Rumah Belajar Semi Palar

Ini kenapa jadi kebiasaan bangun pagi dan nagih posting blog ya. Bagus deh ya. Besok pagi kalau bangun sepagi ini lagi kita coba lari pagi. Apa aja asal lebih produktif dari kemarin kemarin. Resolusi? Boleh sebut saja begitu. Kalau nanti tengah jalan berhenti mohon jangan disebut resolusi gagal. Sebut saja haluan berubah. Okay?

Ada yang memang mau diposting sejak kemarin-kemarin sebetulnya. Tapi biasalah ibu menteri kan sibuknya segunung *sasakan*.

Mau cerita soal sekolah Biyan. Jadi per Juli 2011 kemarin kan Biyan sudah mulai sekolah (jadi tulisan ini tertunda selama….hmm…. 6 bulan – keterlaluan).

Biyan sekolah di satu sekolah yang namanya Rumah Belajar Semi Palar. Setiap ada yang tanya sekolah dimana dan saya jawab, reaksi yang biasanya saya dapatkan adalah kerutan kening, lalu pertanyaan standar, dimana itu, sekolah apa, dan lain-lain. Maklum, sekolahnya bukan sekolah “tenar” yang semua orang pasti tau, dan bukan pula sekolah “favorit” yang rata-rata ibu-ibu pengen menyekolahkan anaknya disana.

Terus kenapa saya pilih sekolah ini?

Karena begini, selama saya kecil sampai saya usia SMA, saya bersekolah di sekolah yang homogen. Jelasnya, saya sekolah di sekolah kristen yang (hampir) semuanya dari kalangan chinese. Merasa nyaman? Jelas, karena saya kan chinese, jadi merasa berada dalam lingkungan sendiri. Ketika saya masuk kuliah, sebetulnya tempat kuliah saya masih dari lingkungan serupa. Namun di tahun-tahun terakhir kuliah saya mulai banyak bergaul dengan teman-teman yang berasal dari lingkungan adat, suku, dan agama yang berbeda. Ini ternyata menyenangkan, dan saya rasanya lebih bisa menerima banyaknya perbedaan yang ada di sekitar saya.

Maka saya menginginkan hal yang berbeda untuk Biyan. Saya ingin, sejak kecil dia merasakan dan mengalami bahwa ada banyak perbedaan di luar dengan dirinya sendiri, dan itu tidak aneh, apalagi salah. Rumah Belajar Semi Palar tidak berdasarkan suatu agama, karenanya murid-murid yang bersekolah disitu pun berasal dari banyak kalangan agama dan suku. Untuk saya, inilah cara mengajar toleransi paling efektif buat anak-anak, masukkan mereka ke dalam lingkungan yang heterogen. Bagaimana bisa mengajar anak-anak untuk bertoleransi kalau kiri-kanan-depan-belakang semua beragama sama, berlatar belakang sama, dan beradat sama? Seperti yang saya rasakan dulu jadinya, cuma teori. Syukur-syukur ada yang berhasil mengerti dan menjalankannya dalam kehidupan, sisanya (sorry to say), cuma teori.

Sejak pertama kali datang untuk open house dan mendengar penjelasan ini itu soal Rumah Belajar Semi Palar, saya jatuh cinta. Saya bahkan tidak mencari perbandingan sekolah lain (khas saya kalau sudah senang akan sesuatu). Sekolah ini menamakan dirinya Rumah Belajar karena mereka memang menciptakan suasana itu untuk anak-anak. Sampai sekarang. kalau ditanya “Biyan belajar apa di sekolah?”, biasanya dia diam saja, lain halnya kalau ditanya “Biyan main apa di sekolah?”, maka ceritanya akan mengalir soal apa saja yang dikerjakannya hari itu.

Rumah Belajar Semi Palar menyediakan suasana yang santai sehingga anak-anak merasa betah dan ga merasa wajib pergi ke sekolah. Biyan pergi ke sekolah mengenakan sendal jepit kesukaannya, sampai sekolah dibuka dan dia  lari kesana kemari tanpa menggunakan alas kaki, semua anak-anak begitu. Ini memang bukan hal pokok, tapi salah satu cara menciptakan suasana santai, anak-anak juga merasa lebih nyaman dan ga merasa terkungkung.

Hal lain yang saya suka dari Rumah Belajar Semi Palar adalah komitmen mereka untuk melibatkan kita sebagai orang tua untuk ikut serta dalam proses pembelanjaran anak-anak. Saya sebagai orang tua yang bekerja memang kadang-kadang repot membagi waktu antara pekerjaan dan urusan sekolah ini. Tapi kalau mau kan pasti bisa, maka saya (hampir) selalu hadir di acara-acara yang diadakan disana.

Tidak ada yang lebih penting selain anak kita yang betah selama kita ‘menitipkan’ mereka di sekolah, walau ‘baru’ 2 jam sehari. Di Rumah Belajar Semi Palar, saya mendapatkan ini. Biyan betah, saya pun tenang 🙂

1st day at school

1st day at school

dia malah tidur :))

for a month or so, Biyan thought this Mischa girl is the prettiest girl in school

Kalau pengen tau lebih banyak soal Rumah Belajar Semi Palar, siapa tau mau ikutan sekolahin anaknya disitu, coba cek blognya. Ada banyak cerita anak-anak yang bikin gemes 🙂

 

 

A Pleasant Journey

Aaaah blog apa ini kok banyakan dianggurin daripada diurusinnya 🙂 Belakangan berbagi kepala dan hati dengan www.surgamakan.com. Proyek pribadi yang urusannya ga jauh-jauh dari makanan, kesukaan saya 🙂

Jadi kemarin pemilik blog berdebu ini berulang taun. 33 sekarang umurnya. Kira-kira sebulan sebelumnya saya udah menyebut-nyebut angka 33 ini sering-sering dalam hati. Mungkin hanya perasaan saja kok 33 ini bedanya serasa jauh dari 32 ya. Padahal bedanya tentu hanya 1 tahun, ya seperti waktu beranjak dari 31 ke 32 dulu.

Mungkin berasa sedikit  lebih tua karena dalam 1 tahun ini banyak sekali hal yang dialami, ya walau taun-taun sebelumnya juga sih. Yang jelas ada beberapa hal besar yang terjadi taun ini, misalnya Biyan sudah mulai sekolah. Saya sebagai orang tua merasa naik ‘kelas’. Anaknya udah sekolah lagi aja, hooray! Walau nggak bisa setiap hari anter jemput anak sekolah, saya menikmati setiap cuilan cerita Biyan di sekolahnya. Dan baru sekolah sebentar aja nambah pinternya udah banyak. Saya bangga 🙂

Yang kedua di perihal rohani. Bukannya baru, tapi banyak hal mengenai iman dan kepercayaan yang berseliweran menari-nari di kepala saya. Tak ingin banyak cerita, tapi katakanlah I have a very colorful life about this thing.

Ketiga, Friends. Teman. Family by choice. World without strangers is definitely  the world I dont wanna live in. Karena these strangers have became my friends. Some of them are always there to talk to, some of them even provide their shoulders for me to cry on. And some of them have became my family, by choice. You know who you are. Berbagi cerita, senyum, tawa, air mata, dan rahasia. Tak pernah mengira ini semua akan menghangatkan hati sampai sebegini.

Tidak pernah ada hidup yang sempurna, saya percaya itu. Pun hidup saya sendiri. Ada kurang disana-sini. Ada salah dimana-mana. Tak terhitung banyaknya salah langkah, salah ucap dan salah pikir. Di sisi lain, tak terhitung juga kasih sayang, berkat dan karunia yang dilimpahkan buat saya. Walau tidak persis 50-50 antara susah dan senangnya, namun semua saya anggap seimbang. Senang terus nggak bakal bikin kita tambah pinter dalam hidup ini. Dan susah terus kan cuma bikin sengsara, bukan ?

My life, is a 33 years of a pleasant journey.

Hari Ini, Satu Tahun Lalu

Hari ini satu tahun yang lalu, Papa pergi menyerah pada penyakitnya. Melepaskan semua sakit dan derita yang sudah bersamanya selama berbulan-bulan.

Berhari-hari lalu saya teringat beberapa hal yang pernah beliau bilang sama saya. Yang, tentu saja, saat itu tidak saya dengar. Hari ini saya baru mengerti semua maksudnya. Saya menyesal, tentu.

Hidupnya sudah selesai, penderitaannya sudah usai. Bagian saya, memperbaiki semua kesalahan yang sudah diprediksinya dari semula. Semoga bisa, pasti bisa.

Melangkah Lebih Banyak

Pernahkah berpikir bahwa selama ini kita kurang jalan kaki? Saya baru aja kepikir. Soalnya sudah bertahun tahun (rasanya sejak lulus kuliah), saya udah jarang banget jalan kaki. Boleh dibilang, jalan kaki is the LAST thing I wanna do. Oke, kecuali jalan-jalan di mall ya. Apalagi sambil dibarengi belanja-belanja lucu. Mau jalan dari ujung ke ujung juga ga masalah.

Tapi yang namanya jalan minus belanja, minus liat-liat, apalagi jalan kaki di bawah terik matahari, mak makasih banget deh, ogah. Setiap hari inilah yang terjadi : jalan dari rumah ke garasi, masuk mobil, menuju kantor, sampe kantor turun dari mobil, jalan kaki yang paling 20 langkah, terus udah deh duduk selama 8 jam ke depan. Paling banter jalan ke toilet atau nemuin tamu. Makan siang jauh dikit, males. Ya itu dia, males jalannya. Kalau bisa tiap hari tuh cuma tinggal angkat telepon aja trus makanan dianterin ke meja.

Eh tapiiii ini serem nih… denger denger soal osteoporosis. Jadi katanya, kalaupun kita tidak pernah ngerasain sakit atau ngilu-ngilu di tulang, bukan berarti kita pasti bebas osteoporosis. Pasalnya, osteoporosis ini katanya termasuk “silent disease”, alias penyakit yang diem-diem, tanpa banyak gejala. Kecuali tau-tau kita mengalami patah tulang, ga bakal ke-detect bahwa kita terkena osteoporosis. Hiy! amit-amit kalo sampe patah tulang segala.

Dan selama ini saya sih suka nganggepnya osteoporosis itu porsinya manula, bagiannya orang tua. yang muda-muda kayak kita ini, manalah akan dihampiri osteoporosis. Tapi ternyata, justru kaum muda (terutama perempuan) yang harus ekstra hati-hati terhadap pengeroposan tulang ini. Dan di umur saya yang sekarang, ternyata katanya adalah saat saat terjadinya perkembangan massa tulang. Ih kok serem dengernya. Semoga ga telat ya kalau saya mau mulai memperbanyak kegiatan jalan kaki dari sekarang.

Nah selain jalan kaki, mencegah osteoporosis juga bisa dilakukan dengan olah raga teratur. Meskipun ga berat, tapi olah raga teratur kan membantu menghindari terjadinya fraktur atau patah tulang. Perhatikan juga asupan gizi agar selalu seimbang, supaya tubuh tidak mengambil kebutuhan kalsium dari tulang, tapi dari makanan yang kita makan. Minum susu sangat penting, terutama susu kalsium tinggi. Saya sih udah secara rutin minum Anlene. Selain kadar kalsiumnya tinggi, Anlene itu low fat sehingga ga berbenturan dengan niatan saya berdiet kan. Kebayang kalo badan langsing trus tulang sehat, dunia tentu terasa lebih ramah :).

Jadi, love your bones, love yourself, yuk jadi lebih sehat dengan jalan kaki sedikit lebih banyak, olah raga teratur dan cukupi kebutuhan kalsiummu.

kamu berdomisili di Surabaya, Bali, Balikpapan dan Makassar, kamu bisa ikutan #IndonesiaMelangkah yang sudah dimulai oleh Anlene sejak tahun 2007. Ini adalah gerakan jalan 10ribu langkah secara massal, pasti seru sekalian sebagai awal untuk kita supaya jalan kaki lebih banyak mulai sekarang.

Dan kalau kamu merasa perlu konsultasi soal kesehatan tulang, atau mau cari informasi soal osteoporosis, mampir ke www.tulangsendisehat.com aja, disana lengkap informasinya.

Selamat Idul Fitri !

Suatu sore di tengah-tengah bulan puasa, saya ngobrol sama seorang temen.

Temen : Udah mau lebaran nih ya

Saya : Iya ga kerasa ya

Temen : Harus banyak persiapan takut apa-apa susah menjelang lebaran

Saya : IYA ! gw mau stock sosis, baso tahu, nugget, kerupuk2an, indomie, baso, apa lagi ya….

Temen : Bok, maksud gw siapin bensin, kerjaan diberesin, gunting rambut dll gitu. Isi kepala elu memang makanan semua ya

Saya : Iya. *tertunduk lemas*

—————————————————————————————

Oh, saya dan temen2 admin @soalbowbow mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, semoga liburannya menyenangkan, semoga makanannya enak enak di hari Lebaran nanti (tetep)

Tag Aku, Kau Ku-Report As Spam

Seperti yang kamu, kamu dan kamu mungkin tau, saya kan sekarang ceritanya jualan online. Pertamanya sih jualan boneka Angry Birds kan ya, dan cukup booming. Sampe sekarang  banyak dapet temen baru juga karena banyak yang belinya cukup nagih, beli 1, barang sampe, beli lagi 2, barang sampe, beli lagi banyak. Alhamdulilah

Paling seneng kalo yang alamat kirimnya ke kantor. Nah kantoran kan banyak orangnya tuh ya, jadi kalo kirim ke kantor, yang udah udah temennya ikutan beli, begitu terus sampe sekantor lengkap boneka Angry Birds nya. Pelanggan senang, saya pun tentunya.

Dari sekedar boneka Angry Birds, jualan kemudian bertambah jadi pernak pernik Angry Birds yang lain, gantungan kunci, tas, dan barang-barang lain. Sampe sama @MarinaTjokro di Twitter saya dipanggil Mami Burung. Oh well.

Lalu kegiatan berjualan pun bertambah lagi, saya jualan MP3 Player juga sekarang. Singkat kata, acara jualan yang tadinya cuma iseng-iseng lucu akhirnya jadi serius karena ternyata lumayan hasilnya. Dan berhubung jualannya on line, ga terlalu menyita waktu, dan juga cocok buat saya yang suka ga enakan sama yang beli. Dulu-dulu kalo jualan terus ditawar, saya suka pasrah ga enak nolak. Kalo sekarang sih, kan ngobrolnya online, jadi tinggal bilang, “maaf harganya pas” terus kasih deh emoticon senyum supaya kesennya jauh dari judes.

Nah mau cerita dulu, sebelumnya saya tuh paling bete kalo belanja online terus dipanggil “Sis, sis”. Kagok gitu dengernya. Nggak kenal aja kok panggil begitu. Tapi sekarang berhubung saya yang jualan, dipanggil “Sis” ya pasrah aja. Temen saya pernah tanya “berasa digaplok ga biasa benci sekarang dipanggil SIS?”. Saya jawab, “iya berasa, tapi berasa digaplok duit sih jadi gapapa”. Hehehe…

Berhubung jualannya mulai di twitter, saya lebih aktif jualan di twitter. Tapi lama-lama, seiring dengan barang yang terus bertambah juga, saya akhirnya memutuskan bikin blog. Bukan apa-apa, yang mau beli kan suka pengen liat gambar-gambar barang yang banyak itu, nah kalo saya posting semua di twitter, bisa banjir deh  TL saya, ga enak juga kan. Jadi 2-3 gambar saya posting di twitter, sambil menyertakan alamat blog saya dengan harapan pada mampir (dan beli, ehem).

Nah terusnya, ternyata banyak juga orang yang lebih akrab buka Facebook ketimbang buka blog. Maka saya pun buka toko online di Facebook. Terus muncullah dilemma. Banyak toko online yang lumayan sukses berjualan di Facebook kan. Dan ternyata salah satu modalnya adalah nge-tag orang.

Duh.

Saya pribadi sering sebel kao di-tag online shop di Facebook. Terutama di tag barang yang jelas-jelas engga, misalnya iPhone dengan harga Rp. 1.500.000 (langsung block onlineshop nya). Tapi kan ada beberapa temen yang punya online shop di Facebook (dan saya memang suka beli produknya). Kalo sampe di-tag temen, biasanya saya remove tag aja diem-diem, tanpa pake ngomel. Gimana ya, namanya sama temen kan pamali benci. Nah kalo giliran di-tag online shop yang entah siapa yang punya (ketambahan saya ga minat beli pula), biasanya langsung saya remove tag nya, trus unfriend deh.

Gengges Cin, sumpeh deh.

Oya, waktu mulai jualan di Facebook, saya khusus membuat satu akun baru. Memang sih rempong berat  nge-add teman-teman baru, butuh waktu dan suka di’hukum’ sama Facebooknya gara-gara kebanyakan nge-add orang, belum lagi kalo diantara yang di-add itu ada yang me-report saya as spam.

Nah, pas akun sudah jadi dan saya mulai add sana sini, saya akhirnya sampai di sebuah lingkungan baru. Lingkungan online shop di Facebook yang, oh-my-god, seperti sebuah rimba yang menyeramkan. Semua orang berjualan disitu, semua orang saling nge-tag satu sama lain, dan banyak diantara pemilik online shop yang bahkan ga berusaha bikin tampilan foto yang bagus, gambar buram di-tag ke muka orang. Oh gawd.

Saya kemudian tersadar, saya ga bakal survive di dunia ini, jualan di Facebook maksudnya. Saya tau nge-tag orang sembarangan itu ga etis dan saya ga mau ikut-ikutan cuma supaya dagangan saya laku.

Jadi begitulah, ‘karir’ saya yang sedemikian singkat berjualan di Facebook pun kandas tuntas tak berbekas. Akun berjualan masih saya pakai, cuma sekedar untuk memuat album dari foto-foto barang dagangan, dengan harapan bisa memudahkan calon pembeli yang mau liat foto lengkap.

Buat yang jualan di Facebook, jangan repot-repot merasa tersinggung ya, kalo saya ga suka, saya tinggal unfriend. Kalo saya remove tag doang, boleh dong ya :). Dan belum tentu sih semua orang sama rewelnya kayak saya, soalnya saya juga pernah ngalamin diminta orang “tag ke saya ya Sis”, laaah ada yang doyan di-tag malahan :).

Jadi ke Twitter-lah saya kembali. Alhamdulilah banyak banget temen-temen yang suka bantuin RT barang dagangan, akhirnya banyak yang suka liat dan beli dagangan saya, di luar follower saya sendiri.

Pun di Twitter, saya biasanya hanya ‘melempar’ foto, lalu mengarahkan peminat ke blog untuk mellihat spesifikasi barang dan foto-foto barang lainnya. Tapi saya nggak pernah mention orang terus ‘nyodorin’ barang dagangan ya. Saya pribadi pun pernah merasa terganggu dengan mention dari orang ga dikenal trus nyelonong “mau dapet pulsa gratis? follow akun ‘@XYZ'”. Uh oh, ga sopan, mas, mbak, terutama kalo kita ga kenal.

Iyah, begitulah, pengalaman baru di dunia jualan online. Banyak serunya, banyak juga salahnya, semoga banyak duitnya :D.

Eh sekalian promosi ah, boleh dong. Blog jualan saya bisa dikunjungi di www.tumitama.com dan kalo mau add di Facebook boleh juga, tinggal di-search aja, namanya Tumi Tama, atau klik ini aja.

Terus, kenapa sih namanya Tumi Tama ? Nanti kapan-kapan saya cerita ya :).

8 Windy Days (Part II)

Melanjutkan kisah kemaren ya, sampe Hongkong kita kan? Iya.. kita nginep di area Causeway Bay, daerah pertokoan dan nongkrong2 gitu. Disitu ada beberapa apartment yang disewain, banyaknya ke orang Indonesia yang melancong (alah, melancong!) seperti kita, karena yan punyanya juga orang Indonesia yang tinggal disana. Harganya lumayan murah, itungannya kira2 125 HKD per orang per malam, ya sekitaran Rp. 125.000 gitu. Cukup murah untuk itungan di Hongkong. Memang bukan setelan hotel ya, tapi it was ok. Setelah makan siang dan jalan-jalan lucu sekitaran situ, sorenya kita jalan ke Victoria Peak, tempat dimana ada Madame Tussaud. Namanya juga peak, kita jalannya nanjak bener mana angin udah mulai ga bersahabat. Nah untuk sampe ke Madame Tussaud nya, kita naik tram yang beneran nanjak aja, tapi view nya beneran cantik, bagus banget! Sampe di Madame Tussaud, standar sih, foto-foto sana sini dengan pose-pose norak yang tidak akan saya pasang disini, haha! Malu-maluin abis. Besoknya kita ke Disneylang, yaiiy! Rasanya ini tempat yang kita tunggu-tunggu deh, sembari sedih juga karena ke Disneyland kok nggak ajak Biyan. Menuju Disneyland Resort pake MTR, sekitar 4o HKD rasanya. Yang lucu, MTR yang arah ke Disneyland itu jendelanya udah bentuk kepala Mickey Mouse, pegangan tangannya juga, pokoknya masih d MTR aja suasananya udah Disneyland banget.

The Magic Land !

Disneyland nya sendiri, is true a magic land lah ya. Bagus banget semua-muanya. Dan total banget! Kalau ada live show, penyanyinya baguuuus banget nyanyinya. Penari-penarinya juga. Sempet liat Mickey’s Golden Show sama High School Musical gitu, sama beberapa show yang semuanya bagus-bagus. Yang bikin gengges cuma satu sih, Mickeynya ngomong mandarin, hehe.. jadi kurang sreg aja. Abis gimana ya, namanya juga di Hongkong dan disana kemarin itu banyak turis dari China kan. Dan toko souvenir nya dong yaa…. hihhhh bikin panik. Barangnya bagus-bagus, dan ga semua mahal, masih banyak yang terjangkaulah sama kita. Kita disana sampe malem, karena pengen liat fire works nya. Jadi inget waktu malam Imlek kemarin liat kembang api di sekitaran Glodok aja bagus banget, apalagi ini di Disneyland. Mana diiringi lagu “A Whole New World”, bener-bener breathtaking. Hari selanjutnya kita pergi ke Ocean Park. Namanya ga terlalu terkenal ya di kita, tapi ternyata tempatnya baguuusss banget.

Ocean Park

Nah jadi si Ocean Park ini terletak di 2 pula berbeda, jadi abis main di pulau satu, nyebrang pake cable car ke pulau kedua, lumayan jauh juga, lebih jauh dari nyebrang ke Sentosa Island di Singapore, jauh pula bedanya. Jadi bener-bener ngelewatin lembah menyeberang pulau gitu. Saya pun nggak bisa menahan diri mulai nyanyi “mendaki  gunung lewati lembaaahhh….”, dan lagu itu akhirnya jadi theme song seharian.  Cable car nya menyenangkan banget, naik itu aja hati senaaaaang banget (gampang seneng).

Di Ocean Park juga ada penangkaran Panda, ada 2 ekor disana, namanya Jia-Jia sama siapa gitu lupa. Lagi pada tidur-tidura aja pandanya, yang satu mana lagi posisi ngengkes, bikin pengen ketawa aja.

Oh well, besoknya saya ngangkut koper lagi (sudah beranak satu ransel), pindah ke daerah Mongkok dimana ada Ladies Market (baca: belanjaaaaa!) Yang namanya Ladies Market itu kayak pasar aja sih, pake tenda-tenda gitu, tapi barangnya bagus-bagus. Kalo di Bandung ya kelas barang jualan di Factory Outlet. Dan kalo hobby belanja online ala PO (seperti saya) , maka disana pasti senang karena displaynya ada semua. Dan dengan harga yang tentu saja lebih murah. Cuma ya harus berani nawar sih ya. Dan sekali nawar biasanya mereka ngotot sampe jadi beli.

Besoknya kita bertolak (alah bertolak) ke Shenzen. Pake MTR lagi ! Cuma 30 menitan aja melewati kira-kira 13 stasiun. Setengah perjalanan dilewati dengan berdiri, seperempatnya lagi tidur dan sisa seperempatnya lagi dipakai terheran-heran ngeliat dandanan orang disana. Asli ga ada yang bagus, hehehehe… *mulaijahat*

Hari pertama di Shenzen, kita pergi ke Window of The World. Tempat dimana dibuat miniatur2 dari yang khas dari negara-negara gitu. Jadi disana ada kincir angin, trus taman khas Jepang juga, ada miniatur Borobudur juga, hampir semua ada dan hampir semua menyerupai aslinya. Replika Menara Eiffel aja kelihatannya dibuat dengan ukuran aslinya dan kita bisa naik keatas, pake lift gitu.

Selain foto-foto, hampir nggak ada lagi yang bisa dilakukan disini, ada theater 4D tapi garing banget sampe saya ketiduran :).

Tapi sesi foto berlangsung panjang dan menyenangkan 🙂

Window of The World

Window of The World (juga)

Wah ceritanya masih banyak dan kepingin cerita agak detil juga. Berlanjut lagi ke Part III gapapa ya ?

8 Windy Days (Part I)

Jadi ya, sejak saya kecil dulu saya selalu terkagum-kagum sama orang-orang gede yang suka jalan-jalan ke luar negeri tapi dibayarin kantornya. Apalagi mereka yang dibayarin sekolah tinggi-tinggi di luar negeri dan dibayarin kantornya. Bukan cuma perihal untung banget jalan-jalan kok bisa gratis, tapi lebih ke berarti dia kepake banget ya di kantornya, atau berarti bossnya seneng banget kali ya sama kerjaan dia.

Nah nah, selama 3 taun kerja di kantor ini, saya udah dua kali diajak jalan-jalan. Yang pertama deket-deket aja, ke Singapore sama Malaysia pas Agustus taun lalu. Nah baru baru ini kita diajak mengunjungi Macau, Hongkong dan China (Shenzen tepatnya). Kebayang dong girangnya saya kayak apa?

Maka hari minggu itu, 13 Maret kita ber9 ketemuan di BSM untuk naik Prima Jasa, yang membawa kita ke Bandara Soetta, trus terbang ke Singapore jam 5 sore, dan nyampe sana jam 7an gitu. Dari sana kita lanjut ke Macau, pake flight jam 10 malem dan nyampe Macau jam 2 dini hari aja.

Nyampe Macau, keluar airport, jangan bayangin kita mewah-mewah naik taxi ya, kita naik bis aja gitu, dengan bawaan koper berat dan udara yang super duper dingin. Emang sih sebelum pergi dari sini udah diingetin bahwa disana bakal dingin banget, berkisar 10-15 derajat, dengan angin yang membahana banget.

Kita check in di hotel, terus jalan-jalan nyusurin jalan di Macau yang sepiii banget (yaiyalah jam 3 dini hari gitu). Sempet masuk satu casino dan terbengong-bengong dengan pemandangan disana, secara encim encim udah tua lagi ngejogrog gitu depan mesin di ujung casino.

Karena jam segitu belum makan, maka kita usaha bener nyari makan. Disana kita nggak nemu makanan di pinggir-pinggir jalan yang kalo di Singapore enak banget itu, jadi masuk ke satu kedai makan chinese food dan mendapati seorang lelaki lagi duduk makan semangkok besar bubur yang tampaknya nyameh banget. Ga mau kalah, kita pesan juga dong.

Bubur Kepiting

Itu bubur kepitingnya serius enak bangettt…. Panas banget, jadi anyir-anyir Kepitingnya ilang sama sekali, tapi manis-manis dagingnya tetep kerasa.

Menu lain yang kita pesen, Sapi dan Angsa !

ini Sapinya

ini Angsanya

eh cerita makanannya udahan ah ya, nanti kita cerita di surgamakan aja ya…

Sekarang cerita jalan-jalan aja. Besok paginya kita ke St. Paul’s Ruins alias reruntuhan Gereja St. Paul. Jadi gerejanya emang udah nggak ada, tinggal reruntuhannya yang ‘dipelihara’ dan dijadikan objek wisata. St Paul’s Ruins adanya di Senado Square, pusat perbelanjaan gitu, dan pas disana kita ngeh kenapa darimana PVJ mendapat ide bikin tempat seperti itu 🙂

Senado Square - Macau

Di Senado Square itu banyak banget tempat belanja, dari toko fashion, sampe tempat beli souvenir-souvenir gitu, tempatnya khas turis pokoknya. Harganya lumayan mahal sih, kan namanya juga tempat turis.

Di Senado Square, saya nemu Egg Taart. Katanya ini khas Macau. Enak sih, tapi berhubung saya nggak suka kue2 manis, ya satu aja cukup. Harganya 5 MOP, sekitar 5 ribuan deh.

Venetian Mall

Pulang dari Senado Square, kita ke Venetian Mall, mall paling besar se-Macau, ada Hotel dan Casino nya pula. Mall ini sempet bikin kita tercengang-cengang saking mewahnya. Di bagian luar mall, ada danau-danauan yang cakep banget, otomatis langsung pengen difoto pokoknya.

Di bagian dalam mall ada kanal dimana kita bisa naik perahu ala Venezia, apa tuh namanya kok mendadak lupa. Dan ga cuma naik perahu, tapi pake dinyanyiin pula sama yang dayungnya. Yang dayung perahu kita namanya Lorenzo, katanya orang Filipin Portugis gitu. Suaranya bagus banget dan tampangnya imut2. Katanya gara-gara film Eat Pray Love, dia jadi pengen ke Bali 🙂 . Oya naik gondola (akhirnya inget namanya) itu bayarnya sekitar 100 MOP, yang mana jadi seratus ribuan. Worth it sih, kapan lagi naik gondola dalem mall.

Melewatkan malam berjalan kaki nyebrang pulau, pulang dari Venetian kembali ke hotel. Sepi banget jalannya, memang sih sudah sekitar tengah malam, tapi penduduk Macau kelihatannya memang nggak banyak.

Besok harinya kita check out hotel, menuju dermaga dan naik ferry ke Hongkong. Dengan harga sekitar 150 HKD atau sekitar 150.000an, kita naik ferry ke Hongkong, perjalanan harusya 30 menit sih, cuma karena kabut yang lumayan tebal, melar jadi sejam. Dari pelabuhan Hongkong, kita geret koper naik MTR (di HK memang bukan MRT tapi MTR) dan turun di area Causeway Bay, tempat kita nginep yang juga tempat belanja. Yeay !!

Hongkong, baby !

Eh ceritanya masih panjang bener, keburu bosen, kita sudahi dulu ya, berarti akan ada part II nya postingan ini 🙂

Soal Selera Yang Nggak Pernah Geser

Perihal selera yang nggak pernah geser ini ada dua hal. Yang pertama adalah mengenai musik, dan kedua adalah berhubungan dengan hal-hal berpakaian.

Jadi gini, soal musik, saya memang menggemari musik-musik jaman taun 80-90an (langsung deh ketauan umur). Perihal musik-musik jaman sekarang, oh pengetahuan saya nol banget. Kalau mau liat koleksi lagu saya, nggak bakal jauh-jauh dari Earth Wind and Fire, Kenny Rogers, Kenny Loggins, Paula Abdul, Janet Jackson, sampe Rick Astley. Lagu-lagu disco model jaman sekarang juga ga tau banget. Kalo mau goyang-goyang lucuk gitu ya pasangnya lagu Flashdance, atau Footloose, atau Dirty Dancing, atau Karma Chameleon nya Culture Club ! aha!  Abis deh diketawain

Bahkan ada teman saya bilang, kalo masuk mobilnya Shasya itu, kayak masuk ke mesin waktu. Orang-orang denger Afgan, saya masih denger Fariz RM. Di luaran berisik SM*SH, saya masih denger Modulus Band. Yang lain ngeans Agnes Monica, saya sih dengernya Malyda, coba. Bukan apa-apa ya, saya kan nggak gitu suka denger radio, nggak pula nonton tivi, jadi ya mau dapet lagu baru dari mana? Palingan kalo dapet kiriman lagi dari music director handal aja. Di luar itu, koleksi lagu saya memang nggak pernah nambah. Jadi bukannya nggak suka juga sih, tapi memang nggak pernah dapet update an lagu baru-baru.

Tapi hobby saya denger lagu-lagu lama sih kayaknya karena baru sekarang ini punya perangkat lengkap buat denger lagu deh. Jadi gini lho, dulu jaman suka banget nonton Flashdance, kebagian nontonnya tuh cuma sekali, nggak ada VCD apalagi DVD yang bisa diputer-puter ulang kapan kita suka. Mau denger lagu juga paling nebeng denger di mobil (pake kaset) kalo pas diajak pergi sama tante atau siapa gitu. Atau denger2 kalo pas di rumah ada yang pasang lagu itu. Nah kalo sekarang kan udah gede ya udah punya iPod sendiri, kerja bisa sambil denger lagu juga, atau di mobil juga bisa denger lagu apalagi kalo lagi sendirian. Jadi kepuasan untuk denger lagu itu sendiri adanya sekarang.

Satu lagi soal selera yang nggak pernah geser adalah perihal baju dan kawan kawannya. Masalahnya gini, dulu sebelum menikah dan punya anak, saya ini kurus. Kurus sekali. Serius. Jadi semasa SMA berat badan saya berkisar 44-an, lalu beres kuliah stabil di 45-an, menginjak kerja agak hepi sedikit, bertahan di 48. Setelah menikah menjadi 50 dan setelah melahirkan, timbangan saya tidak bergeser dari 55 kg. Tidak bergeser kanan, sayangnya tidak pula ke kiri.

Sebenernya saya nggak merasa gemuk-gemuk amat kok, biasa aja. Walaupun iya, jauh lebih gemuk dibanding masa kejayaan saya yang berkisar antara 45-48 kg itu. Yang menjadi masalah adalah saat memilih baju. Selera saya nggak geser dari waktu saya kurus dulu.  Jadi milih bajunya susah, alhasil saya malah sering keliatan gemuk-an dari seharusnya, karena tetep milih baju sesuai kondisi waktu kurus dulu gitu deh.

Jadi ya gitu deh, saya jadi kayak perempuan yang still wanna live in the golde era 🙂

27.12.2010

Hari ini Papa ulang tahun. Kalau Papa masih ada maksudnya. Ya mungkin nggak akan ada perayaan apa-apa juga sih, paling Mama masak sedikit dan kami makan sama-sama di rumah. Itupun kalau saya nggak pulang malem. Taun sebelumnya rasanya saya pulang kemaleman dan acara makan malam tidak resmi nya udahan.

Papa meninggal 27 Desember 2010 lalu. Menyerah pada penyakit kanker yang tidak pernah diketahuinya. Kami merahasiakan hasil pemeriksaan dokter, memang. Tidak pernah kami duga sebelumnya, penyakit yang baru terdeteksi selama 3 minggu terakhir itu akan membuat Papa meninggalkan kami, selamanya.

Mengingat penyakitnya, kami memutuskan untuk merawat Papa di rumah. Di dalam hati saya terdalam, saya menginginkan kami semua ada di samping Papa bila ada “apa-apa” terjadi.

Setelah sempat mengalami masa kritis selama 4 hari, Papa kemudian bisa makan dan ngobrol lagi. Tanggal 23-24 Desember 2010, keadaannya semakin membaik. Malah sempat request beberapa makanan yang dia suka. 25 Desember, kami (minus mama) pergi kumpul di rumah Oma, sesiangan saya nggak sadar bahwa saya belum mengucapkan “selamat Natal” sama Papa. Pulang ke rumah sebentar, saya sempat membisikkan “selamat Natal” di telinganya, disambut dengan angguk-angguk da gumaman nggak jelas.

Besoknya, hari Minggu tanggal 26 Desember 2010, (hampir) semua keluarga suami saya berkumpul di rumah, ceritanya sekalian Natalan sambil nengok Papa. Hari itu keadaan Papa lagi baik, dia udah tau siapa aja yang datang menengok, dan udah bisa makan pula. Hari itu rasanya tenang sekali. Semua berasa membaik dan kami seperti punya harapan baru bahwa Papa akan segera bangun dari ranjangnya.

Jam 3 subuh, suami membangunkan saya. “ada yang ngga beres sama Papa katanya”. Saya segera bangun, masuk kamar Papa dan mendapati napas Papa yang semakin aneh, bunyinya keras sekali. Mama bilang, kelihatannya Papa sudah tidak sadar tapi napasnya semakin lama semakin keras. Lalu kami semua berkumpul di kamar, saya pegang tangan kanan Papa, tangan Mama ada di dadanya, 3 adik laki-laki saya bergantian memegang tangan, lengan, dan leher Papa.

Itu adalah 2 jam yang paling berat yang pernah saya alami seumur hidup. Melihat Papa meregang nyawanya di depan mata saya sendiri. Lalu napas itu berangsur pelan, dan berangsur hilang. Saat itu, 27 Desember 2010, jam 5 pagi, Papa meninggalkan kami semua.

Saya bersyukur dengan keadaan itu, Papa pergi ditemani kami semua. Melihat pribadi Papa, saya tidak bisa membayangkan dia pergi di Rumah Sakit tanpa kami semua, malah ada orang lain.

Tulisan ini saya buat sebagai pengingat bagaimana Papa pergi meninggalkan kami. Saya masih ingat persis bagaimana keadaan rumah hari itu.

Sepeninggal Papa, rasa kehilangan itu tidak sekaligus terasa di waktu yang sama. Ada beberapa saat saya rasanya baik-baik saja namun ada beberapa saat dimana saya rasanya tidak baik-baik.