang saya kunjungi adalah Mandalay. Kenapa terakhir sekaligus pertama? Karena waktu pertama dateng saya terbang dari Bangkok ke Mandalay tapi ga pake mampir mana-mana dulu dan langsung naik mini bis ke Bagan. Jadi setelah dari Nyaung Shwe, saya kemudian kembali ke Bagan, nginep semalam sebelum lanjut ke Bangkok lagi.

Ada 2 tujuan utama saya di Mandalay, yaitu Mingun dan U-Bein Bridge. Dengan catatan, kalau masih punya waktu sebelum ke airport saya agak-agak pingin mampir ke monastery, dan ternyata nggak sempat

Dari Nyaung Shwe sekitar jam 20.00, saya tiba di Mandalay Pk. 03.30. Yes setengah empat subuh aja dan kita bertiga lagi enak tidur, untung kebangun pas bis berenti, dan ngecek di Waze, eits hotel yang saya book ternyata udah tinggal 200 meter aja. Bisa jalan kaki dong. Walaupun lumayan aja geret koper jalan subuh-subuh begitu.

Saya milih hotel Tiger One, kelihatannya dari lokasi lumayan ok karena dekat pasar, banyak makanan, dan cari money changer juga nggak susah. Mandalay ini semacam kota yang lebih ramai dibanding Bagan dan Nyaung Shwe. Di hotel disediakan sepeda yang bisa kamu pake untuk keliling-keliling dengan gratis.

Pas saya sampe hotel, beberapa karyawannya terbangun sampe rasanya ga enak karena bangunin. Front office officernya minta maaf sama saya karena tidak ada kamar kosong yang bisa dia berikan sama saya pagi itu.

And I was like :

WHAT??

Read More

Kedinginan Sekaligus Kesenengan di Nyaung Shwe

Dari Bagan saya meneruskan jalan-jalan ini ke Nyaung Shwe, ditempuh bis kira-kira 9-10 jam-an. Seperti udah cerita di sini, tiket bisnya saya pesen di hotel dengan harga 10.000 kyats per orang. Atau 100.000 rupiah.

Bisnya lumayan oke, sampe di tengah jalan ternyata banyak orang naik dan di antara baris kiri dan kanan ada kursi lipat yang fungsinya untuk kursi tambahan. Ok jadi mulai kurang nyaman nih, ketambahan lagi karena toiletnya ga berfungsi. PR juga kalau pengen pipis malem-malem.

Sempet ada tragedi dugaan salah naik bis juga, pasalnya di tengah jalan sekitar Pk. 01.00 (kita jalan mulai Pk. 20.00), saya nanya ke kenek bis

“Nyaung Shwe masih jauh ga sih?”

Si kenek kemudian jawab :

“Nyaung Shwe?? No no no no!!, this is Kelok, Nyaung Shwe No no no!”

Mulai panik karena khawatir salah naik bis kan ya, mana sempet masukin 2 koper ke bis, kebayang aja kita udah salah bis kemudian terpisah sama 2 koper kan repot banget urusannya.

Read More

Bagan dan Warna Terakota-nya yang Bikin Cantik

Myanmar adalah tujuan saya untuk liburan mengawali tahun 2016 kemarin. Sebetulnya jauh-jauh hari kami sudah punya rencana lain. Tapi ada 2 orang teman baik yang baru saja pulang dari Myanmar dan sharing betapa cantiknya negara ini. Maka saya punkemudian berbalik arah. Di waktu yang singkat cari tiket, cari hotel, cari-cari apa yang mesti disiapkan dalam waktu kurang dari seminggu rasanya.

Kemudian saya mendapati tidak ada penerbangan dari Jakarta ke Mandalay. Yang ada hanya ke Yangon dan Yangon tidak ada di list tempat yang mau saya kunjungi di Myanmar. Maka ‘dengan sangat terpaksa’ plus latar belakang ‘asik bisa mampir makan enak dulu’, saya pun memutuskan untuk terbang ke Mandalay dari Bangkok. Yes, ada waktu satu malam sebelum dan sesudah Myanmar di Bangkok. Lumayan, bisa blinji-blinji dan makan enak. Penting ini.

Pesawat saya mendarat di Mandalay Pk. 12.30.

FullSizeRender-1 Read More

You Don’t Teach Kids How to Love, You Show Them

Ada banyak draft tulisan di blog ini yang pada akhirnya tidak pernah saya posting. Yang paling banyak adalah soal Biyan, anak saya satu-satunya. Ada yang karena saya merasa informasinya terlalu gamblang, kan katanya di jaman internet edan ini kita harus hati-hati memberikan informasi atau bercerita soal anak kita kan ya. Tapi yang terutama adalah karena saya khawatir dibilang sombong karena anak saya yang satu-satunya itu, se nggak beres apapun ibunya, adalah anak yang memang bisa banget dibangga-banggain kesana kemari.

Read More