Ngapain ke Belitung, coba?

Kadang-kadang liburan yang asik itu liburan yang mendadak dan ga kebanyakan rencana memang. Seperti waktu tau-tau pergi ke Belitung kemarin itu. Intinya sih cuma karena pas Biyan masih libur sekolah dan rencana pergi bulan Februari ditolaknya mentah-mentah karena anaknya nggak mau bolos sekolah untuk pergi jalan-jalan (beda banget sama ibunya, memang).

Di luar dugaan, Belitung ternyata sangat menyenangkan dan cocok buat jadi tempat liburan keluarga, karena : Read More

Satu Masalah Selesai

Selama ini, saya belom pernah merasa akan jadi se-emak-emak seperti postingan berikut ini. Waktu pertama kali blogging kan karena patah hati, ya. Jadi kirain isi blog ini selamanya akan urusan cinta-cintaan dan cerita patah hati. Tapi kali ini saya mau cerita soal musuh abadi saya selama 7 tahun ini. 7 tahun artinya ya sejak punya anak sih.

Yes, seperti halnya ibu-ibu senusantara, sejak anak saya lahir saya sudah mengibarkan bendera perang sama yang namanya nyamuk. Nggak usah semacam nyamuk Aedes Aegypty yang bawa-bawa demam berdarah, sama nyamuk-nyamuk biasa pun saya benci setengah mati karena:

Read More

Kamu Nyebelinnya Sebelah Mana?

Pernah ngga kamu punya temen yang nyebelin banget. Judes, ngeselin, pokoknya kayak ga ada hal yang bagus tentang dia? Saya sih sering punya temen kayak begini. Tapi kenapa dong bisa jadi temen? Karena dia ternyata temen yang setia dengerin kalau saya curhat dan ga sembarangan ngasih pendapat, apalagi saran, apalagi judging. Jaman saya baru-baru kerja dulu, ada nih temen kayak gini, sekantor pula. Satu kantor dulu banyak ga senengnya sama dia. Tapi sebagai teman, saya punya banyak hal yang bisa saya ketawain bareng sama dia. Selera humor kami bisa dibilang satu frekuensi.

Pernah juga punya temen yang terkenal pemarah, doyan berantem, sedikit-sedikit marah sedikit-sedikit marah, tapi tau nggak, sebegitu sering saya makan bareng sama dia, belum pernah sekalipun  saya liat dia marah sama waiter/waitress. Padahal seringkali nemu tempat makan yang nyebelin, misalnya baru buka tapi udah bilang menu pesanan kamu abis. Saya sih bawaannya judes aja “lha, baru buka udah sold out ni gimana, bilang aja ga ada, jangan bilang abis”. Tapi temen saya yang pemarah ini dengan santai memilih menu lain untuk dipesan. Pernah juga menu yang dipesan salah, pesennya apa datengnya apa. Saya sempet tegang juga kirain dia bakal ngomel. Eh ternyata dimakan aja tuh, juga tanpa ngomel. Iseng, sekali waktu saya tanya kenapa dia ga pernah ngomel sama waiter/waitress. Jawabannya gampang aja dan ga filosofis sama sekali “masih banyak menu lain yang bisa dipesan”.

Pernah juga punya temen yang baik, ga pernah berantem sama orang, hubungan sama semua orang baik-baik aja. Rajin senyum, ramah dan temannya dimana-mana. Tapi kalau makan sama dia, saya suka tegang sendiri. Kalau sama waiter/waitress di tempat makan judes banget. Saya juga suka ngomel sih, tapi kalau udah salah banget. Tapi temen saya yang ini, ga usah pake salah, ngomong ke waiternya aja udah judes, ga pake senyum, ga pake ramah. Padahal dia dikenal sebagai temen yang ramah.

Yang paling ngeselin adalah kalau punya temen yang urusan horizontalnya lebih penting dibanding urusan vertikalnya sendiri. Tau maksud saya kan? Itu lho jenis temen yang ibadahnya rajin tapi urusan vertikal sama temennya banyak ga beres.

Maksud dari tulisan yang dimulai dengan racauan ini adalah, yang namanya orang, ga ada yang sepenuhnya nyebelin. Ga ada juga yang sepenuhnya baik-baik aja. Kamu akan nemuin hal yang menyenangkan dari orang yang nyebelin, demikian juga kamu akan nemuin hal yang ngeselin dari orang yang biasanya menyenangkan. Kamu akan merasakan waktu-waktu yang bikin kamu happy sama orang yang nyebelin, kamu juga akan ngerasain yang namanya sakit hati sama orang yang katanya nyenengin.

Tulisannya kayak bijak banget sih Shas. Padahal bukan lagi bijak ini sih lagi kesel sebenernya.

Menutup 2014 (dengan air mata)

Sebenernya waktu saya nulis postingan ini, judul di atas adalah “Menutup 2014 Dengan Segala Kebrengsekannya”. Tapi ini kan bukan tayangan tivi yang harus didongkrak dengan judul yang bombastis ya. Lagipula menulis 2014 brengsek itu kok seperti tidak ada hal baik yang terjadi di 2014. Seperti tidak diajar untuk bersyukur atas apa yang terjadi dalam hidup.

Kemudian judulnya saya ubah menjadi “Menutup 2014”. Tapi trus kayaknya ga menarik juga. Nggak menggambarkan apa yang saya mau bilang di bawah nanti, dan nggak menggambarkan seperti apa 2014 buat saya. Penulis amatir memang, mikirin judul aja udah 2 paragraf sendiri.

Setengah awal dari 2014 berjalan baik buat saya. Pergi liburan ngajak mama untuk pertama kalinya, beberapa tempat baru, ketemuan-ketemuan asik dengan banyak orang. Sepertinya setengah pertama 2014 diciptakan untuk mempersiapkan saya menghadapi badai yang kemudian muncul di tengah kedua taun ini.

Saya kemudian mendapati saya bukan seperti saya yang biasanya. Tengah kedua taun 2014 membuat saya menjadi orang lain. Segitu buruknya sampe untuk pertama kali dalam hidup, saya malu melihat diri saya sendiri di kaca. Driven by feeling, in a bad bad way. Kalau ada orang yang perlu saya mintain maaf atas apa yang terjadi, maka orang itu adalah saya sendiri.

Sejak itu hari-hari tak pernah sama lagi. I am becoming an expert of faking smiles. I am not a beginner in hiding tears anymore. I swallow the pain, I live with the sadness for months. Till one day it blew out and destroy everything I have.

Begitu banyak energi yang tanpa sadar tersedot untuk hal yang sia-sia. Begitu banyak waktu yang terbuang untuk menyenangkan hati orang-orang yang mungkin sebetulnya doesnt deserve all the attentions, the heart and also, the energy. Begitu banyak upaya yang dilakukan untuk menjadi senang. Sampai lupa bahwa senang dan susah itu kan terjadi begitu saja tanpa harus kita upayakan. Lupa kalau yang namanya senang itu sesungguhnya memang tak perlu banyak usaha.

Resolusi 2015 kemudian menjadi sangat sederhana saja. Selain resolusi taun-taun sebelumnya yaitu pengen kurusan, kali ini saya tambahkan satu point penting : senang-senang.

Iya, senang-senang yang tanpa harus banyak upaya.

Senang-senang yang tidak dibayar dengan susah hati di kemudian hari.

Dan menyadari kalau senang dan susah itu bikinan kita sendiri, nggak perlulah dikejar-kejar sampai habis energi sendiri kemudian ngos-ngosan sendiri.

Selamat tahun baru, survivors. Walaupun sedikit terseok dan banyak berdarah, toh tahun ini lewat juga. Bukan tanpa hal baik, tentu saja ada hal-hal menyenangkan yang kita nggak boleh lupain. Hidup itu jangan jelek-jeleknya ajalah yang diingat.

Menutup 2014. Sambil berharap nggak ada lagi tahun-tahun mendatang yang harus ditutup dengan air mata seperti tahun ini.

IMG_3471

Yang Katanya Food Blogger Padahal Cuma Tukang Makan

Screen Shot 2014-12-04 at 4.17.25 PM

Sudah sekitar 5-6 tahunan belakangan ini saya membiasakan diri menulis soal makanan yang saya makan. Bahasa kerennya : review. Tulisan-tulisan soal makanan ini tadinya ada di blog yang lagi kamu baca, tapi kemudian saya pindahkan ke SurgaMakan.com biar ga tercampur sama curhatan dan mumbling-mumbiling saya yang nggak jelas disini. Waktu Twitter mulai rame, saya kemudian suka posting singkat-singkat soal makanan di @SurgaMakan. Udah follow? Lho kok belum? Follow dong.

Read More

#rawatgigiku Yang Makin Asik Dengan @ciptadentID

Saya (tadinya) bukan orang yang rajin sikat gigi malam-malam sebelum tidur. Selain karena suka kelupaan trus kalo udah selimutan jadinya suka lupa, saya juga suka makan ini itu sebelum menjelang tidur. Mohon jangan ditiru dua kebiasaan buruk ini : males sikat gigi dan suka ngemil menjelang tidur. Sejak punya anak, saya tentunya ingin menularkan kebiasaan baik pada anak saya dong ya. Jadilah saya mulai membiasakan diri untuk selalu sikat gigi menjelang tidur.

Read More

Perihal Memaafkan

Sampai umur saya 20an dulu, saya masih takut deket deket kuda, karena sejak saya kecil, mama saya selalu bilang jangan berdiri sebelah kuda, nanti ditendang. Waktu saya bilang alasan saya nggak mau berdiri sebelah kuda karena takut ditendang, (mantan) pacar saya ketawa keras. Katanya, kuda itu nggak bakalan bisa nendang ke samping karena engsel kakinya cuma bisa memungkinkan gerakan ke depan dan ke belakang. Damn. Bener juga. 20 tahun hidup saya hidup dalam kebohongan, untung cuma urusan tendangan kuda, bukan urusan-urusan lain yang lebih penting.

Read More

Memori Kurang Ajar

Dimana kamu satu minggu lalu?

Satu bulan lalu?

Satu tahun lalu?

Pertanyaan ini memang tidak akan ada habisnya kalau ditanyain terus. Saya sebagai mahluk melankolis romantis ini adalah korbannya. Untuk hal-hal indah yang pernah terjadi dalam hidup saya, saya bahkan ingat detail sampai memori soal baju apa yang saya pake saat itu. Apalagi urusan sepatu, inget banget kapan pake apa.

Sayangnya yang namanya memori yang datang nggak melulu soal yang bagus-bagus. Di beberapa hari dan tanggal tertentu mood saya suka mendadak berantakan tanpa bisa dikontrol. Padahal saya selalu survive yang namanya PMS. Dikontrol hormon sih kagak, yang ada dikontrol kenangan.

Jeleknya lagi, kenangan buruk muncul nggak cuma soal waktu. Jalan yang kita lewatin pas kita nerima berita jelek, foto-foto yang bermunculan di gallery handphone, atau foto yang muncul di berita, bahkan di twitpic, film yang bersetting di tempat yang kita nggak pernah mau kunjungi lagi saking buruknya kejadian yang pernah terjadi disana, lagu yang mengingatkan kita waktu kita lagi susah hati. Banyak, masih banyak yang mungkin membawa kenangan jelek dan membuat hati kita nggak beres dalam hitungan sekejap dua kejap.

Natal nggak pernah sama lagi untuk saya sejak ayah saya meninggal 2 hari setelah hari Natal 3 tahun lalu. Beberapa tempat cantik yang pernah saya datangi malah membuat trauma-trauma ga jelas. Salah satu jalan yang pernah saya lewati sambil dapet kabar ga enak adalah jalan yang setiap hari saya lewatin untuk pulang ke rumah. Apakah dengan saking seringnya saya lewat jalan itu kemudian lama-lama jadi kebas? Nggak juga tuh, sudah 3 bulan berlalu tapi sakitnya masih sama-sama aja.

Belum lagi beberapa orang yang tanpa sengaja selalu mengingatkan kita sama orang-orang yang justru mau kita lupain. Rasanya seperti dikepung kenangan. Sayangnya kenangannya buruk.

Lalu mau sampe kapan begini-begini terus? Karena ternyata melupakan bukan satu pilihan. Sepengen-pengennya kita melupakan satu hal buruk, belum tentu bisa. Yang ada semakin lama rasanya semakin ngeselin. Jadi kelihatannya kita tunggu saja sampai memori ini berhenti kurang ajar ya.

Tabula Rasa & Keheningannya

('minjem' dari 21Cineplex.com)

(‘minjem’ dari 21Cineplex.com)

Menyenangkan menonton film Indonesia belakangan ini. Kita tidak lagi dipaksa melihat akting pas-pasan seperti dulu. Akting yang bahkan kalau kita lihat di sinetron aja rasanya pengen banting tivi itu lho. Udah ga ada cin, yang main film sekarang canggih-canggih, mainnya natural, ngomongnya natural, kadang-kadang bikin kita lupa kalau kita lagi nonton film.

Semalam, atas saran seorang teman *melirik tajam pada yang bersangkutan*, saya pergi nonton Tabula Rasa. Saya suka nonton bioskop, tapi bukan penggemar berat. Meluangkan waktu 2 jam di bioskop untuk saya harus selalu ada alasan kuat. Banyak yang bilang, ini film tentang makanan, mungkin itu sebabnya si kawan, kita sebut saja namanya Nauval Yazid meminta saya nonton film ini. Toh semua tau saya emang tukang makan kan? Kan.

Di 30 menit pertama (dah hampir di 75 menit selanjutnya), alur film ini bergerak lambat. Bercerita soal Hans, si pemuda Papua yang merantau ke Jakarta demi mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pemain bola. Dalam rangka membuat cerita menjadi menarik, tentu saja cita-cita ini kandas di tengah jalan. Hans diperankan dengan asik oleh Jimmy Kobogau. Pendatang baru atau bukan, saya kurang tau. Aktingnya saya bilang asik karena di saat yang bersamaan saya bisa ngerasain kasian sekaligus sebel sama tokoh Hans.

Setelah disuguhi beberapa adegan menggambarkan betapa sulitnya usaha Hans untuk bertahan hidup di Jakarta, maka kita akan bertemu dengan tokoh-tokoh lain di film ini. Ada Dewi Irawan yang berperan sebagai Mak, dan 2 pria lain yang kalau kamu pengen tau namanya bisa cek disini aja.

Sebelum nonton tentu saja kita sudah mendengar garis besar film ini : seorang pemuda papua yang gagal mewujudkan mimpinya, malah kemudian jadi tukang masak di sebuah tempat masakan Padang. Yang aneh apa? Satu, tadinya dia pemain bola, kedua dia bukan orang Padang. Tapi justru setelah dia yang masak, kedai itu jadi ramai lagi setelah sebelumnya sepi pengunjung. Jadi cerita yang menarik kan dengan dua keanehan ini? Iya harusnya sih.

Kalau kamu nggak suka kekerasan, kamu mungkin akan suka film ini. Pasalnya, setiap ada konflik, redanya selalu cepat. Konflik digambarkan dengan debat sejenak, kemudian adem lagi. Kalau saya nggak salah, mungkin ada 5-6 kali adegan semacam ini. Cocok buat kamu yang nggak suka liat orang berantem. Pada ademnya cepet cin. Temen nonton saya semalam bilang “filmnya hening ya”. Dan saya pun angguk-angguk setuju.

Balik ke soal ‘film ini soal makanan’. Saya agak berharap banyak sih, berharap lebih banyak adegan dan dialog yang menggambarkan betapa pentingnya rasa makanan bagi lidah orang. Saya juga berharap banyak filosofi yang diangkat makanan itu sendiri. Tentu saya juga berharap banyak adegan yang secara visual menggambarkan Masakan Padang dari proses sampai jadi dihidangkan di atas meja. Bukannya nggak ada sih, ada kok visual gimana proses masak ini dilakukan di dapur, walaupun didominasi oleh proses menumbuk cabe dan bawang yang kemudian saya bayangkan ditambah terasi kemudian jadi sambel khas masakan Sunda. Kamu juga mungkin akan jadi pengen makan Rendang setelah berulang kali melihat Hans mengaduk santan di kuali besar dengan api dari kayu, bukan dari gas karena masak Rendang itu apinya harus kecil dan mengaduknya harus sabar dan pas.

Konflik terbesar di film ini mungkin ketika Mak tiba-tiba sakit dan masuk rumah sakit sehingga Hans harus masak sendiri di dapur. Tentu saja masakannya seenak masakan Mak, namanya juga pemeran utama, harus jagoan. Tidak lama kemudian, Mak keluar dari rumah sakit dengan jalan sedikit pincang, lalu kemudian masalah selesai.

Bagaimana dengan masalah si Hans sendiri? Apakah akhirnya dia jadi pemain bola seperti cita-cita awalnya? Atau kemudian dia jadi juru masak Masakan Padang ternama? Atau kemudian dia pulang kampung halaman dan buka restoran Padang disana dan kemudian sukses? Kalau mau tau ya kamu harus nonton sendiri.

Oya, satu hal penting ketika nonton Tabula Rasa adalah ternyata Hot Peach Tea nya XXI enak ya, cobain deh. Pas sama dinginnya gedung bioskop, apalagi saya kelupaan bawa pashmina semalam.