Reuni Terus

Pergi ke reuni memang sesuatu yang menyenangkan. Apalagi kalo emang udah lama banget nggak pernah ketemuan, pastinya seru. Reuni yang menyenangkan, justru bukan reuni akbar, tapi reuni antara temen-temen deket aja justru lebih rame biasanya. Yang sering terjadi, reuni-reuni kecil terjadi setelah ada reuni besar. wajar dong kalo kita pengen sekali lagi ketemu dengan temen-temen yang lebih deket.

Meningat reuni, selalu banyak hal lucu dan menyenangkan, termasuk hal yang nyebelin. Ini ada beberapa tips (gila) yang bisa diaplikasikan dengan catatan harus disesuaikan dengan keadaan masing-masing ;

Tips #1

You go to a reunion, you dress your best. Percayalah ada banyak cinta yang tidak terungkapkan di masa sekolah. Mana tau kalo KM dulu naksir berat sama kamu kan? So dress your best, impress those who had a feeling for you, and impress those who never knew you’re cute before. What? you’re married?? Nothing to do with your status, my friend. Even if you’re taken, it feels good to know someone might have a feeling for you.

And dont think its the boys only you have to impress, the girls also !

Tips #2

There’s no use dragging your partner to a reunion. He won’t enjoy it and so do you! I often say you guys need to do your own things. Its not something bad. Not bringing ur partner to a reunion doesnt make you look bad. If it does, well who cares ?

Tips #3

If a friend starts to talk seriously to you and say “gua ada bisnisan baru”. What you should do next is run! Well, i know its impossible to actually run. Keep busy, use your gadget. Dont show any interest, sedikitpun. Believe me, these people always have answer to any rejection.

Tips #4
Dont come too late. But dont come too early too. Make sure there’re some friends see you coming. This is the advantage of dressing your best, no?

Tips#5

Kalo dateng reuni bawa anak, pastikan dia nanti betah, either betah dengan makanannya, atau yang lain. Ini sebabnya memilih tempat reuni dengan peserta yang mungkin bawa buntut akan lebih repot dibanding datang sendiri. Anak-anak kan perlu space bermain yang lumayan luas. In my case, saya mampir dulu beli mainan. Mainan baru selalu menarik perhatian anak, nggak pernah gagal.

Tips#6

Kalau ada diantara temen yang belum menikah, nggak usahlah ngotot nanya-nanya kenapa belum menikah. Buat mereka yang memang pingin segera menikah tapi tak kunjung dilamar, pertanyaan ini bisa jadi sangat menyakiti dan buat mereka yang memang nggak mau atau belum mau menikah, kamu bisa jadi sangat menyebalkan.

Hal sama berlalu mengenai anak. Ada pasangan yang belum punya anak, ya nggak usah dong ditanya-tanya kapan punya anak. Lebih nggak usah lagi ngasih2 tips nggak guna supaya ‘tokcer’. Punya anak itu kan bukan pencapaian, siapa tau dia belum punya anak tapi hidupnya lebih happy dari kita, wew 🙂

I got 2 more reunions to go, phew!

Cari Karyawan? Susah!, Cari Kerja? Susah!

Di dalam urusan pekerjaan, saya kebetulan banyak dicurhatin orang soal susahnya cari karyawan. Di urusan pertemanan, banyak juga teman yang curhat betapa susahnya cari kerjaan. Rasanya ada sedikit yang nggak beres, ada yang bilang susah cari karyawan, ada yang bilang susah cari kerjaan.

Tapi beneran, dan sudah umur tahunan saya mendengar hal-hal macam begini. Kerjaan saya menyebabkan saya mau nggak mau ikut mikirin saat orang mencari karyawan dan nggak dapet-dapet. Karena liat sendiri, saya jadi meng-iya-kan bahwa iya ternyata cari orang yang mau kerja atau calon karyawan itu susah. Dan kesulitan cari karyawan ini tentu berdampak langsung sama kelangsungan usaha. Gimana mau jualan kalo karyawan nggak ada.

Secara nggak langsung, ini berpengaruh ke kinerja saya. Jadi secara nggak langsung pula saya gemes beneran kalo nyari karyawan aja nggak dapet-dapet. Lah katanya ada banyak orang yang susah cari kerja kan? Tapi saat butuh, dapet aja susah.

Saya kemudian mencari tahu sambil mengamati pula. Ternyata sebetulnya cari karyawan itu nggak susah kok. Tinggal titip aja sama temen. Biasanya ada beberapa orang yang kerjaannya memang cocok jadi bursa tenaga kerja, stok nya banyak bener. Dari adik, sepupu, tetangga, semua cari kerja. Kalau perlu karyawan, hubungi aja dia, mau laki-laki, mau perempuan, siap stok nya, banyak. Dan harusnya nggak usah khawatir karena kan dapet dari kenalan. Ada sedikit harapan bahwa si calon karyawan kelak tidak akan macam-macam secara dapet kerjaannya dengan unsur kekeluargaan dan harusnya nggak enak kalo bikin macem-macem. Ternyata yang susah bukannya cari karyawan. Tapi susah cari karyawan yang cocok dan pas. Kata siapa cari pacar aja yang susah? Nih buktinya, cari karyawan aja susah bok, harus cocok. harus pas. Belum lagi kalau ada kriteria lain seperti berpenampilan menarik segala.

Tapi kemudian saya mendapati bahwa si pencari kerja biasanya berubah 180 derajat sesudah menemukan kerjaan yang selama ini dicari-cari. Kata-kata macam “Mau kok kerja apa juga” dan “Nggak masalah gajinya kecil dulu, asal punya pemasukan” mendadak menguap hilang entah kemana. Nggak tau juga kalo pengucapnya yang tiba-tiba amnesia dan nggak ingat sama sekali sama ucapannya sendiri.

Contoh ya, ini kejadian nyata. Tidak direka-reka dan tidak dikarang. Seorang Bapak mencari karyawan untuk di counter makanan punyanya. setelah dapat, jauh-jauh dari Cirebon, si Bapak pun semangat mengirimkan ongkos perjalanan buat calon karyawan supaya tiba dengan mudah dan selamat ke tempat kerjaan di Bandung. Sampai di Bandung sore hari, baru sempet briefing singkat mengenai pekerjaan yang menanti esok harinya. Tau-tau, besok pagi, di saat harus pergi ke tempat kerjaan, si calon karyawan tiba-tiba urung. “Saya teringat terus ayah saya di kampung. Tadi malam tidak bisa tidur memikirkan ayah saya”, begitu katanya. Hari pertama bekerja lenyap tak berbekas, bahkan belum sejenak pun dimulai. Jangan bayangkan si calon karyawan ini gadis lugu berambut panjang yang kalo di kota namanya ‘anak papi’ ya. Kita ngomongin seorang pemuda yang naik angkot dari Cirebon dengan sepatu Converse versi tiruan, pake topi dan ikat pinggang dengan aksen paku-paku dan dompet dengan rantai besi yang dicantolkan ke ikat pinggangnya. Hari itu dia melewatkan kesempatan kerjanya karena ‘rindu ayah di kampung’.

Contoh lain seorang Ibu berjualan nasi soto. Dalam rangka membuka cabang baru, dia mencari calon karyawan untuk menunggui counternya. Mau perempuan ah, katanya. Supaya nggak terlalu bandel dan lebih bisa diaatur. Baiklah, si bursa tenaga kerja menyanggupi. kebetulan adik ipar saya sudah selesaai sekolah berbulan-bulan lalu dan belum dapat kerja. Voila! pencari kerja bertemu dengan pencari tenaga kerja. Ideal kan ? Satu-dua hari bekerja, si karyawan menunjukkan sikap yang cukup baik. Hari ketiga dan keempat pun dilalui dengan mulus. Sampai hitungan minggu. Satu saat, saya complain kepada si ibu pemilik counter. Pasalnya itu hari minggu saat harusnya food court ramai, ini counter kok malah tutup, sampai jam 12 siang belum ada tanda-tanda buka. Tanya punya tanya, ternyata si karyawan nggak datang sama sekali. Dapur masih dikunci, dan dagangan sama sekali tidak disiapkan. Rupanya entah jenuh atau memang nggak mau lagi mengerjakan kerjaannya, si karyawan memutuskan untuk nggak masuk kerja hari itu, dan tidak ijin sama sekali. “Kalau bilang sama Ibu, takut ga boleh”, begitu katanya. Tanpa sedikitpun berpikir bahwa bekerja di tempat makan di pusat perbelanjaan, hari sibuk ya tentu hari libur.

Contohnya sih cuma 2. tapi dari situ kita bisa melihat bahwa sebetulnya mencari kerja toh tidak susah-susah amat. Namanya pekerjaan kan akan selalu ada. Baik buruknya, bisa kita pikirkan kemudian. Cocok atau tidaknya tentu juga bisa menjadi pertimbangan selanjutnya. Tapi yang namanya jalan, selalu ada. Mau ngomel terus susah dapat kerja? atau mau mengambil keputusan yang ada depan mata dulu sambil menunggu kesempatan yang lebih baik datang?

Dan Saya Pun Terkesima



Hari ini di luar dugaan saya ketemuan sama seorang bapak yang usaha makanan di Bandung. Kalo aja saya sebutin usahanya, kayaknya se-Bandung tau semua deh. Sebetulnya sama si bapak ini kenal udah lumayan lama berhubung juga ada hubungan kerjaan.

Usahanya berkembang cukup pesat 3 tahun terakhir ini. Counternya ada dimana-mana. Penampilan si Bapak sama aja seperti waktu saya pertama kali melihatnya, 15 tahun lalu ketika saya duduk di bangku SMP. Bedanya dulu beliau melayani sendiri pelanggannya, saat ini beliau sibuk berkeliling ke counter-counter miliknya untuk sekedar anter barang dan control.

Penampilannya nggak terlalu bersih, selalu berjaket karena kemana-mana naik motor. Padahal usahanya laku luar biasa. Di tempat saya aja, omzetnya selalu nomer 1 melebihi tenant-tenant yang lain. Anaknya katanya 4 atau 5 orang, saya lupa. Yang saya kenal cuma 1, perempuan usia masih kuliah, tapi saya nggak tau apa dia kuliah apa enggak. Penampilan si anak juga cenderung lusuh, kalo kerja melayani pelanggan, sama sibuk dan sama kucelnya sama karyawannya. Sekali waktu saat hujan, saya berdiri di halte menunggu taxi, tiba-tiba dia muncul dengan sendal jepit dan celana jeans yang digulung sampai lutut, bawa payung dan naik bis. Saat itu aja saya udah sedikit merasa malu. Saya yang cuma karyawan aja nggak mau naek bis karena khawatir kehujanan di jalan saat turun, takut sepatu Charles & Keith saya basah. Dan khawatir Blackberry saya dicopet orang. Perempuan itu, yang bapaknya pengusaha sukses itu berlalu dengan bis yang tanpa AC persis di depan muka saya.

Saat ngobrol sama saya tadi, si Bapak ini cerita mengenai usahanya. Semua jelas dibangun dari nol. Dengan tangannya sendiri dia melayani semua pelanggan. Saya saksinya. Jangan lupa. saya pelanggan setia sejak SMP dulu. Modalnya nggak terlalu besar kok, katanya, biasa aja. Kalau sekarang counternya sudah dimana-mana, toh berhasil karena ditekuni dengan baik dan mengelola cash flow dengan cara yang benar-benar apik. Nggak merasa perlu punya mobil, cukup naik motor saya, toh kemana-mana sendirian, istri kan di kampung, katanya.

Kemudian beliau berkisah tentang waktu pensiunnya yang semakin dekat. Anak-anak sudah saya kasih bekal untuk masing-masing punya usaha berjualan. Saya sebentar lagi akan pensiun. Tapi saya nggak mau diam saja, saya lagi cari petak-petak tanah kecil untuk buka pangkas rambut. Biayanya nggak besar, tinggal cari orang yang bisa pangkas rambut, bagi dua hasilnya, selesai. Saya nggak perlu belajar mangkas rambut orang kan, katanya. Juga nggak perlu belanja setiap hari seperti usaha makanan. Pangkas rambut memangnya mau belanja apa sih?

Saya terkagum dengan pemikiran sederhananya. Sementara saya sibuk memikirkan usaha apa yang pasti laku dan bikin langsung kaya, bapak ini muncul dengan ide sederhana yang masuk akal.

Anak-anak semua saya bekali untuk memulai usaha, katanya. Termasuk anak-anak perempuan juga Bu, beliau bertutur. Supaya kalau suatu waktu nanti saya bertamu ke rumahnya, saya bisa duduk dengan enak dan tenang. Ga merasa bersalah karena kursinya menantu yang beli. Dibuatkan kopi dan sesekali makan siang pun hati tenang, bukan cuma menantu yang punya andil. tapi anak saya pun ikut punya bagian di rumah itu. Saya sebetulnya sedikit kurang setuju dengan pahamnya. Buat saya menikah itu kan menjadikan semuanya milik bersama, berat amat beban orang tua kalo berpikir seperti itu. Tapi saya mengambil cerita ini dari sisi yang lain. Si bapak pengusaha ini ingin anak-anaknya semua juga bisa punya usaha yang baik dan ga bergantung 100% pada suaminya masing-masing. Ini hebat.

Si bapak kemudian juga bercerita, di kampungnya dia bercocok tanam, cabe rawit, jahe, lengkuas, dll. Supaya nggak usah ke warung dikit-dikit, katanya. Jadi di kampung bisa makan sehari tiga kali tanpa harus keluar uang, keren. Disini, mau ngunyah keripik pedes aja keluar uang belasan ribu 🙂

Ngga cukup segitu, beliau cerita juga kalau mencoba menanam kayu. Sekarang sih bukan apa-apa, katanya. Tapi nanti, 20 tahun mendatang, kalau rumah saya sudah jelek, saya sudah punya bahan kayunya, tinggal cari tukang dan nambah-nambah beli bahan yang kurang.

Saya terkesima.

There it Goes

Si waktu memang tidak pernah kompromi. Tau-tau satu tahun berlalu dan saya udah ulang taun lagi aja. 31 tahun hari ini.

Dan entah kenapa, kali ini saya ngga punya keinginan untuk merayakan dengan sesuatu yang istimewa, makan malam keluarga misalnya. Tadi pagi mama saya udah tanya2 mau makan keluar atau masak di rumah. Saya berpikir sejenak, kemudian memutuskan untuk pergi fitness saja sepulang kerja nanti. Tidak perlu ada perayaan apa-apa, karena saya sedang tidak ingin. Kebetulan suami juga punya kegiatan yang ngga bisa ditinggal hari ini, maka saya akan merayakan ulang tahun istimewa ini dengan mesin treadmill saja :).

Banyak kali, sebaiknya kita nggak ribut pengen yang istimewa, untuk saya, melakukan apa yang saya mau, adalah yang istimewa justru.

Meskipun awal tahun sedikit demi sedikit berlalu tanpa resolusi berarti, dalam hati saya tau apa yang saya mau. Banyaknya rencana dan harapan masih bergelantungan. Tidak ada mimpi yang lebih besar kecuali untuk membuatnya menjadi nyata satu per satu nanti. Tunggu saja.

Lalu saya berpikir apa yang sudah saya punya ketika menginjak umur 31 ini. Wah, awal tahun ini begitu banyak berkat yang dicurahkan untuk saya dan keluarga. Sementara melihat ke kiri dan ke kanan, saya bersyukur betul, kami, keluarga besar masih bisa bersama-sama terus meskipun waktu untuk berkumpul kian mahal harganya.

Katanya memang jangan pernah menakar dan mengukur berkat yang sudah disiapkan untuk kita. Saya tahu betul itu. Karena di perjalanan saya ini, begitu banyak berkat yang sungguh di luar dugaan, di luar perkiraan, dan di luar perhitungan saya.

Dan diluar semuanya itu, saya bersyukur punya kamu disini. Tetaplah disini, supaya hari-hari ini nggak cuma berasa normal, tapi selalu istimewa di setiap hadirnya.

Happy birthday, me

Namanya Skala Prioritas

Ada banyak hal yang sedang berseliweran di dalam kepala saya. Hal berupa rencana, maupun sekedar angan-angan. Dari yang memang penting, sampai ke yang nggak penting alias biasa-biasa saja. Dari yang harus terjadi sampai ke yang tertoleransi bilapun tidak terjadi pada akhirnya.

Sebagian adalah mimpi saya sejak lama. yang sebagian lagi baru saja terpikir barusan, tapi toh cukup mengganggu.

Tidak ada jalan di muka bumi ini yang memungkinkan semuanya berjalan bersamaan sesuai kepengen saya.

Saya bisa mengambil setengah langkah mundur (bahkan tidak satu langkah), untuk melihat kembali bagaimana saya sebaiknya menyusun semua ini hingga kelak semuanya bukan cuma sekedar mimpi dan angan, tapi ada dalam genggaman saya.

Sebentar, saya sedang melihat dari belakang. Lalu saya akan mengambil langkah yang kata orang-orang sih namanya Skala Prioritas.

Nggak bisa semua-mua jadi nyata dalam waktu yang bersamaan. Satu-satu ya, yang sabar. Kelak kita buat nyata semuanya. Dan kita tahu saya bukan cuma sedang bermimpi.

Mannna Personal Touch nya? :P

Berapa belas tahun lalu, menjelang Natal saya selalu sibuk memilih kartu Natal. Membeli kartu Natal yang di pack masing2 dua belas buah, meskipun lebih murah, sama sekali tidak pernah jadi pilihan saya. Saya menikmati memilih kartu yang berbeda untuk setiap teman saya. Sesuai kesukaan mereka, atau setidaknya sesuai yang saya ‘kira’ mereka suka.

Setelah SMS menjadi barang yang sangat umum, saya akui saya tidak pernah lagi membeli kartu natal. Kirim SMS cepet cong, murah lagi ☺ apalagi sekarang, sekali kirim 6 SMS di pagi hari, udah gratis aja 300 SMS selama siang dan sore nya. Biar kata provider suka ngadat-ngadat jadi lambat dengan alasan pemakaian over juga, tetep aja kirim SMS. Biar kata telat, yang penting nyampe. Setelat-telatnya SMS tetep aja lebih cepet dari kartu Natal atau kartu pos.

Di jaman facebook mulai menjadi bagian dari gaya hidup (I do sound like a wartawan lifestyle ya), ngucapin selamat Natal dan selamat-selamat lainnya, jadi lebih gampang lagi. Tinggal klik-klik-klik, langsung deh nyampe. Buat pemakai BlackBerry malah lebih gampang, tinggal tulis pesan, send to all. Beres deh. Eh adalagi Twitter, gampang juga, tinggal “merry christmas ya cin”, beres deh. Berapa tahun belakangan saya agak kurang sreg dengan kirim-kiriman sms yang bentuknya standard alias template alias tulis satu, kirim ke semua. Sudah hampir 3 tahun ini, saya selalu membuat SMS baru untuk dikirimkan ke teman-teman. Semua dilengkapi dengan nama mereka masing-masing supaya pada tau kalo itu bukan SMS template. Saya juga menyisipkan pesan pribadi, misalnya salam ya buat laki dan anak lu, atau salam ya buat Ibu dan Bapak, ya apa ajalah yang membuat SMS itu memang saya buat khusus buat dia dan bukan SMS template.

Tahun ini, Facebook diramaikan dengan badai Blingee. Beberapa teman sempet mencak mencak di Twitter karena kesel dengan hebohnya si Blingee itu. Saya termasuk diantaranya, setiap buka profile saya di FB, yang ada cuma si Blingee itu berjejer sampe berapa halaman, super sebal. Saya memang menerima banyak ucapan yang asalnya dari aplikasi macam itu. Dan jujur, membuat sebal. Bukannya ga terima kasih ya. Tapi personal touch nya udah ilang sama sekali tuh. Boro-boro pengen bales, jangan2 mereka juga ngga inget udah kirim ke siapa aja, tinggal klik soalnya.

Jadi kalo dibandingin dengan ritual memilih kartu dulu itu, wah tingkatannya jauh bener ya. Memang iya sih, kehidupan sekarang kan berputar lebih cepat dan kesibukan masing-masing udah segunung aja. Tapi buat saya, personal touch dalam setiap greeting itu perlu lho. Biar kata telat ngucapin, tapi kalo pesannya personal. Lebih enak aja bacanya.

Mau Namu Jangan Bikin Kesel

Jadi siang hari ini, di sela-sela kesibukan saya sebagai ibu menteri yang nggak ada habis habisnya itu, saya berkesempatan makan siang sama si penulis kondang, yang berbaik hati mengantarkan novel terbarunya, Heart Block ke kantor saya. Gratis, sodara-sodara! dan di dalemnya ada tulisan personal yang sempat membuat hati tersobek-sobek 😛

Baru aja duduk dan belum sempet makan, tiba-tiba seorang pemuda barbaju hitam-hitam menghampiri kami dan menawarkan voucher  masuk ke sebuah club yang lumayan (pernah) terkenal. Saya kontan menolak, tapi si pemuda dengan wajah memaksa menawarkan voucher tersebut. Ini gratis, katanya, dari harga 200 ribu, hari ini cuma 60ribu. Belum apa-apa saya udah sebel duluan, katanya gratis kok jadi 60ribu sih? Saya masih ramah dan mencoba menolak, “nggak mas, kita nggak pernah ke tempat gitu”. Eh si mas makin menjadi dan memaksa untuk bercerita soal tempat kerjanya itu. Saya pun memaksa menolak, dan si mas itupun berlalu dengan muka ASEM.

Bok, gini ya, sering nggak sih ditawarin barang, trus pas kita nolak, mukanya langsung asem. Kalo saya sih sering punya pengalaman beginian dengan SPG kosmetik atau parfum. Pas nawarin barang manis bener, pas kita nolak, mukanya langsung setelan asem. Belakangan saat semua barang dipaksa ditawarkan door to door atau person to person kayak tadi, ya jadi ebrkembang dari kosmetik dan parfum ke barang-barang lain.

Kalo udah gitu saya akhirnya suka sebel. Tadinya sih kalo ada yang nawarin gitu, saya suka kasihan. Inget cari uang memang susah, sebagian dari kita memang harus sampai berkeliling seperti itu nawarin barang dagangannya. Yang saya yakin, mungkin ga semua juga dari mereka menikmati pekerjaannya itu, kali mereka juga beban banget menghampiri orang dan menawarkan sesuatu. Mending kalo jadi dibeli, lah kalo ditolak? Saya sih nolaknya masih halus (tapi tegas). Saya yakin aja, pasti ada juga tuh yang nolaknya judes. Harusnya sih kalo memang berprofesi untuk nawar2in barang sama orang asing, pada saat ditolak, ya tetep dong jaga air mukanya tetap ramah. Kalo ditolak trus mukanya langsung asem, ya kita jadi sebel kan. Namanya resiko pekerjaan ya. Saya juga sama kok, sering ditolak orang dalam hal pekerjaan

Sepergi si mas itu tadi, saya melanjutkan ngobrol-ngobrol lagi. Sekali ini, kami berhasil memasukan satu porsi sop betawi dan saya nasi pepes tanpa gangguan apapun. Haleluya. Di saat makanan sudah habis dan tinggal tersisa beberapa penggal waktu untuk mengobrol lagi, tiba-tiba seorang bapak-bapak yang kebetulan ada hubungan kerjaan dengan saya datang dan ‘memaksa’ duduk dengan kami. “Lagi ngobrol bisnis?”, katanya. Saat saya jawab enggak, si bapak pun senang dan langsung duduk bergabung bersama kami dan kemudian bercerita mengenai ini-itu yang jelas, self centered.

Saya seringkali nggak bisa berkata enggak, apalagi seperti saya bilang tadi, si bapak ini punya hubungan kerjaan sama saya. Tapi saya sungguhan berharap orang-orang berhenti berbuat begitu. I mean, berhenti untuk tiba-tiba tau-tau bergabung dengan orang lain dan ikutan nimbrung. Saya memang nggak lagi ngobrol soal bisnis. Urusan bisnis memang jadi obrolan, tapi memang sudah selesai sebelum si bapak datang. Tapi emangnya yang penting itu cuma ngobrol bisnis aja ya ? Suka pada ngga tau kalo obrolan antar teman, apalagi seperti saya dan si teman yang waktu ketemunya susaaaah banget itu juga termasuk penting, hey. Akhirnya dengan isyarat-isyarat, kami pun terpaksa meninggalkan meja dan berdalih harus pulang. Padahal kala itu, obrolan lagi seru tapi karena ibu mentri ini harus kembali bekerja, maka usailah sudah ngobrol-ngobrol seru itu.

Saya jadi juga terpikir mengenai kebiasaan orang orang yang suka tiba-tiba muncul namu di rumah. Ini beberapa kali saya alami. Tau-tau rumah saya diketok, dan ketika ngintip via jendela, seorang teman datang. Buat saya untuk hal-hal seperti ini, sebaiknya kita mengadaptasi kebiasaan-kebiasaan di barat sana. Kalo mau namu, ya telpon dulu dong, dan tanya dulu, apakah kita sedang dalam keadaan bisa ditamui apa engga. (ehm, ditamui bahasa apa sih bok?)

Soalnya gini ya, saya ini kan orang kerja. Pas sampe rumah, pengennya ya leyeh leyeh, pake celana pendek, pake tanktop, dan rambut diiket abis. Sementara namanya terima tamu, kan harusnya ngga berkostum seperti itu. Sekali waktu, temen saya berbaik hati nelpon dulu. “Lu di rumah ga?” katanya. “Iye, di rumah, kenapa?” saya jawab, katanya lagi, “oh, gua depan rumah lu ni”. Hue, harusnya jangan gitu ah. Sayangnya saya belum punya hati untuk bilang, iya di rumah tapi lagi ga kepengen ditamuin ni. Maunya sih tamunya ngerti sendiri 🙂

Iya lho, dengan kesibukan kita di luar rumah yang segitu bejibunnya, pas nyampe rumah males banget terima tamu. Kecuali mereka yang memang kita undang ya, lain lagi dong ceritanya. Ya budaya timur sih budaya timur ya, harus rajin silaturahmi, tapi buat apa kalo membuat salah satu dari kita jadi merasa nggak nyaman?

Heart Block : Another Novel by Okke SepatuMerah

Tutup tahun ini diwarnai (anjeees ‘diwarnai’!) dengan terbitnya novel dari seorang teman (baik) saya. Teman makan, teman kongkow, teman beraneka project, tapi jelas bukan teman SMS ria, oh dan bukan teman chatting :P.

Beberapa bulan lalu, saya dikirimi draft novel baru ini. Dan aslinya, dari pertama baca, saya nggak bisa berhenti memalingkan mata dari monitor (kan bentuknya masih draft, belum buku), ceritanya mengalir santai, khas Okke. Pemilihan nama selalu jadi hal yang menarik dari semua novelnya. Nama tokoh di buku selalu nggak biasa, tapi juga tidak pernah extraordinary sampai terlihat terlalu ‘dikarang’.

Dan mereka yang suka menulis, baik itu buku atau blog, atau segala macam pekerjaan kreatif, tentunya pasti tersentil dengan cerita novel ini. Saya termasuk salah satu di dalamnya, belum jadi penulis udah writer’s block aja 😛

Dan visual, memang Okke jagonya. Dari sekian banyak novel yang saya koleksi, cover novel Okke memang selalu menonjol. Ya meskipun saya tau, penerbit jadi harus ekstra kerja keras 🙂 Dan cover buku yang satu ini, adalah yang paling keren. Bukan cuma dari novel Okke yang lain, tapi juga dari buku-buku Gagas lainnya. Beginilah kalau penulis bukunya mahluk visual.

The Cover

I you dont judge a book by its cover, then start to judge this one by its cover, you’ll love it !

and you, congrats ya 🙂

Natal. Tahun Ini

Postingan dibuka dengan helaan napas panjang karena tanpa sadar saya serasa dilangkahi waktu. Tahun ini berlalu dengan saat cepat, super. Belum apa2 tau-tau udah tengah taun, belum apa2 tau-tau Biyan umurnya 2 taun aja. tau-tau udah mau Natal, dan blast! 2009 nya abis deh.

Sama seperti tahun lalu, Natal kali ini buat saya (masih) belum terasa aroma religiusnya. Yang terasa saat ini cuma ricuh beli kado Natal, dan juga ditambah kerjaan yang, ya ampun, berantakan. Too many things to do, waktu dan mood cuma tinggal sejengkal. Alhasil ga nyampe kemana-mana.

Tahun ini, saya memposisikan diri untuk tidak terlalu terlibat dalam acara-acara keluarga. Baik keluarga saya maupun keluarga tetangga. Keluarga suami, maksudnya. Tahun ini rasanya ingin sekali boleh egois, doing my things, what I like, what I want. Memutuskan untuk tidak datang ke ritual keluarga seperti tahun tahun sebelumnya. Kalau boleh jujur sedikit, ada banyak ini itu yang membuat saya merasa kumpul keluarga di hari Natal menjadi tidak lebih dari sekedar kumpul-kumpul aja. Dan tahun ini, saya tidak mau melakoni itu semua. Tahun ini saya mau melakoni skenario saya sendiri.

Di sisi lain, saya merasakan peran yang begitu besar dari teman-teman. Sejak dulu, saya memang suka ‘mengagungkan’ peran teman dalam setiap sisi kehidupan saya. Di saat susah, saat sedih dan saat suka, ada teman yang selalu menyertai. Terutama tahun ini.

Saya kemudian merancang beberapa christmas dinner bersama beberapa teman dekat. Yang sudah 100% jadi, saya bakal makan malam bersama seorang teman baik dari jaman SMA. Anaknya hampir seumur Biyan. To make it merrier, kami merencanakan tuker kado untuk anak-anak. Cuma kami berenam saja, dia dengan suami dan anak, begitupun saya. Selain itu, via twitter saya juga mengundang seorang sahabat lama to have at least a decent christmas dinner. Gonna be fun. Without agenda, without any omel-omel or manyun-manyun. Can’t wait !

Sementara itu kehidupan rohani saya sama sekali tidak bergerak ke arah yang lebih baik. Saya juga tidak mau memaksakan diri terlalu keras. Mari berjalan saja dan lihat kemana kehidupan ini mengarah. Yang penting saya sama sekali tidak punya niat jahat menyakiti siapapun yang ada di sekitar saya. Terlalu sering saya melihat mereka yang mengarahkan hidup ke arah vertikal dan tidak mengimbanginya dengan menjalin hubungan baik dengan mereka yang bersejajaran horizontal dengannya. Terlalu sering saya mendengar ini itu di gereja, tapi diluar gereja, uhm, well… Hari ini apdet status katanya lagi di gereja, tapi besok ketemu manyun pura-pura nggak kenal :). Hari ini apdet status ayat alkitab, besoknya becandaan jorok, ha !

I’m not proud of being not so much into christianity. Tapi buat saya, ada hal yang juga perlu dijalin, hubungan dengan kiri dan kanan kita. Sumpah deh, bikin eneg kalo bolak balik ke gereja tapi semua orang dimusuhin. Memang mainnya sama malaikat apa ? 🙂

Ah well, saya sudahi saja, daripada nyinyir-nyinyir ga jelas. Merry christmas to you all, may the blessing of christmas be with you and whole family.

kita

i’m never good enough to write sweet things about love

i’m afraid it will be cheesy and then you dont like it at all

or then i will hate what i write and then regret it

all i want to say is just that

i’m missing you so much

so much i can’t take it anymore