The 5 Years Old Me

Waktu menulis ini saya membayangkan lagi duduk bersama seorang teman baik, yang mungkin sudah mengenal saya selama bertahun-tahun dan tau bener seluk beluk (alah) kehidupan yang lagi saya jalani. Kami mungkin sedang duduk di sebuah coffee shop dengan design interior yang cakep. Maklum, Bandung lagi kaya akan coffee shop cantik. Duduk ngopi padahal sebetulnya alergi kafein, seperti sudah menjadi kebutuhan.

Read More

#30treatsbefore30-nya @indikawetjes

#30treatsbefore30 adalah proyek manisnya salah satu sahabat saya, @indikawetjes alias Indira Bayurini, alias BUBU nya kita semua. Jadi intinya, sebelum ulang taun ke 30, Indi berniat masakin temen-temennya masakan apa aja SESUAI REQUEST. Tawaran ini sempet dilempar di Twitter, dan berebutanlah kami semua untuk daftar dan ngajuin makanan yang dipengen, karena jatahnya kan cuma 30 orang aja.

Saya pun sempet “booking” tempat, tanpa tau mau pesen makanan apa. Udah mikir agak lama, saya baru kepikir “Cingkong Kepiting” and Indi was like “whaaaatttt is thaaaaat???”. Kalau waktu itu kami lagi ketemuan langsung, saya pasti udah angkat bahu, “gw ga tau masaknya, cuma doyan doang, lo google ajah”. Berhubung percakapan dilakukan via bbm, maka adegan angkat bahu diatas dapat diabaikan.

Tenggat waktu untuk #30treatsbefore30 ini tinggal kira-kira seminggu lagi, kita panik-panik ga jelas karena ternyata saya belum bisa ke Jakarta dan Indi belum bisa ke Bandung. Akhirnya, karena pentingnya proyek ini, maka disepakati bahwa Cingkong Kepiting akan dikirim lewat travel dari Bintaro ke Bandung, oh yay!

Kata Biyan, thank you Bubu πŸ™‚

Dan hari itu akhirnya gedumbrangan ngambil Cingkong Kepiting ini ke travel jam 9 malem dalam keadaan belum makan. Perfecto. Sampe rumah, panasin bentar, duduk di meja makan, dan NYAMS! enak lho Bubu!

Biyan ikutan heboh karena denger cerita bahwa harusnya ada 7 Cingkongnya, tapi diminta Caya 1 karena “Caya mau Β makan yang ada jingga-jingganya itu”. Kata Biyan, “jadi 6 untuk kita dan 1 untuk Caya?”, sambil angguk-angguk puas.

Yang mau baca cerita Indi dan #30treatsbefore30 nya, boleh mampir ke siniΒ (walaupun banyak update yang belum masuk nampaknya *pecut Bubu*)

Sekali lagi, terima kasih ya Bubu, seru banget proyek ulang taunnya πŸ™‚

A Pleasant Journey

Aaaah blog apa ini kok banyakan dianggurin daripada diurusinnya πŸ™‚ Belakangan berbagi kepala dan hati dengan www.surgamakan.com. Proyek pribadi yang urusannya ga jauh-jauh dari makanan, kesukaan saya πŸ™‚

Jadi kemarin pemilik blog berdebu ini berulang taun. 33 sekarang umurnya. Kira-kira sebulan sebelumnya saya udah menyebut-nyebut angka 33 ini sering-sering dalam hati. Mungkin hanya perasaan saja kok 33 ini bedanya serasa jauh dari 32 ya. Padahal bedanya tentu hanya 1 tahun, ya seperti waktu beranjak dari 31 ke 32 dulu.

