Monthly Archives: December 2016

2016, Kamu Brengsek!

Begitulah yang terus menerus saya dengar terutama menjelang akhir tahun ini. Selain brengsek, 2016 juga dianggap banyak bawa sial, bawa susah dan banyak yang tak sabar agar dia segera berakhir. Meninggalnya Carrie Fisher yang membuat nyaris semua orang di timeline (path & twitter terutama) sedih ternyata nggak cukup untuk membuat 2016 menjadi beneran brengsek. Karena tak lama kemudian Debbie Reynolds, ibunya Carrie meninggal pula karena katanya saking sedihnya.

Nggak cukup, George Michael, penyanyi kesukaan saya sejak kecil juga meninggal di 2016. Mendengar Careless Whisper dan Faith tak lagi terasa sama. Nggak tanggung-tanggung, meninggalnya pas Natal pula, lagu Last Christmas ternyata beneran Last Christmas untuknya.

Nggak cuma yang meninggal-meninggal, timeline Twitter super nyebelin pula di taun 2016. Pilkada DKI yang kemudian beritanya diteruskan dengan berita-berita sentimen agama, sentimen ras, intoleransi, kekerasan, pembunuhan, perampokan. You name it. Apa yang 2016 nggak punya? Semua ada. Gempa, banjir, Aleppo, Dian Sastro potong rambut pendek tapi tetep cantik aja, Keenan Pearce punya pacar baru. Apalagi?

Continue reading

18 Comments

Filed under Buku, Cinta, Family, Just a Thought, life, Saya, Saya, dan Saya

Lasem : Menelusuri Kisahnya Dalam Satu Hari

fullsizerender

Begitulah yang tertera di sebuah tembok yang kami temui di Karangturi, Lasem, Kabupaten Rembang. Menurut Pak Ramelan, guide kami hari itu, warga asli Lasem memang banyak yang sudah hijrah ke kota-kota besar seperti Semarang, Jakarta, Surabaya dan lain-lain tanpa menjual rumah peninggalan keluarganya di sana. Alhasil ada banyak rumah tua yang ditinggalkan hanya dengan penunggunya saja. Penunggu ini adalah orang-orang yang sudah bekerja pada pemilik rumah selama bertahun-tahun. Pemilik rumah menolak menjual rumahnya karena mereka percaya bahwa keberadaan rumah inilah yang membuat mereka berhasil dalam usaha-usahanya.

Continue reading

30 Comments

Filed under life, Makan Minum, Saya, Saya, dan Saya, traveling

Toleransi yang Teori Bukan yang Praktek

Malam itu, 4 November 2016 saya sedang ada di Bali, dan anak saya satu-satunya si Biyan ada di rumah, di Bandung. Suasana berlibur saya diwarnai dengan intip-intip timeline twitter dan berita-berita seputar aksi (katanya) damai yang terjadi di Jakarta selepas salat Jumat. Lepas maghrib, berita-berita  mulai mencekam. Aksi (katanya) damai kemudian dimanfaatkan orang-orang tak bertanggung jawab untuk melakukan kejahatan dan tindakan kriminal di jalanan dan sempat terlintas kabar bahwa sayangnya (lagi-lagi) bawa-bawa urusan etnis Cina.

Continue reading

33 Comments

Filed under Cinta, Family, Friends, Saya, Saya, dan Saya