Tag Archives: Motherhood

Starter Kit Anti Kecewa Buat Anak 9 Tahun

Yang saya mau tulis sekarang ternyata pernah saya tulis kurang lebih satu setengah tahun yang lalu. Artinya, dalam kurun waktu satu tahun setengah saya ternyata belum punya solusi ampuh untuk mengatasi kekecewaan pada anak.

Kalau bisa – kalau bisa nih – rasanya ingin membekali Biyan, anak saya satu-satunya itu dengan sebuah gelembung besar di sekelilingnya di mana dia aman dari segala macam kekecewaan, dari orang-orang yang tidak baik, dari perkataan-perkataan buruk yang mungkin didengarnya suatu hari nanti. Tapi kan nggak mungkin ya, satu waktu nanti dia akan keluar dari pelukan aman saya dan menghadapi begitu banyak masalah, menghadapi banyak macam orang yang tentu saja nggak semuanya baik.

fullsizerender

difotoin Teppy

Continue reading

2 Comments

Filed under Cinta, Family, Saya, Saya, dan Saya

Tenang, Stok Air Mata Masih Banyak

Jadi ibu itu stok air matanya harus banyak deh. Sejak pertama kali tau hamil, liat di layar USG dokter kandungan aja udah mau mewek. Waktu anaknya lahir dan peluk dia pertama kali, nangis juga. Waktu anaknya bisa tengkurap, bisa berguling di ranjang, bisa berdiri, bisa jalan, panggil “mama” untuk pertama kali, waktu bisa ngomong, semua melibatkan air mata. Happy tears sih. Yang ngga happy tears ya waktu anak sakit. Atau waktu berantem sama pasangan gara-gara anak.

Dan air mata itu ga berenti keluar sampe anaknya gedean dikit. Waktu hari pertama pergi sekolah, bahkan waktu pertama dia pergi outing sama temen-temen sekolahnya tanpa saya. Padahal cuma ke Kebun Binatang doang sih, ga jauh-jauh juga :P. Belakangan ini, Biyan baru bisa berenang setelah les cuma sekitar 3-4 kali, eh mamanya mewek juga. Trus ketambahan tau-tau bisa baca, bisa nulis, dan bisa gambar. Hiyaaa! langsung air mata galore. (ga sampe galore sih lah, ah).

Ih postingannya Rabid Bunda banget sih. #biarin

Seminggu belakangan ini Biyan lagi seneng ngegambar. Padahal di buku komunikasi antara sekolah sama orang tuanya dulu pernah ditulis dia menggambarnya kurang bagus dan nggak bisa nyampein apa yang mau dia sampein lewat gambar (pendek kata, gambarnya ga berbentuk, haha). Eh belakangan kemajuannya kok pesat bangeeet. Sebagai ibu-ibu yang nggak pernah bisa ngajarin menggambar di rumah, saya takjub sih. Tapi bapaknya kan doyan menggambar dan gambarannya selalu bagus, jadi ya tugas ngajarin ngegambar ya tugas bapaknya. Sabtu kemarin diajak pergi seharian juga dia asyik aja ngegambar. Biasanya kan mainan tablet ya. Sekarang lumayan lah ada kegiatan lain, bahkan di mobil pun sempetin ngegambar. Oh dan sama bapaknya dibeliin sketch book gitu, jadi ga belatakan dimana-mana gambarannya, seneng banget dia.

IMG01113-20130316-1505

 

(difotoin Tante Siska)

Hasil gambarannya belom bisa dibilang masterpiece sih ya, tapi lumayan lah, bikin mamanya ketawa-ketawa. Dan dia selalu punya cerita di balik gambarannya. Satu hari dia gambar 2 jenis makanan ; makanan sehat dan makanan tidak sehat. Yang ada di daftar makanan sehat versi Biyan : Tempe, Brokoli, Jagung, Wortel dan Telur. Yang di makanan tidak sehat : Permen, Ice Cream, dan Cengek. Mamanya sebagai penggemar Cengek tentu saja protes, “Cengek kan sehat, Biyan”. “Jawabnya pendek aja, “No, Mama, bikin mules”. Oya gambarannya itu semua ada kaki dan tangan. Kebayang kan Tempe sama Brokoli ada kaki dan tangannya.

photo-5What he’s been doing during weekend 

Satu yang baru saya belajar setelah jadi Ibu, nggak pernah bilang gambarannya jelek atau ga jelas. Walaupun emang kadang cuma urek urek gitu ga jelas bentuk apa sih. Tapi dia selalu punya cerita di balik gambarannya, dan selalu cerita dungeon semangat soal gambarnya sendiri. Saya biasanya cuma manggut-manggut sok ngerti.

Oya, selain baru bisa gambar, Biyan juga baru bisa baca. Pergi sama dia jadi tambah seru belakangan ini. Trus kebetulan kan di sekolahnya lagi ada program sumbangan coin untuk anak-anak ga mampu. Disarankan orang tua kasih koin untuk anak-anaknya tapi nggak kasih begitu aja, lebih ke reward. Jadi saya janjian sama Biyan, setiap dia bisa baca sesuatu di jalan, saya kasih satu koin buat dia. Berhubung udah lumayan pinter ya bacanya, jadi koinnya udah banyak aja gitu. Trus mulai iseng dia, “ini uangnya ga usah disumbangin tapi aku pake beli apa aja gitu, gimana Ma, boleh?”

Yeeeeee! 😛

8 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya