Ada Baiknya Tidak Merasa Semua Rasa

Saya adalah orang yang sangat perasa, tapi bukan modelan yang gampang tersinggung, lebih ke yang segala macem dirasa. Hal-hal kecil yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari bisa membuat saya merasa banyak hal, dari yang manis, yang pahit, yang menyenangkan, yang menyebalkan, yang membuat menangis baik itu air mata beneran sedih atau air mata bahagia.


Dengan bertambahnya umur rasa merasa ini bertambah gawat. Saat usia saya 30an saya nggak pernah merasa yang namanya mood swing saat PMS. Sekarang? PMS nya 2 minggu, pasca period-nya 2 minggu lagi. Artinya sebulan penuh saya mood swing terus-terusan. Baca berita sedih dikit nangis, baca berita korupsi marah banyak-banyak (yang ini sih harus ya biarin aja marah-marah), denger lagu manis berasa berbunga-bunga seperti lagi jatuh cinta, denger lagu patah hati, seperti ikut serta patah hati, tak jarang bahkan ikut nangis dikit.

Demikian pula dengan rasa senang. Hal-hal kecil yang tadinya biasa aja sekarang membuat dada saya berdegup sedikit kencang karena senang. Jalanan pulang yang kosong membuat hati saya senang, coffee shop yang kopinya enak baristanya baik dan adem membuat saya riang. Bahkan makanan enak nyaris membuat saya berdendang.

Bagian senangnya saya sungguh tak apa-apa. Tapi bagian sedihnya sungguh membuat susah.

Saya merasa saya terlalu banyak merasa. Dan ini melelahkan.

Leave a comment