Mungkin berasa sedikit Β lebih tua karena dalam 1 tahun ini banyak sekali hal yang dialami, ya walau taun-taun sebelumnya juga sih. Yang jelas ada beberapa hal besar yang terjadi taun ini, misalnya Biyan sudah mulai sekolah. Saya sebagai orang tua merasa naik ‘kelas’. Anaknya udah sekolah lagi aja, hooray! Walau nggak bisa setiap hari anter jemput anak sekolah, saya menikmati setiap cuilan cerita Biyan di sekolahnya. Dan baru sekolah sebentar aja nambah pinternya udah banyak. Saya bangga πŸ™‚

Yang kedua di perihal rohani. Bukannya baru, tapi banyak hal mengenai iman dan kepercayaan yang berseliweran menari-nari di kepala saya. Tak ingin banyak cerita, tapi katakanlah I have a very colorful life about this thing.

Ketiga, Friends. Teman. Family by choice. World without strangers is definitely Β the world I dont wanna live in. Karena these strangers have became my friends. Some of them are always there to talk to, some of them even provide their shoulders for me to cry on. And some of them have became my family, by choice. You know who you are. Berbagi cerita, senyum, tawa, air mata, dan rahasia. Tak pernah mengira ini semua akan menghangatkan hati sampai sebegini.

Tidak pernah ada hidup yang sempurna, saya percaya itu. Pun hidup saya sendiri. Ada kurang disana-sini. Ada salah dimana-mana. Tak terhitung banyaknya salah langkah, salah ucap dan salah pikir. Di sisi lain, tak terhitung juga kasih sayang, berkat dan karunia yang dilimpahkan buat saya. Walau tidak persis 50-50 antara susah dan senangnya, namun semua saya anggap seimbang. Senang terus nggak bakal bikin kita tambah pinter dalam hidup ini. Dan susah terus kan cuma bikin sengsara, bukan ?

My life, is a 33 years of a pleasant journey.

There it Goes

Si waktu memang tidak pernah kompromi. Tau-tau satu tahun berlalu dan saya udah ulang taun lagi aja. 31 tahun hari ini.

Dan entah kenapa, kali ini saya ngga punya keinginan untuk merayakan dengan sesuatu yang istimewa, makan malam keluarga misalnya. Tadi pagi mama saya udah tanya2 mau makan keluar atau masak di rumah. Saya berpikir sejenak, kemudian memutuskan untuk pergi fitness saja sepulang kerja nanti. Tidak perlu ada perayaan apa-apa, karena saya sedang tidak ingin. Kebetulan suami juga punya kegiatan yang ngga bisa ditinggal hari ini, maka saya akan merayakan ulang tahun istimewa ini dengan mesin treadmill saja :).

Banyak kali, sebaiknya kita nggak ribut pengen yang istimewa, untuk saya, melakukan apa yang saya mau, adalah yang istimewa justru.

Meskipun awal tahun sedikit demi sedikit berlalu tanpa resolusi berarti, dalam hati saya tau apa yang saya mau. Banyaknya rencana dan harapan masih bergelantungan. Tidak ada mimpi yang lebih besar kecuali untuk membuatnya menjadi nyata satu per satu nanti. Tunggu saja.

Lalu saya berpikir apa yang sudah saya punya ketika menginjak umur 31 ini. Wah, awal tahun ini begitu banyak berkat yang dicurahkan untuk saya dan keluarga. Sementara melihat ke kiri dan ke kanan, saya bersyukur betul, kami, keluarga besar masih bisa bersama-sama terus meskipun waktu untuk berkumpul kian mahal harganya.

Katanya memang jangan pernah menakar dan mengukur berkat yang sudah disiapkan untuk kita. Saya tahu betul itu. Karena di perjalanan saya ini, begitu banyak berkat yang sungguh di luar dugaan, di luar perkiraan, dan di luar perhitungan saya.

Dan diluar semuanya itu, saya bersyukur punya kamu disini. Tetaplah disini, supaya hari-hari ini nggak cuma berasa normal, tapi selalu istimewa di setiap hadirnya.

Happy birthday, me

A Cute Boy For You, An Angel For Me

Biyan236

my angel

This cute boy might be just a cute boy for you

But for me, he’s my everything

A light to lighten my dark phase

An energy booster

A reason to stand still

There will never be enough words

To show what I feel inside

All I know, he’s a grace

And I’m grateful

To see his smile every day

To hear his funny voice

To feel his chubby cheek on mine

To have him in my life

Again, i’m grateful

I rarely say this, I know

But I thank You, Lord

Ceritanya Liburan

As some of you may know, liburan lebaran kemaren, saya dan Biyan berkesempatan pergi ke Makassar. Kenapa Makassar, karena ini bukan sekedar liburan biasa, tapi berhubung papa nya Biyan yang memang lagi tugas sementara disana dan kemaren belum bisa pulang, jadilah kita pergi.

Waktu ditawarin pergi pertama kali, saya agak-agak ciut hati juga. Bukan apa-apa, perginya kan berdua Biyan aja, sementara papa nya udah duluan di Makassar. Perrgi bawa anak seumur Biyan itu bukan perkara gampang. Lebih lagi, nggak ada penerbangan langsung dari Bandung ke Makassar, jadi saya dan Biyan harus mampir dulu ke Jakarta dengan keadaan arrus balik yang membuat perjalanan Bandung-Jakarta yang harusnya bisa cuma 2.5 jam, harus jadi 5 jam. Memang sih akhirnya 2,5 jam pun sampe ke Bandara, tapi akhirnya kita berdua malah harus nongkrong di bandara sekian lamanya.

Nunggu berdua Biyan di bandara, bukan hal yang gampang. Dia itu super ga mau diem, alhasil saya sibuk berat jagain dia sambil juga jagain tas bawaan saya. Dan jangan lupa, bawa anak bawaannya ga sedikit lho, di tas saya sedikitnya ada 4 botol susu, selimut, jacket, mainan, makanan kecil, susu, pampers, dll. Belibet bener deh pokoknya. Isi tas saya kali menyerupai mini market terdekat rumah anda, hehe

Setelah nunggu selama 3 jam setengah, akhirrnya kita masuk juga ke boarding room, hanya untuk tau bahwa flight di-delay sampe satu setengah jam kc depan. Haduh, asli lemes yang ada. Padahal perut laper banget, tapi bener-bener nggak mungkin untuk keluar makan lagi dengan bawa Biyan dan bawaan itu tadi. Dan keduanya, sama sekali nggak mungkin saya titipkan pada orang lain toh?

Tapi semuanya terlewati juga, penantian hampir 5 jam akhirnya tuntas juga, menjelang maghrib, Biyan dan saya terbang. Ini perjalanan Biyan paling jauh (sebelumnya, paling jauh cuma ke The Ranch, Lembang).

1. Tidak seperti yang dikhawatirkan bahwa Biyan bakal bosen di jalan, ternyata begitu masuk travel ke Bandara, Biyan tidur pulas sampe akhirnya bangun pas nyampe bandara. Begitu juga di pesawat, belum take off dia udah pulas, dan bangun tepat saat landing. Saran teman untuk ngasih obat tidur kayaknya beneran nggak berguna, seperti mamanya, dia kebluk abis !

bobo terus

bobo terus

2. Saya beruntung banget, Biyan itu nggak pernah susah makan. Di bandara dia makan perkedel kentang sama ayam sama nasi, lahap. Pas nyampe makan mie titi, ngga kalah lahap. Waktu breakfast di hotel nyaris sepertifood paradise buat dia, secara banyak banget kesukaannya, cerreal, kue2 manis, omelette, dan kerupuk! :D. Selama jalan2, Biyan juga nggak pernah nyusahin. Diajak makan baso, lahap, apalagi waktu diajak makan ikan dan udang bakar.

breakfast, kegiatan favorit

breakfast, kegiatan favorit

3. Jalan-jalan bawa anak tidak memungkinkan saya untuk nampil gaya2an. Yang ada, pake baju yang rraktis, pake tas yang segala masuk, dan pake sepatu yang enak dipake jalan. Matching ga matching urusan kedua (ehm, to be honest, ini milih bajunya susah bener, karena selama 4 hari jalan harus matching terus dari baju, sepatu sampe tas, hehe).

4. Jalan sama Biyan, juga nggak memungkinkan saya pake baju ‘asal’ seperti waktu liburan.Kata ‘asal’ disini bisa diganti penggunaannya dengan baju yang ‘minim’ seperti yang biasanya saya lakukan kalo liburan di tempat panas seperti ini (kayak yang sering aja deh!). Walaupun ada suami, disini saya dan Biyan jalan kemana-mana berdua, suami kan kerja. Dan jalan2nya juga naek becak lho yaaaa…. pengalaman pertama Biyan naek becak, seru πŸ™‚

5. Bawa Biyan ke pantai, eh dia males kalo kena2 air, katanya nggak mau kalo kakinya basah, yuk…. hahaha…. ini anak suka dikasih tau jangan kotor2an akhirnya keterusan, pegang pasir juga ogah. Alhasil pulang dari pantai, masih rapi dandanannya πŸ™‚

ga mau deket air, kotor !

ga mau deket air, kotor !

6. Bukan ngga pengen ketemu2an alias kopdar sama blogger2 Makassar, tapi liburan kemarin saya memang pengen total bareng Biyan setelah selama ini saya banyak tinggalin dia. Disini, total semua waktu saya, selalu bareng sama dia. Kalo saya berpaling sebentar aja, wifi-an, dia langsung sibuk coret2 karpet hotel dengan crayon nya. Mama saya bilang, itu maksudnya cari perhatian πŸ™‚

It was a blast. Seneng bener menghabiskan waktu banyak berdua Biyan, Karena kemana2 berdua, dia nggak pernah sempet ditinggalin, selalu diajak biar cuma ke apotek samping hotel juga. Masa iya mau ditinggal di hotel sendirian kan. Mandi pun suka bareng2, padahal di rumah nggak pernah2nya. Dan saya ngakak abis waktu dia teriak, “wah, penis mama ilang!!”. :))

Keluarga Pilihan

Awalnya agak terinspirasi sama satu bagian kecil dari buku yang bolak balik dibaca dari minggu lalu (sembari ga abis abis), Honeymoon With My Brother. Inget bener pas si Frans nawarin kopi buat Kurt, adiknya dan ternyata dia ga tau kopi macam apa yang diminum adiknya. Kopi hitam? Kopi pake krimer? atau kopi tanpa gula kali?

Bukan soal kopinya nih, tapi saya jadi mikir, kadang kita sama adik kakak sendiri kan suka aja lupa ya, atau bahkan ga tau persis gimana kebiasaan2 mereka. Tapi ajaibnya, kita malah lebih hafal kebiasaan2 temen kita. Contoh kongkritnya Senny tuh, kalo saya pesen coca cola dimanapun, dia selalu tambahin pesenannya, “pake gelas, mas”. Dia hafal lho, saya ga mau minum coca cola dari sedotan πŸ™‚ Tapi coba tanya aadik saya, belum tentu dia tau. Padahal hampir seumur hidup kita, banyak sekali waktu yang kita habiskan makan bareng, di rumah, atau di luar rumah.

Kepikir soal ini tanpa merendahkan arti seorang adik/kakak buat saya. Kebetulan saya anak sulung, adik saya 3, laki2 semua, dengan jarang umur yang lumayan jauh2. Jadi saya ini ya nggak pernah ngrasain tuker2 pinjem baju dll seperti kalo punya sodara perempuan. Juga nggak bisa lah curhat2 ala adik kakak perempuan gitu. Ini, udah lelaki, masih pada bocah pula, hehehe…

Saya justru terpikir betapa besar arti seorang temen buat kita. Mereka yang hafal kebiasaan2 kita, mereka yang tau apa yang kita suka dan apa yang engga, mereka yang menghabiskan waktu sama kiita, bahkan kali lebih banyak dibanding dengan adik kakak mereka sendiri.

You might be someone’s brother or sister, but it took a lot more to be someone’s friend πŸ™‚

Buat saya, sekali lagi, tanpa merendahkan arti adik atau kakak dalam kehidupan kita, tapi yang namanya teman itu memang selalu luar biasa. Kita nggak bisa pilih siapa yang jadi saudara kita, tapi kita bisa pilih siapa yang jadi temen deket kita. Saya menyebut teman2 saya ini, keluarga pilihan πŸ™‚