Monthly Archives: July 2014

Crop Foto Sana Sini

Saya penikmat foto-foto pemandangan yang indah indah. Pasti kamu juga. Yang paling sering sih foto sunset. Atau foto sunrise (note : saya sama sekali tidak punya foto sunrise karena nggak pernah bangun sepagi itu untuk mengejar terbitnya matahari). Oh atau foto pantai. Ini yang selalu bikin saya pingin pergi piknik. Apalagi foto sunset di pantai, sudahlah kelar.

Lalu berapa kali kamu jadi kepengen pergi hanya karena liat foto dari temenmu, atau liat di timeline twitter, atau di iklan majalah traveling, atau di Instagram, dan tentu saja di Path? Saya sih sering banget. Walau ujung-ujungnya belum tentu pergi ke tempat yang kita liat itu. Mlipir dikitlaaah, liatnya foto Lombok, perginya ke Pangandaran. Gitcu. Yang penting ada pantai, laut, dan kesempatan memotret sunset. Liatnya foto hijaunya sawah di Ubud, perginya ke Garut. Begitulah kira-kira.

Kemudian saya menemukan hal yang cukup lucu. Waktu saya pergi ke waduk Jati Luhur di Purwakarta kemudian naik perahu menyebrangi danau, saya sempat memotret potongan perahu dengan langit biru ditambah dengan visual gunung dari kejauhan, cakep deh, Ketika foto itu saya upload, temen-temen pada nanya karena dikira saya pergi jauh karena pemandangannya bagus. Waktu saya mengambil foto itu, saya padahal harus ngepas-pasin kamera henpon supaya gambarnya pas bagusnya. Bukannya apa-apa, namanya juga Danau ya, ujungnya ga seluas laut kan, dan di deket situ ada tempat makan terapung yang kalau masuk frame foto, enggak banget kelihatannya.

Waduk Jatiluhur

Waduk Jatiluhur

Kedua kali saya sempat memotret sunset di sekitar Pamanukan. Waktu itu jalanan super macet, bukan sekedar macet biasa, tapi truk dimana-mana mengepulkan asap yang nggak ada sedap-sedapnya, motor berdesakan mencoba mendapatkan jalan diantara mobil-mobil yang berjajar. Diantara pemandangan ga enak ini, matahari tetep asik aja menjelang sunset, saya mengarahkan henpon saya ke atas, hanya ada sedikit bagian dari truk di bagian depan mobil saya yang tertangkap kamera, edit dikit, crop crop, voila! foto sunsetnya bagus.

Kejadian memotret sunset atau pantai juga sama aja, kadang-kadang pantainya biasa aja, bahkan ada yang kotor. Ya bagian kotornya jangan ikut difoto la ya. Miringkan henpon sedikit juga ga kena. Orang yang liat fotonya pasti mikir memang beneran bagus aja pantainya. Baru baru ini saya dikirim foto Biyan yang lagi main di lapangan rumput kompleks Angkatan Darat dekat rumah ompungnya. Fotonya bagus banget, dan kesannya lagi dimana gitu. Padahal kalo langsung liat sih ya disituuuuu belakang rumah, yang tempatnya biasa-biasa aja, yang panas bukan kepalang itu. Tapi berhubung angle ambil fotonya bagus, ya baguslah hasilnya. Pernah juga foto-foto di kuburan, ternyata hasilnya malah bagus  :)))

Piknik di Kuburan

Piknik di Kuburan

Oh kadang-kadang ada juga keadaan begini, pantai lagi penuh-penuhnya, kalo difoto pasti ga bagus, palingan disangka lagi di Ancol. Triknya? Agak menjauh dari kerumunan orang, lalu tukang fotonya harus gesit, klik klik ambil foto saat ga ada orang melintas. Voila, hasilnya kayak lagi di private beach kan? Kejadian serupa saya alami waktu foto-fotoan di Wat Pho di Bangkok, kan tempatnya selalu penuh sesak tuh ya, sampe mau motret susah deh banyak orang dan mereka biasanya bergerombol gitu. Saya sempat ambil satu foto yang pas ga ada orang, sampe tau-tau ada temen nanya “kok bisa sih Wat Pho sepi?”.

Wat Pho

Wat Pho

Pernah juga saya pergi ke tempat yang beneran cantik pemandangannya, ke hampir setiap sudut mata saya memandang, nggak terlihat cacatnya. Pas difoto, hasilnya ternyata ga beda jauh sama yang perlu diedit dikit dan crop crop crop itu tadi.

Kemudian saya berpikir. Kayaknya hidup juga nggak pernah jauh-jauh dari yang kayak gitu ya. Kita menceritakan hal-hal yang menyenangkan yang terjadi pada kita sama teman-teman, mereka melihat betapa menyenangkan hidup yang kita jalani. Ada yang ikut seneng, ada juga kali yang udahnya jadi sirik. Tapi mungkin mereka nggak melihat ‘pemandangan’ jelek yang sempat kita crop sebelum kita ceritakan pada mereka. Ada air mata disana sini, ada susah hati yang cuma bikin malu kalo dikisahkan sama orang. Akhirnya cerita kita yang bagus aja yang muncul ke permukaan. Ada yang salah dengan itu? tentu saja enggak. Adalah pilihan kita kalau kemudian nggak mau menampilkan sisi buruk dari apa yang kita alami dalam hidup.

