Monthly Archives: March 2010

Dan Saya Pun Terkesima



Hari ini di luar dugaan saya ketemuan sama seorang bapak yang usaha makanan di Bandung. Kalo aja saya sebutin usahanya, kayaknya se-Bandung tau semua deh. Sebetulnya sama si bapak ini kenal udah lumayan lama berhubung juga ada hubungan kerjaan.

Usahanya berkembang cukup pesat 3 tahun terakhir ini. Counternya ada dimana-mana. Penampilan si Bapak sama aja seperti waktu saya pertama kali melihatnya, 15 tahun lalu ketika saya duduk di bangku SMP. Bedanya dulu beliau melayani sendiri pelanggannya, saat ini beliau sibuk berkeliling ke counter-counter miliknya untuk sekedar anter barang dan control.

Penampilannya nggak terlalu bersih, selalu berjaket karena kemana-mana naik motor. Padahal usahanya laku luar biasa. Di tempat saya aja, omzetnya selalu nomer 1 melebihi tenant-tenant yang lain. Anaknya katanya 4 atau 5 orang, saya lupa. Yang saya kenal cuma 1, perempuan usia masih kuliah, tapi saya nggak tau apa dia kuliah apa enggak. Penampilan si anak juga cenderung lusuh, kalo kerja melayani pelanggan, sama sibuk dan sama kucelnya sama karyawannya. Sekali waktu saat hujan, saya berdiri di halte menunggu taxi, tiba-tiba dia muncul dengan sendal jepit dan celana jeans yang digulung sampai lutut, bawa payung dan naik bis. Saat itu aja saya udah sedikit merasa malu. Saya yang cuma karyawan aja nggak mau naek bis karena khawatir kehujanan di jalan saat turun, takut sepatu Charles & Keith saya basah. Dan khawatir Blackberry saya dicopet orang. Perempuan itu, yang bapaknya pengusaha sukses itu berlalu dengan bis yang tanpa AC persis di depan muka saya.

Saat ngobrol sama saya tadi, si Bapak ini cerita mengenai usahanya. Semua jelas dibangun dari nol. Dengan tangannya sendiri dia melayani semua pelanggan. Saya saksinya. Jangan lupa. saya pelanggan setia sejak SMP dulu. Modalnya nggak terlalu besar kok, katanya, biasa aja. Kalau sekarang counternya sudah dimana-mana, toh berhasil karena ditekuni dengan baik dan mengelola cash flow dengan cara yang benar-benar apik. Nggak merasa perlu punya mobil, cukup naik motor saya, toh kemana-mana sendirian, istri kan di kampung, katanya.

Kemudian beliau berkisah tentang waktu pensiunnya yang semakin dekat. Anak-anak sudah saya kasih bekal untuk masing-masing punya usaha berjualan. Saya sebentar lagi akan pensiun. Tapi saya nggak mau diam saja, saya lagi cari petak-petak tanah kecil untuk buka pangkas rambut. Biayanya nggak besar, tinggal cari orang yang bisa pangkas rambut, bagi dua hasilnya, selesai. Saya nggak perlu belajar mangkas rambut orang kan, katanya. Juga nggak perlu belanja setiap hari seperti usaha makanan. Pangkas rambut memangnya mau belanja apa sih?

Saya terkagum dengan pemikiran sederhananya. Sementara saya sibuk memikirkan usaha apa yang pasti laku dan bikin langsung kaya, bapak ini muncul dengan ide sederhana yang masuk akal.

Anak-anak semua saya bekali untuk memulai usaha, katanya. Termasuk anak-anak perempuan juga Bu, beliau bertutur. Supaya kalau suatu waktu nanti saya bertamu ke rumahnya, saya bisa duduk dengan enak dan tenang. Ga merasa bersalah karena kursinya menantu yang beli. Dibuatkan kopi dan sesekali makan siang pun hati tenang, bukan cuma menantu yang punya andil. tapi anak saya pun ikut punya bagian di rumah itu. Saya sebetulnya sedikit kurang setuju dengan pahamnya. Buat saya menikah itu kan menjadikan semuanya milik bersama, berat amat beban orang tua kalo berpikir seperti itu. Tapi saya mengambil cerita ini dari sisi yang lain. Si bapak pengusaha ini ingin anak-anaknya semua juga bisa punya usaha yang baik dan ga bergantung 100% pada suaminya masing-masing. Ini hebat.

Si bapak kemudian juga bercerita, di kampungnya dia bercocok tanam, cabe rawit, jahe, lengkuas, dll. Supaya nggak usah ke warung dikit-dikit, katanya. Jadi di kampung bisa makan sehari tiga kali tanpa harus keluar uang, keren. Disini, mau ngunyah keripik pedes aja keluar uang belasan ribu 🙂

Ngga cukup segitu, beliau cerita juga kalau mencoba menanam kayu. Sekarang sih bukan apa-apa, katanya. Tapi nanti, 20 tahun mendatang, kalau rumah saya sudah jelek, saya sudah punya bahan kayunya, tinggal cari tukang dan nambah-nambah beli bahan yang kurang.

Saya terkesima.

15 Comments

Filed under Saya, Saya, dan Saya