Lelaki Tanpa Pacar

Hey, pernah merhatiin nggak diantara temen-temen lelaki kita ada tuh beberapa orang yang nggak pernah keliatan punya pacar. Apakah memang nggak mau, atau kebetulan belum laku, atau saking terlalu sibuk sampai nggak punya waktu buat pacaran. Lelaki tipe ini, biasanya kemana-mana sendiri, atau jelek-jeleknya sama teman lelakinya, jaraaaaaang banget keliatan bareng sama perempuan, bahkan yang sekedar teman sekalipun.

Temen saya ada beberapa yang kayak begini. Dan mau nggak mau, saya jadi membandingkan. Sumpeh deh, perbandingan ini muncul tanpa sengaja dan bukan maksud hati kepingin membandingkan.

Tapi untuk saya, pergi jalan, atau main, atau makan dengan teman yang biasa punya pacar itu jauh lebih nyaman dibandingkan dengan mereka yang sudah lama nggak punya pacar, atau lebih parah, yang belum pernah punya pacar, tipe jomblo yang juga jarang bergaul dengan teman perempuannya. Kebanyakan sendirian, atau kalaupun pergi berduaan ya sama teman lelaki. Terus kenapa jadi nggak nyaman ? Ya simply karena teman-teman saya yang nggak terbiasa sama perempuan itu kebanyakan kaku-kaku nggak jelas, dan ga treat kita sebaik mereka yang biasa punya pacar.

Gini ya. Yang namanya emansipasi sih emansipasi. Tapi yang namanya ngasih jalan duluan, nawarin makan duluan, itu namanya sopan. This is one thing why a girl could fall for you. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya berani bilang bahwa hal-hal beginian jarang sekali saya dapatkan di tipe lelaki yang nggak pernah pacaran itu tadi.

Itu satu hal. Hal lain yang mudah terasa perbedaannya adalah kala mengobrol. Lelaki yang biasa menghadapi perempuan, biasanya lebih banyak perhatiannya terhadap apa yang kita bicarakan, matanya banyak bergerak mengikuti omongan kita, dia juga biasanya punya pendapat atau opini yang membuat obrolan menjadi lebih menyenangkan. Dengan lelaki tipe kedua, yang kamu dapat adalah rasa nggak sabar dia menunggu cerita kita cepat selesai supaya dia kemudian bisa cerita soal dia yang baru abis-abisan mendandani motor trail kepunyaannya. Atau soal laptop nya yang baru ganti, atau soal apa aja yang berhubungan dengan dirinya sendiri.

Self Centered. Mau ga mau, akuilah.

Memang sih bukan salah mereka kok jadi self centered, bukan maunya mereka pula. Tapi apa yang mereka alami sehari-hari memang membuat mereka jadi begitu. Ga terbiasa mikirin orang lain di luar dirinya. Kalau lelaki berpacar kan mau ga mau harus dengerin pacarnya cerita, mau nggak mau sedikit mengikuti mode dan ngikutin gosip yang sering diobrolin perempuan sampe dower itu. Secara nggak sadar, lelaki berpacar membagi hati dan perhatiannya pada orang lain. Lelaki tak berpacar? ya gitu deh 🙂

Balik lagi ke perihal sopan santun tadi ya. Jadi perempuan kan maunya dihargai (lebih) ya. Ada yang bukain pintu, tentu senang, ada yang nawarin pesen makan duluan, maunya tersipu-sipu seneng. Ada yang mau bawain barang berat, ih seneng banget. Nah, lelaki yang (kelamaan) tak berpacar itu kan jaraaaang sekali melakukan beginian. Mungkin ini yang bikin mereka nggak laku-laku! Ha! Belum lagi kurangnya perhatian saat ngobrol itu tadi. Perempuan mana yang mau nggak diperhatiin sih? Nggak ada.

Nah, kalo abis nulis beginian nanti ada yang protes deh, dibilang generalisasi. Eh beneran ya ini bukan generalisasi, memang sih nggak semua lelaki tak berpacar itu nyebelin. Dan nggak semua juga lelaki berpacar itu nggak nyebelin. 😛

don’t Broadcast, Let’s Talk :)

Secara nggak sengaja hari Sabtu kemarin saya ketemu dengan teman SMP. Begitu ketemu, yang dia tanyakan bukannya kabar, tapi Pin BB. Saya sih sebenernya nggak terlalu suka punya banyak contact list di BBM. Yang perlu-perlu ajalah, yang memang sering kontak, atau sekalian yang ada urusan kerjaan (yang ini jarang sih sebenernya).

Sayangnya, saya tipe yang ngedumel tapi nggak enak kalo nggak ngasih, jadi yah, akhirnya tukeran pin juga. Beberapa hari kemudian si teman mengundang chat, conference dengan beberapa teman lain. Disinilah keseruan itu dimulai. Dari bertiga, conference berkembang jadi 5 dan terus bertambah. Di akhir hari, akhirnya terbentuk grup alumni SMP dengan anggota 25 ajah. Yak, bayangkanlah kerecokannya.

Yang paling banyak jadi bahan pembicaraan adalah saling mengingat satu sama lain. Disinilah komentar2 fisik bermunculan. Itu lho yang tinggi, yang pendek, yang keriting, yang rambutnya lurus, yang kurus, yang gendut, dan deretan panggilan fisik lainnya. Sebagian besar masih mengenal satu sama lain. Tapi ada juga yang lupa-lupa. Parahnya, setelah diupload foto, masih tetep aja ada yang lupa. Saya sendiri ingat hampir semua, kecuali 1 orang yang mungkin berubah banget atau memang waktu SMP nggak pernah maen bareng. Untungnya semua masih inget sama saya, kali karena saya bandel 😀

Dalam 2 hari, pembicaraan nggak selesai-selesai, BB terus aja bergetar pertanda ada yang lagi chat. Saya sih mundur teratur dan menikmati jadi penonton pembicaraan mereka. Uniknya, kumpulan teman-teman SMP ini seperti terbelah di dua group. Soalnya, SMP saya dulu menerapkan pembagian kelas berdasarkan ranking. Di taun pertama, kalau masuk kelas A, berarti kumpulan anak-anak pinter dan kalau masuk kelas H, berarti dengan anak-anak yang ehem, kurang pinter. Taun kedua sebaliknya, kalau dapat kelas G, berarti pinter, begitu seterusnya. Karena saya sekarang sudah lulus dan sudah cukup tua dewasa untuk berpendapat, ijinkanlah saya berteriak “pembagian kelas yang bodoh, heeeeeeeeeeeeeeyyyyyyyyyyyyy!!!”. Membuat pergaulan menjadi terkotak-kotak dan nggak memberi kesempatan untuk yang ‘kurang pinter, bahkan menjadikan anak-anak di kelas pinter menjadi kuper. Ha, so relieved to finally say that.

Setelah lulus sekolah dan mungkin kuliah, setelah kita semua ada di dunia yang ‘beneran’ ini, emangnya masih perlu pembagian itu ? Ambil contoh, teman SD saya yang dulunya juara kelas, sekarang jadi ibu rumah tangga, dan teman saya yang waktu SMP kerjanya ketinggalan kelas, sekarang punya beberapa toko gadget dan termasuk pengusaha yang lumayan disegani di Bandung. See? maksud saya bukan merendahkan mereka yang kerjanya jadi ibu rumah tangga yah, tapi justru mau ngasih contoh bahwa even if you failed in your school, you still gonna make it in your life later.

Selama saya menulis ini obrolan masih terus berjalan dan saya memilih menjadi penonton setia aja. Soalnya pembicaraan lagi berkisar di “eh anak lu lucu banget” “eh lu kurus banget dan cantik” “eh anak lu udah berapa” “eh anak lu les dimana”. Dum di dam di dum di dam, just nooooot my favourite subject yaaa……

Sempat beberapa kali berniat untuk leave group, tapi masih kepentok perasaan ga enak hati. Menyadari bahwa komunitas ini mungkin bukan komunitas yang bisa dengan mudah saling mengerti kalau ada suatu saat kita musti mundur dan memilih untuk tidak lagi mendengarkan atau melibatkan diri dalam sebuah percakapan.

Komunitas yang saya temui di jagad maya biasanya lebih terbuka terhadap perbedaan. Lebih terbuka terhadap pilihan orang yang tentu berbeda satu sama lain. Perihal approve tak approve atau perihal follow-unfollow tidak usah masuk hati.

Tapi dengan teman lama yang deketnya kagok, memang banyak kagoknya. Mau approve kok ya kayak nggak perlu, mau decline eh ga enak hati. Belakangan saya memilih approve, lalu membiarkan apa yang musti terjadi ya terjadi. Kadang-kadang contact list itu hilang dengan sendirinya, kali mereka ganti handset, atau mereka yang duluan menghapus saya dari list nya.

Punya banyak contact list banyak juga sih nyebelinnya. Broadcast Message adalah salah satunya. Yang namanya Broadcast Message atau BM ini emang banyak kali ganggu sih ya. Kadang2 isinya suka ga penting. Pernah satu kali dapet kayak gini “URGENT! Ada bayi lagi koma, butuh Gol darah AB segera, telepon ke xxxxxx.”. Ok, menolong orang apalagi urusan nyawa sih ya emang iya penting. Tapi sebelum kita broadcast, udah dicek belom sih nomer teleponnya Mas? Karena waktu saya cek, nomernya tidak aktif. Dan 3 hari kemudian, bahkan seminggu kemudian saya masih aja terima BM serupa.

BM yang belakangan saya terima berupa (maaf) kebodohan yang nyaris tidaak dapat ditolerir. Isinya mewajibkan kita untuk lanjut mengirimkan BM tersebut ke semua contact list kita, supaya kemudian pulsa kita terisi secara otomatis. Hari gini? pulsa gratis ? Oh man.

Gini deh ya. Yang namanya provider telepon seluler itu udah canggih-canggih Bung, logika nya dimana dengan kirim BM bisa jadi pengisian pulsa gratis? OK, mungkin mereka yang kirim BM juga mikirnya, “ya kirim ajalah, who knows” alias coba-coba. Duh, tapi kan ganggu.

Ada lagi BM yang enggak banget. Katanya kita harus broadcast ulang,kalo engga hal buruk akan terjadi sama kita. Saya memang sama sekali tidak religius taapi juga tidak berminat menggantukan diri pada sebuah BM.

Menulis ini memang cukup jadi dilemma. Mana tau ada yang pernah BM saya dan baca tulisan ini. Kemudian merasa tersinggung dan merasa saya menyindirnya lewat tulisan. Tapi percayalah kawan, nggak ada maksud nyindir secara pribadi. Ini pandangan saya mengenai BM BM itu tadi. Selama masih nyaman mengirimkan saya BM, silakan saja. Dibaca atau engga, kan gimana nanti 🙂

Reuni Terus

Pergi ke reuni memang sesuatu yang menyenangkan. Apalagi kalo emang udah lama banget nggak pernah ketemuan, pastinya seru. Reuni yang menyenangkan, justru bukan reuni akbar, tapi reuni antara temen-temen deket aja justru lebih rame biasanya. Yang sering terjadi, reuni-reuni kecil terjadi setelah ada reuni besar. wajar dong kalo kita pengen sekali lagi ketemu dengan temen-temen yang lebih deket.

Meningat reuni, selalu banyak hal lucu dan menyenangkan, termasuk hal yang nyebelin. Ini ada beberapa tips (gila) yang bisa diaplikasikan dengan catatan harus disesuaikan dengan keadaan masing-masing ;

Tips #1

You go to a reunion, you dress your best. Percayalah ada banyak cinta yang tidak terungkapkan di masa sekolah. Mana tau kalo KM dulu naksir berat sama kamu kan? So dress your best, impress those who had a feeling for you, and impress those who never knew you’re cute before. What? you’re married?? Nothing to do with your status, my friend. Even if you’re taken, it feels good to know someone might have a feeling for you.

And dont think its the boys only you have to impress, the girls also !

Tips #2

There’s no use dragging your partner to a reunion. He won’t enjoy it and so do you! I often say you guys need to do your own things. Its not something bad. Not bringing ur partner to a reunion doesnt make you look bad. If it does, well who cares ?

Tips #3

If a friend starts to talk seriously to you and say “gua ada bisnisan baru”. What you should do next is run! Well, i know its impossible to actually run. Keep busy, use your gadget. Dont show any interest, sedikitpun. Believe me, these people always have answer to any rejection.

Tips #4
Dont come too late. But dont come too early too. Make sure there’re some friends see you coming. This is the advantage of dressing your best, no?

Tips#5

Kalo dateng reuni bawa anak, pastikan dia nanti betah, either betah dengan makanannya, atau yang lain. Ini sebabnya memilih tempat reuni dengan peserta yang mungkin bawa buntut akan lebih repot dibanding datang sendiri. Anak-anak kan perlu space bermain yang lumayan luas. In my case, saya mampir dulu beli mainan. Mainan baru selalu menarik perhatian anak, nggak pernah gagal.

Tips#6

Kalau ada diantara temen yang belum menikah, nggak usahlah ngotot nanya-nanya kenapa belum menikah. Buat mereka yang memang pingin segera menikah tapi tak kunjung dilamar, pertanyaan ini bisa jadi sangat menyakiti dan buat mereka yang memang nggak mau atau belum mau menikah, kamu bisa jadi sangat menyebalkan.

Hal sama berlalu mengenai anak. Ada pasangan yang belum punya anak, ya nggak usah dong ditanya-tanya kapan punya anak. Lebih nggak usah lagi ngasih2 tips nggak guna supaya ‘tokcer’. Punya anak itu kan bukan pencapaian, siapa tau dia belum punya anak tapi hidupnya lebih happy dari kita, wew 🙂

I got 2 more reunions to go, phew!

Cari Karyawan? Susah!, Cari Kerja? Susah!

Di dalam urusan pekerjaan, saya kebetulan banyak dicurhatin orang soal susahnya cari karyawan. Di urusan pertemanan, banyak juga teman yang curhat betapa susahnya cari kerjaan. Rasanya ada sedikit yang nggak beres, ada yang bilang susah cari karyawan, ada yang bilang susah cari kerjaan.

Tapi beneran, dan sudah umur tahunan saya mendengar hal-hal macam begini. Kerjaan saya menyebabkan saya mau nggak mau ikut mikirin saat orang mencari karyawan dan nggak dapet-dapet. Karena liat sendiri, saya jadi meng-iya-kan bahwa iya ternyata cari orang yang mau kerja atau calon karyawan itu susah. Dan kesulitan cari karyawan ini tentu berdampak langsung sama kelangsungan usaha. Gimana mau jualan kalo karyawan nggak ada.

Secara nggak langsung, ini berpengaruh ke kinerja saya. Jadi secara nggak langsung pula saya gemes beneran kalo nyari karyawan aja nggak dapet-dapet. Lah katanya ada banyak orang yang susah cari kerja kan? Tapi saat butuh, dapet aja susah.

Saya kemudian mencari tahu sambil mengamati pula. Ternyata sebetulnya cari karyawan itu nggak susah kok. Tinggal titip aja sama temen. Biasanya ada beberapa orang yang kerjaannya memang cocok jadi bursa tenaga kerja, stok nya banyak bener. Dari adik, sepupu, tetangga, semua cari kerja. Kalau perlu karyawan, hubungi aja dia, mau laki-laki, mau perempuan, siap stok nya, banyak. Dan harusnya nggak usah khawatir karena kan dapet dari kenalan. Ada sedikit harapan bahwa si calon karyawan kelak tidak akan macam-macam secara dapet kerjaannya dengan unsur kekeluargaan dan harusnya nggak enak kalo bikin macem-macem. Ternyata yang susah bukannya cari karyawan. Tapi susah cari karyawan yang cocok dan pas. Kata siapa cari pacar aja yang susah? Nih buktinya, cari karyawan aja susah bok, harus cocok. harus pas. Belum lagi kalau ada kriteria lain seperti berpenampilan menarik segala.

Tapi kemudian saya mendapati bahwa si pencari kerja biasanya berubah 180 derajat sesudah menemukan kerjaan yang selama ini dicari-cari. Kata-kata macam “Mau kok kerja apa juga” dan “Nggak masalah gajinya kecil dulu, asal punya pemasukan” mendadak menguap hilang entah kemana. Nggak tau juga kalo pengucapnya yang tiba-tiba amnesia dan nggak ingat sama sekali sama ucapannya sendiri.

Contoh ya, ini kejadian nyata. Tidak direka-reka dan tidak dikarang. Seorang Bapak mencari karyawan untuk di counter makanan punyanya. setelah dapat, jauh-jauh dari Cirebon, si Bapak pun semangat mengirimkan ongkos perjalanan buat calon karyawan supaya tiba dengan mudah dan selamat ke tempat kerjaan di Bandung. Sampai di Bandung sore hari, baru sempet briefing singkat mengenai pekerjaan yang menanti esok harinya. Tau-tau, besok pagi, di saat harus pergi ke tempat kerjaan, si calon karyawan tiba-tiba urung. “Saya teringat terus ayah saya di kampung. Tadi malam tidak bisa tidur memikirkan ayah saya”, begitu katanya. Hari pertama bekerja lenyap tak berbekas, bahkan belum sejenak pun dimulai. Jangan bayangkan si calon karyawan ini gadis lugu berambut panjang yang kalo di kota namanya ‘anak papi’ ya. Kita ngomongin seorang pemuda yang naik angkot dari Cirebon dengan sepatu Converse versi tiruan, pake topi dan ikat pinggang dengan aksen paku-paku dan dompet dengan rantai besi yang dicantolkan ke ikat pinggangnya. Hari itu dia melewatkan kesempatan kerjanya karena ‘rindu ayah di kampung’.

Contoh lain seorang Ibu berjualan nasi soto. Dalam rangka membuka cabang baru, dia mencari calon karyawan untuk menunggui counternya. Mau perempuan ah, katanya. Supaya nggak terlalu bandel dan lebih bisa diaatur. Baiklah, si bursa tenaga kerja menyanggupi. kebetulan adik ipar saya sudah selesaai sekolah berbulan-bulan lalu dan belum dapat kerja. Voila! pencari kerja bertemu dengan pencari tenaga kerja. Ideal kan ? Satu-dua hari bekerja, si karyawan menunjukkan sikap yang cukup baik. Hari ketiga dan keempat pun dilalui dengan mulus. Sampai hitungan minggu. Satu saat, saya complain kepada si ibu pemilik counter. Pasalnya itu hari minggu saat harusnya food court ramai, ini counter kok malah tutup, sampai jam 12 siang belum ada tanda-tanda buka. Tanya punya tanya, ternyata si karyawan nggak datang sama sekali. Dapur masih dikunci, dan dagangan sama sekali tidak disiapkan. Rupanya entah jenuh atau memang nggak mau lagi mengerjakan kerjaannya, si karyawan memutuskan untuk nggak masuk kerja hari itu, dan tidak ijin sama sekali. “Kalau bilang sama Ibu, takut ga boleh”, begitu katanya. Tanpa sedikitpun berpikir bahwa bekerja di tempat makan di pusat perbelanjaan, hari sibuk ya tentu hari libur.

Contohnya sih cuma 2. tapi dari situ kita bisa melihat bahwa sebetulnya mencari kerja toh tidak susah-susah amat. Namanya pekerjaan kan akan selalu ada. Baik buruknya, bisa kita pikirkan kemudian. Cocok atau tidaknya tentu juga bisa menjadi pertimbangan selanjutnya. Tapi yang namanya jalan, selalu ada. Mau ngomel terus susah dapat kerja? atau mau mengambil keputusan yang ada depan mata dulu sambil menunggu kesempatan yang lebih baik datang?

Dan Saya Pun Terkesima



Hari ini di luar dugaan saya ketemuan sama seorang bapak yang usaha makanan di Bandung. Kalo aja saya sebutin usahanya, kayaknya se-Bandung tau semua deh. Sebetulnya sama si bapak ini kenal udah lumayan lama berhubung juga ada hubungan kerjaan.

Usahanya berkembang cukup pesat 3 tahun terakhir ini. Counternya ada dimana-mana. Penampilan si Bapak sama aja seperti waktu saya pertama kali melihatnya, 15 tahun lalu ketika saya duduk di bangku SMP. Bedanya dulu beliau melayani sendiri pelanggannya, saat ini beliau sibuk berkeliling ke counter-counter miliknya untuk sekedar anter barang dan control.

Penampilannya nggak terlalu bersih, selalu berjaket karena kemana-mana naik motor. Padahal usahanya laku luar biasa. Di tempat saya aja, omzetnya selalu nomer 1 melebihi tenant-tenant yang lain. Anaknya katanya 4 atau 5 orang, saya lupa. Yang saya kenal cuma 1, perempuan usia masih kuliah, tapi saya nggak tau apa dia kuliah apa enggak. Penampilan si anak juga cenderung lusuh, kalo kerja melayani pelanggan, sama sibuk dan sama kucelnya sama karyawannya. Sekali waktu saat hujan, saya berdiri di halte menunggu taxi, tiba-tiba dia muncul dengan sendal jepit dan celana jeans yang digulung sampai lutut, bawa payung dan naik bis. Saat itu aja saya udah sedikit merasa malu. Saya yang cuma karyawan aja nggak mau naek bis karena khawatir kehujanan di jalan saat turun, takut sepatu Charles & Keith saya basah. Dan khawatir Blackberry saya dicopet orang. Perempuan itu, yang bapaknya pengusaha sukses itu berlalu dengan bis yang tanpa AC persis di depan muka saya.

Saat ngobrol sama saya tadi, si Bapak ini cerita mengenai usahanya. Semua jelas dibangun dari nol. Dengan tangannya sendiri dia melayani semua pelanggan. Saya saksinya. Jangan lupa. saya pelanggan setia sejak SMP dulu. Modalnya nggak terlalu besar kok, katanya, biasa aja. Kalau sekarang counternya sudah dimana-mana, toh berhasil karena ditekuni dengan baik dan mengelola cash flow dengan cara yang benar-benar apik. Nggak merasa perlu punya mobil, cukup naik motor saya, toh kemana-mana sendirian, istri kan di kampung, katanya.

Kemudian beliau berkisah tentang waktu pensiunnya yang semakin dekat. Anak-anak sudah saya kasih bekal untuk masing-masing punya usaha berjualan. Saya sebentar lagi akan pensiun. Tapi saya nggak mau diam saja, saya lagi cari petak-petak tanah kecil untuk buka pangkas rambut. Biayanya nggak besar, tinggal cari orang yang bisa pangkas rambut, bagi dua hasilnya, selesai. Saya nggak perlu belajar mangkas rambut orang kan, katanya. Juga nggak perlu belanja setiap hari seperti usaha makanan. Pangkas rambut memangnya mau belanja apa sih?

Saya terkagum dengan pemikiran sederhananya. Sementara saya sibuk memikirkan usaha apa yang pasti laku dan bikin langsung kaya, bapak ini muncul dengan ide sederhana yang masuk akal.

Anak-anak semua saya bekali untuk memulai usaha, katanya. Termasuk anak-anak perempuan juga Bu, beliau bertutur. Supaya kalau suatu waktu nanti saya bertamu ke rumahnya, saya bisa duduk dengan enak dan tenang. Ga merasa bersalah karena kursinya menantu yang beli. Dibuatkan kopi dan sesekali makan siang pun hati tenang, bukan cuma menantu yang punya andil. tapi anak saya pun ikut punya bagian di rumah itu. Saya sebetulnya sedikit kurang setuju dengan pahamnya. Buat saya menikah itu kan menjadikan semuanya milik bersama, berat amat beban orang tua kalo berpikir seperti itu. Tapi saya mengambil cerita ini dari sisi yang lain. Si bapak pengusaha ini ingin anak-anaknya semua juga bisa punya usaha yang baik dan ga bergantung 100% pada suaminya masing-masing. Ini hebat.

Si bapak kemudian juga bercerita, di kampungnya dia bercocok tanam, cabe rawit, jahe, lengkuas, dll. Supaya nggak usah ke warung dikit-dikit, katanya. Jadi di kampung bisa makan sehari tiga kali tanpa harus keluar uang, keren. Disini, mau ngunyah keripik pedes aja keluar uang belasan ribu 🙂

Ngga cukup segitu, beliau cerita juga kalau mencoba menanam kayu. Sekarang sih bukan apa-apa, katanya. Tapi nanti, 20 tahun mendatang, kalau rumah saya sudah jelek, saya sudah punya bahan kayunya, tinggal cari tukang dan nambah-nambah beli bahan yang kurang.

Saya terkesima.

There it Goes

Si waktu memang tidak pernah kompromi. Tau-tau satu tahun berlalu dan saya udah ulang taun lagi aja. 31 tahun hari ini.

Dan entah kenapa, kali ini saya ngga punya keinginan untuk merayakan dengan sesuatu yang istimewa, makan malam keluarga misalnya. Tadi pagi mama saya udah tanya2 mau makan keluar atau masak di rumah. Saya berpikir sejenak, kemudian memutuskan untuk pergi fitness saja sepulang kerja nanti. Tidak perlu ada perayaan apa-apa, karena saya sedang tidak ingin. Kebetulan suami juga punya kegiatan yang ngga bisa ditinggal hari ini, maka saya akan merayakan ulang tahun istimewa ini dengan mesin treadmill saja :).

Banyak kali, sebaiknya kita nggak ribut pengen yang istimewa, untuk saya, melakukan apa yang saya mau, adalah yang istimewa justru.

Meskipun awal tahun sedikit demi sedikit berlalu tanpa resolusi berarti, dalam hati saya tau apa yang saya mau. Banyaknya rencana dan harapan masih bergelantungan. Tidak ada mimpi yang lebih besar kecuali untuk membuatnya menjadi nyata satu per satu nanti. Tunggu saja.

Lalu saya berpikir apa yang sudah saya punya ketika menginjak umur 31 ini. Wah, awal tahun ini begitu banyak berkat yang dicurahkan untuk saya dan keluarga. Sementara melihat ke kiri dan ke kanan, saya bersyukur betul, kami, keluarga besar masih bisa bersama-sama terus meskipun waktu untuk berkumpul kian mahal harganya.

Katanya memang jangan pernah menakar dan mengukur berkat yang sudah disiapkan untuk kita. Saya tahu betul itu. Karena di perjalanan saya ini, begitu banyak berkat yang sungguh di luar dugaan, di luar perkiraan, dan di luar perhitungan saya.

Dan diluar semuanya itu, saya bersyukur punya kamu disini. Tetaplah disini, supaya hari-hari ini nggak cuma berasa normal, tapi selalu istimewa di setiap hadirnya.

Happy birthday, me

Namanya Skala Prioritas

Ada banyak hal yang sedang berseliweran di dalam kepala saya. Hal berupa rencana, maupun sekedar angan-angan. Dari yang memang penting, sampai ke yang nggak penting alias biasa-biasa saja. Dari yang harus terjadi sampai ke yang tertoleransi bilapun tidak terjadi pada akhirnya.

Sebagian adalah mimpi saya sejak lama. yang sebagian lagi baru saja terpikir barusan, tapi toh cukup mengganggu.

Tidak ada jalan di muka bumi ini yang memungkinkan semuanya berjalan bersamaan sesuai kepengen saya.

Saya bisa mengambil setengah langkah mundur (bahkan tidak satu langkah), untuk melihat kembali bagaimana saya sebaiknya menyusun semua ini hingga kelak semuanya bukan cuma sekedar mimpi dan angan, tapi ada dalam genggaman saya.

Sebentar, saya sedang melihat dari belakang. Lalu saya akan mengambil langkah yang kata orang-orang sih namanya Skala Prioritas.

Nggak bisa semua-mua jadi nyata dalam waktu yang bersamaan. Satu-satu ya, yang sabar. Kelak kita buat nyata semuanya. Dan kita tahu saya bukan cuma sedang bermimpi.

Mannna Personal Touch nya? :P

Berapa belas tahun lalu, menjelang Natal saya selalu sibuk memilih kartu Natal. Membeli kartu Natal yang di pack masing2 dua belas buah, meskipun lebih murah, sama sekali tidak pernah jadi pilihan saya. Saya menikmati memilih kartu yang berbeda untuk setiap teman saya. Sesuai kesukaan mereka, atau setidaknya sesuai yang saya ‘kira’ mereka suka.

Setelah SMS menjadi barang yang sangat umum, saya akui saya tidak pernah lagi membeli kartu natal. Kirim SMS cepet cong, murah lagi ☺ apalagi sekarang, sekali kirim 6 SMS di pagi hari, udah gratis aja 300 SMS selama siang dan sore nya. Biar kata provider suka ngadat-ngadat jadi lambat dengan alasan pemakaian over juga, tetep aja kirim SMS. Biar kata telat, yang penting nyampe. Setelat-telatnya SMS tetep aja lebih cepet dari kartu Natal atau kartu pos.

Di jaman facebook mulai menjadi bagian dari gaya hidup (I do sound like a wartawan lifestyle ya), ngucapin selamat Natal dan selamat-selamat lainnya, jadi lebih gampang lagi. Tinggal klik-klik-klik, langsung deh nyampe. Buat pemakai BlackBerry malah lebih gampang, tinggal tulis pesan, send to all. Beres deh. Eh adalagi Twitter, gampang juga, tinggal “merry christmas ya cin”, beres deh. Berapa tahun belakangan saya agak kurang sreg dengan kirim-kiriman sms yang bentuknya standard alias template alias tulis satu, kirim ke semua. Sudah hampir 3 tahun ini, saya selalu membuat SMS baru untuk dikirimkan ke teman-teman. Semua dilengkapi dengan nama mereka masing-masing supaya pada tau kalo itu bukan SMS template. Saya juga menyisipkan pesan pribadi, misalnya salam ya buat laki dan anak lu, atau salam ya buat Ibu dan Bapak, ya apa ajalah yang membuat SMS itu memang saya buat khusus buat dia dan bukan SMS template.

Tahun ini, Facebook diramaikan dengan badai Blingee. Beberapa teman sempet mencak mencak di Twitter karena kesel dengan hebohnya si Blingee itu. Saya termasuk diantaranya, setiap buka profile saya di FB, yang ada cuma si Blingee itu berjejer sampe berapa halaman, super sebal. Saya memang menerima banyak ucapan yang asalnya dari aplikasi macam itu. Dan jujur, membuat sebal. Bukannya ga terima kasih ya. Tapi personal touch nya udah ilang sama sekali tuh. Boro-boro pengen bales, jangan2 mereka juga ngga inget udah kirim ke siapa aja, tinggal klik soalnya.

Jadi kalo dibandingin dengan ritual memilih kartu dulu itu, wah tingkatannya jauh bener ya. Memang iya sih, kehidupan sekarang kan berputar lebih cepat dan kesibukan masing-masing udah segunung aja. Tapi buat saya, personal touch dalam setiap greeting itu perlu lho. Biar kata telat ngucapin, tapi kalo pesannya personal. Lebih enak aja bacanya.

Mau Namu Jangan Bikin Kesel

Jadi siang hari ini, di sela-sela kesibukan saya sebagai ibu menteri yang nggak ada habis habisnya itu, saya berkesempatan makan siang sama si penulis kondang, yang berbaik hati mengantarkan novel terbarunya, Heart Block ke kantor saya. Gratis, sodara-sodara! dan di dalemnya ada tulisan personal yang sempat membuat hati tersobek-sobek 😛

Baru aja duduk dan belum sempet makan, tiba-tiba seorang pemuda barbaju hitam-hitam menghampiri kami dan menawarkan voucher  masuk ke sebuah club yang lumayan (pernah) terkenal. Saya kontan menolak, tapi si pemuda dengan wajah memaksa menawarkan voucher tersebut. Ini gratis, katanya, dari harga 200 ribu, hari ini cuma 60ribu. Belum apa-apa saya udah sebel duluan, katanya gratis kok jadi 60ribu sih? Saya masih ramah dan mencoba menolak, “nggak mas, kita nggak pernah ke tempat gitu”. Eh si mas makin menjadi dan memaksa untuk bercerita soal tempat kerjanya itu. Saya pun memaksa menolak, dan si mas itupun berlalu dengan muka ASEM.

Bok, gini ya, sering nggak sih ditawarin barang, trus pas kita nolak, mukanya langsung asem. Kalo saya sih sering punya pengalaman beginian dengan SPG kosmetik atau parfum. Pas nawarin barang manis bener, pas kita nolak, mukanya langsung setelan asem. Belakangan saat semua barang dipaksa ditawarkan door to door atau person to person kayak tadi, ya jadi ebrkembang dari kosmetik dan parfum ke barang-barang lain.

Kalo udah gitu saya akhirnya suka sebel. Tadinya sih kalo ada yang nawarin gitu, saya suka kasihan. Inget cari uang memang susah, sebagian dari kita memang harus sampai berkeliling seperti itu nawarin barang dagangannya. Yang saya yakin, mungkin ga semua juga dari mereka menikmati pekerjaannya itu, kali mereka juga beban banget menghampiri orang dan menawarkan sesuatu. Mending kalo jadi dibeli, lah kalo ditolak? Saya sih nolaknya masih halus (tapi tegas). Saya yakin aja, pasti ada juga tuh yang nolaknya judes. Harusnya sih kalo memang berprofesi untuk nawar2in barang sama orang asing, pada saat ditolak, ya tetep dong jaga air mukanya tetap ramah. Kalo ditolak trus mukanya langsung asem, ya kita jadi sebel kan. Namanya resiko pekerjaan ya. Saya juga sama kok, sering ditolak orang dalam hal pekerjaan

Sepergi si mas itu tadi, saya melanjutkan ngobrol-ngobrol lagi. Sekali ini, kami berhasil memasukan satu porsi sop betawi dan saya nasi pepes tanpa gangguan apapun. Haleluya. Di saat makanan sudah habis dan tinggal tersisa beberapa penggal waktu untuk mengobrol lagi, tiba-tiba seorang bapak-bapak yang kebetulan ada hubungan kerjaan dengan saya datang dan ‘memaksa’ duduk dengan kami. “Lagi ngobrol bisnis?”, katanya. Saat saya jawab enggak, si bapak pun senang dan langsung duduk bergabung bersama kami dan kemudian bercerita mengenai ini-itu yang jelas, self centered.

Saya seringkali nggak bisa berkata enggak, apalagi seperti saya bilang tadi, si bapak ini punya hubungan kerjaan sama saya. Tapi saya sungguhan berharap orang-orang berhenti berbuat begitu. I mean, berhenti untuk tiba-tiba tau-tau bergabung dengan orang lain dan ikutan nimbrung. Saya memang nggak lagi ngobrol soal bisnis. Urusan bisnis memang jadi obrolan, tapi memang sudah selesai sebelum si bapak datang. Tapi emangnya yang penting itu cuma ngobrol bisnis aja ya ? Suka pada ngga tau kalo obrolan antar teman, apalagi seperti saya dan si teman yang waktu ketemunya susaaaah banget itu juga termasuk penting, hey. Akhirnya dengan isyarat-isyarat, kami pun terpaksa meninggalkan meja dan berdalih harus pulang. Padahal kala itu, obrolan lagi seru tapi karena ibu mentri ini harus kembali bekerja, maka usailah sudah ngobrol-ngobrol seru itu.

Saya jadi juga terpikir mengenai kebiasaan orang orang yang suka tiba-tiba muncul namu di rumah. Ini beberapa kali saya alami. Tau-tau rumah saya diketok, dan ketika ngintip via jendela, seorang teman datang. Buat saya untuk hal-hal seperti ini, sebaiknya kita mengadaptasi kebiasaan-kebiasaan di barat sana. Kalo mau namu, ya telpon dulu dong, dan tanya dulu, apakah kita sedang dalam keadaan bisa ditamui apa engga. (ehm, ditamui bahasa apa sih bok?)

Soalnya gini ya, saya ini kan orang kerja. Pas sampe rumah, pengennya ya leyeh leyeh, pake celana pendek, pake tanktop, dan rambut diiket abis. Sementara namanya terima tamu, kan harusnya ngga berkostum seperti itu. Sekali waktu, temen saya berbaik hati nelpon dulu. “Lu di rumah ga?” katanya. “Iye, di rumah, kenapa?” saya jawab, katanya lagi, “oh, gua depan rumah lu ni”. Hue, harusnya jangan gitu ah. Sayangnya saya belum punya hati untuk bilang, iya di rumah tapi lagi ga kepengen ditamuin ni. Maunya sih tamunya ngerti sendiri 🙂

Iya lho, dengan kesibukan kita di luar rumah yang segitu bejibunnya, pas nyampe rumah males banget terima tamu. Kecuali mereka yang memang kita undang ya, lain lagi dong ceritanya. Ya budaya timur sih budaya timur ya, harus rajin silaturahmi, tapi buat apa kalo membuat salah satu dari kita jadi merasa nggak nyaman?

Heart Block : Another Novel by Okke SepatuMerah

Tutup tahun ini diwarnai (anjeees ‘diwarnai’!) dengan terbitnya novel dari seorang teman (baik) saya. Teman makan, teman kongkow, teman beraneka project, tapi jelas bukan teman SMS ria, oh dan bukan teman chatting :P.

Beberapa bulan lalu, saya dikirimi draft novel baru ini. Dan aslinya, dari pertama baca, saya nggak bisa berhenti memalingkan mata dari monitor (kan bentuknya masih draft, belum buku), ceritanya mengalir santai, khas Okke. Pemilihan nama selalu jadi hal yang menarik dari semua novelnya. Nama tokoh di buku selalu nggak biasa, tapi juga tidak pernah extraordinary sampai terlihat terlalu ‘dikarang’.

Dan mereka yang suka menulis, baik itu buku atau blog, atau segala macam pekerjaan kreatif, tentunya pasti tersentil dengan cerita novel ini. Saya termasuk salah satu di dalamnya, belum jadi penulis udah writer’s block aja 😛

Dan visual, memang Okke jagonya. Dari sekian banyak novel yang saya koleksi, cover novel Okke memang selalu menonjol. Ya meskipun saya tau, penerbit jadi harus ekstra kerja keras 🙂 Dan cover buku yang satu ini, adalah yang paling keren. Bukan cuma dari novel Okke yang lain, tapi juga dari buku-buku Gagas lainnya. Beginilah kalau penulis bukunya mahluk visual.

The Cover

I you dont judge a book by its cover, then start to judge this one by its cover, you’ll love it !

and you, congrats ya 🙂