Saya pernah ditanya beberapa teman, katanya hidup saya nampak menyenangkan, nampak baik-baik aja, banyak jalan-jalan, banyak ngumpul-ngumpul sama teman. Saya cuma senyum aja waktu itu dan bilang “kalo bagian susah memang ga gw ceritain lah, ngapain, simpen sendiri, bagi ke teman saat ketemu di japri, bukan di tempat umum kayak Path atau Facebook”.

Ujung-ujungnya emang terserah sih, mau posting foto apa adanya, mau cerita soal hidup apa adanya, terserah kamu kok.

*kemudian kembali sibuk cropping foto*

Leave a comment

Filed under Saya, Saya, dan Saya

When You Love, You Love

Life is never about changing someone we love into a kind of person we want

Life is always about tolerating, accepting whom we love no matter they might be the contrary to the kind of person that we want them to be.

Expecting someone we love to change the way we want to be is the root of all misery.

And the failure of it is one full screaming hell.

 

But when we love, we love.

 

No matter how the hassle has driven us like crazy

No matter how many sacrifices we made in the name of love

When we love, we love

 

Love might be long lasting

Love might happen continually

But we might forget, love is also as weak as those leaves falling in fall

It may shine brightly like a sun in summer and provides you those jolly moments

It may drive you crazy like when you cant handle those windy days

It may be the reason why some rainy days are too shivery for you to handle

And when it happens, you know you gotta stop

4 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Vandroid T3X, Mainan Baru dari @Advan_ID

Terakhir kali saya memakai tablet untuk keperluan sehari-hari adalah kira-kira 2,5 taun lalu. Keperluan sehari-hari ini maksudnya adalah cek Path, cek Twitter, kadang-kadang buka Facebook, bales-bales email yang masuk ke inbox, dan kadang-kadang main game. Waktu ganti laptop dengan laptop yang lumayan ringan, saya berhenti menggunakan tablet, soalnya repot cin bawa tablet iya, bawa laptop iya. Sementara ukuran mereka ga terlalu banyak beda, laptop saya 11″ dan tablet saya waktu itu 10″. Dari sisi berat juga ga banyak beda, akhirnya saya tinggalkanlah si tablet itu di rumah.

Sampai satu waktu saya menemukan si tablet dari Advan ini, disebutnya Vandroid. Tepatnya Vandroid T3X. Pertama kali tablet ini saya pegang, saya udah naksir sama bentuknya yang sleek, warna putihnya, beratnya yang bersahabat, dan terutama adalah ukurannya yang cukup banget di 8,9″. Kemudian tentu saja mulai saya install macam-macam aplikasi. Sebagai sosmed freak, yang pertama saya install adalah Twitter, Path, lanjut Facebook dan Instagram. Selama ini saya cukup puas menikmati foto-foto cantik di Instagram lewat henpon aja, pas liat di layar ukuran 8,9″ ini langsung tambah ‘whoah’ gitu.

Vandroid T3X

Vandroid T3X

Dari sektor dapur pacunya, Vandroid T3X dilengkapi prosesor QuadCore 1,5 GHz, dibekali RAM sebesar 1GB dan masih ditambah dengan fitur Anti Lag 3D Games serta V Color Engine yang membuat performanya cukup hebat untuk menjalankan game 3D. Cocok buat kamu yang doyan main games. *tunjuk hidungnya satu satu*

Berhubung saya doyannya foto-foto makananm saya cukup happy dengan kameranya yang 8MP ini, kamera depannya juga cukup bener buat dipake selfie-selfie an. Biar foto makin cakep hasilnya, ada fitur autofocus dan LED flash light kalau harus motret di ruangan yang kurang cahaya.

Sejak bawa bawa T3X kemana-mana, ada hobby lama saya yang muncul lagi : nonton sitcom!. Iya, dari dulu kan saya hobby nonton sitcom ya, tapi saya emang kurang seneng duduk depan tivi. Si T3X ini bener-bener solusi deh, karena tinggal masukin file sitcomnya ke memory card, kemudian saya bisa nonton dimana aja. Termasuk di toilet, beneran. Memory Internalnya ada 8GB, externalnya bisa diisi sampe 32GB. Sedap, cukup bener buat naro file-file sitcom kesayangan saya. Dari sisi layar, nonton di T3X bisa dibilang hampir sama-lah dengan nonton di TV. Layarnya Full HD
(1929×1200) dengan mengunakan layar berjenis LCD IPS (in Plane Switching). Makin anteng megang tablet buat nonton ini sih.

 

 

Fitur lain yang terdapat dalam Advan T3X ini adalah HDMI (bisa buat presentasi di kantor tinggal connect ke TV di ruang meeting, HA!), TV analog, Radio FM, Bluetooth v4.0, mini USB, Dual Sim GSM, dan Wi-Fi tentunya.

Dan kalau kamu mulai sebel dengan gadget yang gampang banget abis batrenya, T3X ini lumayan lho, bisa dipake seharian tanpa harus numpang ngecharge dimana-mana, batrenya Li-Ion 6000mAh soalnya.

IMG_6796

 

3 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya