Monthly Archives: September 2015

Mengajak Anak 8 Tahun Bicara Soal Kematian

Di umurnya yang baru 8 tahun, Biyan sudah cukup banyak mengalami ditinggal selama-lamanya oleh orang-orang dekat di sekitarnya. Diawali dengan meninggalnya ayah saya 6 tahun lalu, kemudian kakek saya, lalu nenek saya, dan yang terakhir yang baru saja meninggalkan kami semua adalah ibu mertua saya, ompung borunya Biyan. Baik ayah saya, kakek-nenek saya, juga ibu mertua saya adalah orang-orang yang memandang Biyan sebagai seorang anak yang istimewa. Semasa hidupnya, ayah saya menyayangi Biyan dengan cara yang membuat saya terheran-heran, kakek-nenek saya juga. Waktu baru melahirkan saya bahkan sempat tinggal di rumah mereka selama 3 bulan supaya mereka bisa melihat Biyan kapan saja. Cucu pertama untuk ayah saya, buyut pertama untuk kakek-nenek saya. Bayangkan betapa istimewanya anak lelaki ini di mata mereka. Untuk Ompungnya? Wah jangan ditanya lagi. Biyan memang bukan cucu pertama, tapi ke sembilan. Tapi Biyan adalah cucu pertama dari anak laki-laki yang artinya akan meneruskan marga, penting untuk keluarga.

Waktu ayah saya meninggal, Biyan baru berusia 2 tahun, tentu saja nggak ngerti, meninggal itu apa sih. Melihat kakeknya di dalam peti :

“Aki lagi apa itu?”

“Akinya sudah meninggal, Nak”

“Meninggalnya sampe jam berapa?”

Tapi waktu kakek-nenek saya meninggal, kemudian ompungnya juga, Biyan sudah cukup besar untuk mengerti bahwa meninggal artinya dipisahkan dari yang hidup tanpa batas waktu, tak akan bertemu lagi selama-lamanya. Semakin besar dia semakin mengerti arti kehilangan, waktu ompungnya meninggal, kami kesulitan menghentikan tangisnya.

Di sela obrolan sehari-hari, saya sering mendengar orang-orang di sekitar Biyan bilang “ompung sekarang sudah di surga, ketemu kongcoh dan macoh, juga aki”. Oh, kongcoh dan macoh adalah panggilan Biyan pada kakek nenek saya. Agak sulit buat Biyan untuk mengerti konsep ini karena saya tidak pernah mengajari soal konsep surga dan neraka. Tapi Biyan nggak pernah membantah, saya hanya menangkap keningnya sedikit berkerut tanda tak setuju.

Satu pagi di jalan menuju sekolah saya tanya “Biyan percaya nggak kalau orang yang sudah mati itu sekarang ada di surga?”. Bingung anaknya.

Saya mencoba menjelaskan dengan bahasa sederhana yang saya yakin dia akan mengerti. Saya jelaskan bahwa secara pribadi, saya tidak terlalu memikirkan ada dimanakah orang-orang yang sudah meninggal sekarang. Jadi saya terangkan begini.

“Orang yang sudah mati itu, artinya hidupnya selesai. Selesai, tidak ada lagi, tutup, habis, finish”

“Artinya?”

“Iya, kalau mati, sudah selesai hidupnya, nggak ada apa-apa lagi. Seperti Biyan waktu belum lahir dulu. Waktu belum lahir, kan hidupnya nggak ada, ada sih di perut mama, tinggal nunggu keluar aja. Tapi sebelum itu, nggak ada Biyan di dunia ini, belum ada. Sama seperti yang meninggal, saat mati dia langsung nggak ada”

Kemudian anaknya bilang gini,

“Kok aku jadi takut?”

“Takut apa?”

“Takut mati”

“Nggak usah takut mati”

“Kalau nanti Biyan mati, Biyan sama siapa? Nggak sama-sama Mama lagi”

“Iya, kalau mati kan sudah selesai, ya hidupnya, ya perasaannya, jadi nanti kalau sudah mati, Biyan nggak akan merasakan yang namanya takut lagi, kan hidupnya sudah selesai”

Trus anaknya nangis

“Lho kenapa nangis?”

“Aku kan masih kecil kenapa diajak ngomong kayak ginian?”

Kalau sudah gini jadi mamanya yang salah, hehe. Iya sih udahnya saya juga mikir, berat amat pembahasan di jalan menuju sekolah pagi itu.

3 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Hidup Kok Digeneralisasi

Kalau boleh, saya ingin mengibaratkan hidup belakangan ini seperti meja prasmanan di undangan kawinan. Atau undangan khitanan, atau undangan ulang taun, terserah undangan apa karena bukan itu inti permasalahannya.

Pernah nemuin makanan yang nggak enak di meja prasmanan kan? Kalau makanan nggak enak ini ada di urutan pertama, dan sempat kita cicip sebelum menuju ke urutan selanjutnya, maka sangat wajar kalau kemudian kita menyimpulkan semua makanan yang ada di meja prasmanan itu nggak enak rasanya. Padahal belum tentu.

Hidup saya belakangan terasa seperti itu.

Di kerjaan tentu saja sering nemuin hal-hal yang bikin kesel. Yang bikin kesel biasa siapa aja, teman kerja, job desk, aturan, kebijakan, vendor, partner, bisa apa saja. Sayangnya kemudian saya merasa terlalu banyak hal yang bikin marah. Belakangan saya nggak bisa lagi bedain, apakah memang sepantasnya bikin marah atau sayanya yang gampangan marah

Di sisi kehidupan yang lain selain urusan kerjaan juga begitu, di rumah, di saat gaul sama temen, saat mantengin socmed, selalu ada hal yang bikin kesel. Sayangnya, kadar kekesalannya nambah terus sampai saya merasa terganggu. Kemudian ya saya jadi mikir, ini masa sih semua orang tiba-tiba jadi ngeselin di saat yang bersamaan? Must be something wrong in me, within myself. Saya yang membuat suasana di sekitar saya menjadi nggak enak, menjadi tumpukan kekesalan, menjadi gumpalan amarah yang menggelinding tak ada ujung.

Percaya dan kemudian diingkari orang juga begitu. Sekali diingkari, kita jadi pukul rata bahwa semua kata yang terucap adalah bohong. Padahal belum tentu. Bisa aja karena trauma kita jadi generalisasi. Semua dibilang bohong padahal dari 10 perkataan, yang benar mungkin ada 8. Masih lumayanlah dibanding benernya 5 dustanya 5. Apalagi dibanding benernya 2 dustanya 8.

Kemudian mau sampai kapan membiarkan hidup dikuasai rasa marah seperti ini?

Padahal kata orang, when life gives you lemon, take a glass of tea and enjoy it. Saya suka lupa kalau di ujung meja prasmanan dengan makanan yang kurang enak selalu ada acar, kerupuk dan sambal yang bisa bikin enak. Suka lupa bahwa hidup ini ga melulu soal yang jelek, selalu ada hal baik yang bisa kita temui di saat nggak terduga.

Suka lupa bahwa hidup ini bukan untuk digeneralisasi tapi untuk dijalani.

2 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Terbang Asik Bareng @SingaporeAirID Dengan #FlyPremiumEconomy

Beberapa waktu belakangan ini kebetulan saya lagi sering pergi-pergi. Terbang sini terbang sana, terbang kemana-mana *maunya*. Secara psikologis, kalau sering terbang akhirnya standar terhadap terbang-terbangan ini jadi meningkat tanpa kita sadari. Dulu sih asal bisa pergi, dapet tiket murah langsung tancap. Ga liat-liat fasilitas in flight, asuransi dll dll. Yang penting murah, mari kita berangkat, semudah itu.

Di satu waktu, kebetulan urusan kerjaan, saya harus terbang ke Singapore. Berhubung urusan kerjaan, saya jadi ga ikutan sibuk cari tiket, tau-tau dikirim via email. Pas pergi, woah kerasa banget ya bedanya ternyata. Ga ada lagi berasa kaki kepanjangan karena cabin sempit, dan yang paling penting buat saya adalah nggak ada lagi makanan anyep yang nggak sesuai sama katalog (maklum anaknya laperan).

Continue reading

1 Comment

Filed under Saya, Saya, dan Saya

Biyan Punya Adik??

DSCN0848

Sejak Biyan umur satu atau bahkan kurang dari itu, saya memang nggak pernah berencana untuk punya anak lagi. Di blog ini saya pernah cerita kalau saya ini udah jatuh cinta berlebihan sama anak satu-satunya ini sampe rasanya nggak rela berbagi sayang dan perhatian sama anak lain lagi. Selain itu, pertimbangan sisi finansial dan waktu tik tok tik tok berjalan juga kelihatannya kurang bersahabat buat kami untuk menambah anak. Uang sekolah mahal, kursus ini itu mahal juga, jalan-jalan mahal, tiket pesawat makin mencekik.

Continue reading

16 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya